
Wanita yang kuat adalah mereka yang bisa tersenyum hari ini seolah tadi malam tidak pernah menangis, dia yang berdiri tegap hari ini seolah kemarin tidak pernah patah, dia yang masih bisa bersikap lembut seperti kemarin tidak pernah melewati kerasnya pengkhianatan, dia yang masih tersenyum manis dan merangkul lebih banyak penderitaan orang seolah kemarin tidak pernah melewati gelapnya kehidupan, dia yang kuat mengatakan aku baik-baik saja demi menghentikan pertanyaan. Dan dia yang masih berjalan hingga di hari ini walau dalam kerentanan.
~Kinand
••••••••••••••
Arresha kembali berjalan menuju meja dimana Lissa tengah menunggunya, dia jadi penasaran mengenai hal yang ingin di bicarakan oleh Lissa. Yang Arresha tahu pasti itu adalah hal yang penting hingga membuat Lissa rela merepotkan diri untuk menemuinya di caffe.
" Maaf membuatmu menunggu Nona Lissa." kata Arresha setelah sampai di meja nomor 13, tempat dimana Lissa menunggunya.
" Silahlan duduk Nona Arresha." ujar Lissa sopan mempersilahkan agar Arresha duduk berhadapan dengannya.
Arresha kemudian duduk di depan Lissa. " Eh
mmm... Jadi ada hal apa yang ingin anda bicarakan Nona Lissa?" tanya Arresha yang begitu penasaran karena melihat wajah Lissa yang begitu tegang sedari tadi.
Lissa menghembuskan nafasnya menatap manik Arresha yang terlihat begitu penuh dengan pertanyaan dalam kilatan matanya. Sebenarnya dia juga bingung bagaimana harus berbicara dengan Arresha.
Akhirnya Lissa memilih untuk mengeluarkan sebuah undangan dan menaruhnya di meja tepat di hadapan Arresha. Itu adalah undangan pernikahannya dengan Erros yang seharusnya di kirimkan dua bulan lagi kepada para kerabat dan juga seluruh saudaranya.
Mata Arresha mengikuti gerak tangan Lissa yang mengeluarkan sebuah undangan dengan desain yang terlihat begitu elegan dan mewah. Aresha mengerutkan keningnya, rasa penasarannya semakin besar saat Lissa memberikan undangan itu kepadanya.
Mereka bahkan belum cukup mengenal satu sama lain untuk sekedar mendapat undangan pernikahan yang biasanya hanya di peruntukan kepada keluarga, teman ataupun yang lainnya.
" Silahkan di buka Nona!" pinta Lissa begitu lembut, tatapan matanya membuat Arresha membeku. Perlahan Arresha meraih undangan yang terletak di meja itu, kemudian membuka dan membacanya secara teliti tak ingin melewatkan satu halpun informasi yang ada di dalamnya.
" DeLissa & Erros" membaca nama itu membuat mata Arresha membulat seketika.
Erros? Erros siapa yang ada di undangan ini? Apakah itu adalah Erros -nya? Atau Erros yang lain?!
" Ini?! " tanya Arresha tercekat, dia gagal memahami situasi dan kondisi yang ada saat ini.
" Ya, ini adalah undangan pernikahanku dengan Erros Nona." jelas Lissa membuat wajah Arresha langsung pucat pasi.
" Pernikahan? Dengan Erros?" tanya Arresha sekali lagi, mungkin saja dia salah dengar.
" Erros adalah tunanganku Nona, dan kita akan menikah tiga bulan lagi." jelas Lissa.
Deg!!!!!!
Jawaban Lissa berhasil membuat jantung Arresha terhenti sejenak sebelum kemudian kembali bedetak dengan sangat cepat. Wajahnya pucat pasi seakan tak ada setetes darahpun yang mengalirinya.
" Kami di jodohkan semenjak kami masih kecil karena orang tua kami bersahabat dekat. Aku dan Erros tumbuh besar bersama dan bahkan kami selalu bersekolah di satu sekolahan yang sama." imbuhnya lagi.
Arresha mematung setelah mendengar ucapan Lissa. Benarkah itu? dia tak ingin percaya begitu saja dengan ucapan Lissa. Namun Arresha seakan di paksa untuk mempercayai itu.
Bukankah Erros sendiri yang berjanji dan memintanya untuk menikah dengannya?! Bagaimana bisa dia percaya begitu saja ketika ada seorang wanita yang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah tunangan dari Erros , kekasihnya.
" Aku tahu dia teranjur jatuh cinta kepadamu Nona, aku juga tahu dia telah berjanji untuk menikahimu. Erros sudah menceritakan semuanya kepadaku." tutur Lissa begitu lembut, dia bisa melihat tatapan mata Arresha yang masih tak percaya mendengar ucapannya.
" Dan aku menerimanya.." imbuh Lissa suaranya mulai bergetar karena menahan rasa yang begitu menyesakkan di dadanya, membuat Arresha semakin bingung dengan ucapan Lissa.
" Aku tidak ingin bersaing Nona karena ini masalah hati, yang bahkan tanpa bersaingpun aku sudah kalah olehmu. Aku tidak akan memaksa Erros untuk melanjutkan pernikahannya denganku jika dia tidak benar-benar mencintaiku." ucap Lissa lembut bahkan tanpa emosi sedikitpun saat mengatakan hal itu pada Arresha, suaranya yang bergetar menjadi parau karena tangisnya yang hampir meledak.
Lissa memahami jika Arresha tak mungkin percaya begitu saja dengan ucapannya. Lissa mengambil ponsel miliknya kemudian menunjukkan foto pre-weddingnya dengan Erros untuk membuat Arresha percaya dengan ucapannya..
Mata Arresha yang memerah dan air matanya langsung lolos begitu saja tanpa bisa dia cegah. Kenapa Erros begitu tega padanya? Sebentar lagi dia akan menikah dengan wanita lain dan sekarang dia malah bersikap seolah tak terjadi apapun.
Apa baginya aku adalah wanita simpanan? Atau baginya aku adalah selingkuhannya?! tangis Arresha langsung pecah.
" Aku tidak ingin mengemis dan memaksannya Nona, Erros bukanlah orang yang suka di paksa. Dia selalu melakukan segala sesuatu dengan hatinya dan aku tidak ingin memaksa hatinya." ucap Lissa, air mata yang dia tahan sedari tadi akhirnya menetes juga dari kedua matanya.
" Jika dia memang mencintaimu dan ingin membatalkan pernikahan ini aku ikhlas menerimanya." kata Lissa tertunduk air matanya semakin deras mengalir, bahunya bergetar, hatinya sungguh sakit saat mengatakan itu. Bagaimana dia bisa ikhlas jika dia saja tak tahu apa jadinya dia tanpa ada Erros di sisinya. Bagi Lissa, Erros adalah dunianya.
Wanita seperti apa yang sekarang ada di hadapannya?! keluh Arresha memuji Lissa yang nampak begitu tabah.
Bagaimana Lissa bisa begitu tegar saat pernikahannya bisa saja hancur karena dirinya. Dan bukannya marah kepada Arresha karena telah bermain hati dengan calon suaminya, malah dia masih bisa berbicara dengan begitu lembut padanya. Mengapa Erros bisa begitu kejam pada wanita sebaik ini?!
" Lisanmu memang mampu mengatakan ikhlas Nona, tapi untuk hatimu, benarkah kau mampu untuk mengikhlaskan?" sahut Arresha yang malah membuat air mata Lissa semakin tak mau berhenti mengalir.
Arresha tahu jika Lissa tak akan bisa ikhlas sepenuhnya, dia tumbuh besar bersama dengan Erros, mungkin saja Lissa mencintai Erros semenjak dia masih kecil, dan itu berarti Lissa lah yang jauh lebih lama mencintai Erros. Arresha bisa melihat dengan jelas jika Lissa memang sangat mencintai Erros, dan itu memang terbukti saat Lissa mengatakan dia meng-ikhlaskan Erros, demi kebahagiaan Erros. Cinta yang ia miliki tak akan seberapa jika di bandingkan dengan cinta yang Lissa berikan untuk Erros.
" Aku tahu kau sangat mencintainya Nona, tanpa kau mengatakan itu aku tahu seberapa besar cintamu untuknya." Arresha menyeka air mata yang kini membasahi pipinya.
Dadanya terasa sangat sesak sekarang, dengan kejamnya Erros menempatkan Arresha dalam posisi sehina ini. Arresha bukanlah wanita perebut milik orang lain, dia tahu sakitnya di khianati seperti apa. Hatinya hancur berkeping-keping sekarang.
Aku tak mau berbahagia di atas luka orang lain, batin Arresha.
" Cintaku mungkin tak sebesar cintamu untuknya Nona, aku yang bersalah disini. Maafkan aku karena telah melukai hatimu begitu dalam Nona, andai aku tahu aku tak akan berhubungan sejauh ini dengan Erros. Maafkan aku!" ucap Arresha terisak. Dia tak menyangka telah berbuat dosa begitu besar dan bisa saja menghancurkan pernikahan seorang wanita yang begitu mencintai lelakinya.
Mendengar ucapan Arresha membuat Lissa menggeleng, dia menutup mulutnya rapat-rapat agar isakan tangis itu tak keluar lagi dari mulutnya. Tapi nyatanya percuma, dia tidak bisa menahannya. Rasa sakit itu terlalu menjalar di hatinya, meremasnya sampai batas maksimal membuat Lissa sangat kesakitan.
" Menikahlah dengan Erros Nona, aku yang akan menjauh darinya. Bukan aku yang menang, tapi aku yang tak pantas untuk bersaing denganmu Nona. Kau adalah wanita yang paling tepat untuk Erros, bukan seorang pelayan sepertiku." sambung Arresha menggenggam tangan Lissa dan meremasnya pelan. Hatinya sakit, tapi hati Lissa pasti jauh lebih sakit dari apa yang dia rasakan saat ini.
Bahu Lissa bergetar mendengar ucapan Arresha, tangisnya semakin menjadi. Pantas saja Erros begitu yakin saat mengatakan telah jatuh cinta pada gadis ini. Gadis sebaik inilah yang telah memenangkan hati Erros .
" Aku tidak bisa menikah dengannya Nona, dia mencintaimu dan bukan aku." jawab Lissa.
" Tapi aku tidak akan bisa hidup di atas penderitaanmu Nona, maafkan dosaku yang terlalu besar padamu, ampuni aku Nona Lissa." tangis Arresha, dia berusaha menahannya tapi tak bisa. Rasanya terlalu sakit untuk dia tahan.
Beberapa pengunjung memperhatikan Lissa dan juga Arresha yang kini sama-sama tengah menangis. Mereka jadi penasaran, hal apa yang sudah membuat kedua wanita cantik itu menangis.
Ponsel Lissa yang terus berdering akhirnya menghentikan pembicaraan di antara mereka. Lissa melihat di layar ponselnya sebuah panggilan masuk dari Assisten Jo, membuat keningnya berkerut karena pasti ada suatu hal yang penting.
" Hallo..." salam Lissa setelah menggeser layar ponselnya dan mengangkat panggilan dari Assisten Jo.
" Selamat sore Nona, maaf mengganggu waktu anda. Saya hanya ingin mengabarkan jika Tuan Hilton sudah sadar." jawab Assisten Jo menjelaskan membuat Lissa terkejut.
" Paman sudah sadar?!" sahut Lissa mengulangi ucapan Assisten Jo. " Baiklah aku akan kesana sekarang!" sambungnya lagi, akhirnya Tuan Hilton sudah sadar dan itu pasti bisa sedikit mengurangi beban di pundak Erros.
Lissa mengakhiri sambungan telefonnya setelah Assisten Jo mengucaplan salam. Sementara Arresha hanya diam, ia tak terlalu memperhatikan ketika Lissa menelfon. Arresha sendiri tengah mencoba menarik kekuatan dalam hatinya sampai batas maksimal yang ada.
" Nona Arresha, maaf tapi aku harus pergi sekarang. Mungkin lain waktu kita bisa bertemu lagi." pamit Lissa.
Arresha hanya menganggukan kepalanya perlahan. " Iya Nona, hati-hati di jalan." jawab Arresha.