Because Of The CEO

Because Of The CEO
Khawatir Atau Protektif



Alex menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Pak Bosnya itu. Sambil mencari piring, Arman membuang nafasnya dengan perlahan, agar jantungnya bersahabat kembali.


"Jadi dari tadi dia merhatiin aku?" gumam Aileen tanpa ada yang mendengarkan.


"Ini piringnya," ucap Arman memberikan.


Aileen langsung mengambil piring lalu memotong mangga hingga habis. Saat akan mencuci tangan, pergelangan tangannya dipegang oleh Arman.


"Mau kemana?" tanya Arman.


"Cuci tangan, kenapa mau ikut," jawab Aileen dengan sinis.


"Iya, gue anterin,"


"Gak usah, gue bisa sendiri!" seru Aileen.


"Jangan ngeyel deh!"


Arman langsung membantu Aileen untuk ke kamar mandi. Baru saja satu langkah untuk masuk ke dalam, terdengar suara dari Aileen.


"Sudah jangan ikut masuk, tunggu di luar!" cegah Aileen.


"Tap--"ucap Arman terpotong.


"Ke sana!" ketus Aileen sambil mendorong Arman keluar.


Mau tidak mau Arman harus keluar dari kamar mandi dan akan menunggu di depan pintu. Baru saja membuka pintu Aileen sudah di kagetkan dengan sosok cowok, tinggi, berkulit putih, tentunya ganteng, siapa lagi jika bukan Arman.


"Astagfirullah, kenapa di depan pintu?" tanya Aileen.


"Nanti kalau lo kenapa-napa gimana, jadi gue tunggu di depan pintu," jawab Arman.


"Lo itu khawatir atau protektif sih!" seru Aileen.


"Apapun itu!"


...🍂 🍂 🍂...


Pagi ini Aileen terbangun dari tidurnya, karena mendengar suara seseorang yang sedang muntah. Ia melihat ke arah sofa hanya ada Alex dan Abang nya yang sedang tertidur dengan nyenyak, dia baru teringat Arman pernah berbicara dia yang mengalami mual dan mengidam.


"Tuan Arman!" kaget Aileen.


Aileen melangkah ke arah kamar mandi dengan membawa selang infus. Saat sudah di depan pintu dia tidak bisa masuk, karena pintu terkunci.


Tok ... tok ... tok.


"Tuan tidak apa-apa?" tanya Aileen sedikit berteriak.


Tidak lama kemudian.


"Lo gak apa-apa?" tanya Aileen.


Arman menggelengkan kepala. "It's okay, ini sudah biasa."


Arman melihat ke arah Alex yang masih tertidur, dia menghampiri dan membangunkannya.


"Lex!" panggil Arman sambil menggoyangkan lengan sang asisten.


"Hemm," jawab Alex.


"Bangun!"


"Nanti ini masih malam,"


"Malam dari mana! Ini sudah pagi, bangun atau ...," ancam Arman


Alex yang sudah mengetahui sebuah ancaman apa yang akan di berikan kepadanya, dia langsung terbangun dari tidur nyenyaknya.


"Issh ... ganggu saja!" gerutu Alex sambil bangun.


"Kenapa?" lanjutnya


"Tolong beliin udang goreng," jawab Arman.


"Hah ... udang goreng, jam segini dimana Man, jangan ngada-ngada deh!" seru Alex.


"Gak mau tau, pokoknya harus ada!"


"Memang sudah gak mual kalau mencium bau makanan?" tanya Alex.


"Masih, tapi gak tau tiba-tiba gue mau itu sekarang," jawab Arman.


"Benar-benar, semoga nanti anaknya tidak menyebalkan seperti ayahnya!" gumam Alex sambil melangkah.


"Tadi lo bilang apa! Gue nyebelin? siap-siap po--" ucap Arman terhenti, karena Alex yang menutup pintu terlalu keras. Sementara Alex yang sedang di luar menggerutu.


"Potong, potong, potong! Selalu saja ancamannya seperti itu, dasar bos menyebalkan. Itu kan modal nikah gue," geram Alex.


"Kalau mau ngedumel di depannya langsung, jangan di belakang," ucap Dokter Lukas sambil terkekeh.


"Eeh ... pagi Dok," sapa Alex sambil menggaruk tengkuk leher nya yang tidak gatal.


"Gak baik Lex, masih pagi sudah ngedumel saja, oh ya Arman ada kan?" tanya Dokter Lukas


"Ada Dok, masuk saja. Kalau gitu saya pamit mau cari pesanan pak bos," jawab Alex lalu di balas dengan anggukan kepala.


Sebenarnya Lukas sudah mengetahui tentang kejadian yang dialami oleh sahabatnya, karena sudah mendengar cerita dari Alex.