Because Of The CEO

Because Of The CEO
Jangan Tinggalkan Aku



Mata Aileen terus mencari keberadaan sang suami hingga ia menemukan sosok yang dicarinya, baru saja selesai joging dan akan menyebrang jalan. Seketika Aileen yang melihat tersenyum, namun senyum itu luntur kala ada mobil dari arah berlawanan dengan kecepatan yang tinggi.


"Arman! Awas ada mobil!" teriak Aileen.


Arman yang mendengar suara teriakan langsung menghindar, tetapi nahas laju mobil lebih cepat ketimbang gerakan Arman.


Bruk!


Aileen terperanjat sambil menutup mulutnya.


"Arman!" teriak Aileen sambil berlari.


Saat berada di hadapan sang suami, Aileen melihat darah segar yang mengalir dari kepalanya.


"Arman ... Man," ucap Aileen sambil menggoyangkan tubuh sang suami.


"Arman bangun, Arman!"


"Kamu gak boleh ninggalin aku sendirian! Kenapa saat aku pertama kali jatuh cinta sama seorang cowok, kenapa ... kenapa seperti ini?"


"Arman hiks ... bangun!"


"Kenapa kalian lihatin terus, bukannya tolong bantu bawa ke rumah sakit!" teriak Aileen yang melihat orang-orang hanya terdiam saja.


"Ti ... Tiara," panggil Arman.


"Iya, kenapa? Aku disini," jawab Aileen.


"To-tolong kamu jaga anak-anak kita ya, didik, temani mereka hingga dewasa nanti," ucap Arman.


"Kamu ngomong apa sih, hiks ... kita jaga mereka sama-sama. Kamu gak boleh ninggalin aku sendirian hiks ...."


"A-aku harus pergi, kamu jaga diri baik-baik ya," ucap Arman.


"Kamu akan selalu ada di dalam sini, sampai kapanpun dan tidak akan tergantikan. I love you my wife," lanjutnya sambil menutup mata.


"Enggak ... enggak, Arman bangun! Hiks ... hiks ... kamu gak boleh ninggalin aku, aku sudah mulai suka sama kamu ... aku cinta sama kamu, Man!"


"Arman!" teriak Aileen.


"Arman!"


...🍂 🍂 🍂...


"Arman."


"Arman!"


"Tiara, hai ... bangun," ucap Arman sambil menepuk pipi sang istri.


Aileen yang merasakan pipinya di tepuk, terbangun dari tidurnya dan pertama yang ia lihat adalah sang suami. Aileen langsung memeluk.


Arman yang mendapatkan serangan mendadak di buat heran ada apa dengan istrinya itu.


"Jangan pernah tinggalin aku, aku gak mau sendirian hiks ... tetaplah di sisi aku sampai kapanpun," ucap Aileen sambil menangis.


"Iya, insyaallah, aku tidak akan meninggalkan kamu," jawab Arman sambil mengelus rambut Aileen.


Aileen mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah sang suami.


"Kamu gak kenapa-napa 'kan? Baik-baik saja, enggak ada yang berdarah?" tanya Aileen.


Arman mengerutkan keningnya "Memang aku kenapa? Terus apa yang berdarah?"


Aileen menggelengkan kepalanya dan memeluk lagi tubuh Arman. Dirasa sudah mulai tenang Arman mencoba bertanya, ada apa dengan sang istri.


"Kamu kenapa hum ... sini cerita ya, gak baik loh ibu hamil banyak pikiran," ucap Arman.


"Tadi aku mimpi," jawab Aileen.


"Mimpi apa?"


Aileen menceritakan tentang mimpi nya kepada sang suami, tetapi saat menceritakan ia kembali menangis, dia teringat kejadian yang ada di alam mimpinya.


"Sudah jangan nangis lagi, itukan hanya mimpi," ucap Arman.


"Aku gak mau kehilangan orang yang aku sayangi, aku sudah mulai jatuh cinta sama suamiku sendiri," ucap Aileen.


Seketika Arman terdiam mencerna perkataan sang istri.


"Sebentar, jadi kamu sudah memiliki perasaan yang sama seperti aku?" tanya Arman dan hanya di balas dengan anggukan kepala.


Arman tersenyum "Terima kasih kamu sudah mau membalas perasaan ini. Aku mengira akan bertepuk sebelah tangan karena aku yang tidak pantas berada di sisi kamu."


"Sekali lagi terima kasih sayang, sudah ya jangan nangis lagi. Insyaallah aku akan selalu ada di samping kamu hingga nanti, sekarang kita salat subuh dulu ya," lanjut Arman.


Dari mimpi buruk, aku jadi tahu perasaan istriku sendiri, tetapi kasihan juga kalau begini, batin Arman.