
"Iya gak enak!" ketus Aileen.
"Yang benar?" tanya Arman.
"Hemm ... enggak enak kalau makan sendiri, biar enak itu makan berdua!"
"Bilang saja dari tadi ingin makan berdua, jangan pakai kode-kodean," ucap Arman.
"Kamu nya saja yang gak peka!" seru Aileen.
"Tapi memang sih laki-laki itu selalu gak peka." lanjutnya
...🍂 🍂 🍂...
Sementara Rasya sebelum berangkat ke kantor, ia sedang menikmati secangkir kopi di halaman belakang rumahnya.
"Untung saja gue belum jatuh cinta terlalu dalam, yang pasti akan membuka luka." gumam Rasya.
"Satu sisi gue ingin marah, tapi satu sisi dia pasti curiga kenapa gue semarah itu dan persahabatan kita akan berantakan,"
"Gue tau Arman seperti apa, semoga mereka selalu bersama dan tidak akan menyakiti hati Aileen." lanjutnya
Saat Rasya melihat jam di pergelangan tangan nya seketika dia kaget. "Astagfirullah sudah jam segini, ngomongin orang jadi lupa waktu!"
...🍂 🍂 🍂...
Sejak kemarin Cheryl tidak bisa pulang ke rumah, karena akibat dirinya yang membawa ke sebuah bar dan terjadilah hubungan antara Cheryl dengan sosok laki-laki yang memiliki sifat kejam dan pemarah.
Sebenarnya sosok laki-laki itu memiliki sifat yang baik dan lembut, tapi semenjak kejadian satu tahun ke belakang, istrinya meminta untuk berpisah. Menjadikan dia sosok laki-laki yang berubah 95°.
Seperti pagi ini, Cheryl harus mengurus semua keperluan laki-laki yang baru saja kemarin ia temui.
"Siapkan baju untuk saya ke kantor, beserta jas nya!" seru laki-laki itu sambil melangkah ke kamar mandi, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti kala dia teringat sesuatu.
"Ohya, satu lagi jangan lupa daleman nya, gak mungkin dong gue pake baju, gak pakai daleman." lanjutnya
"Da--daleman?" tanya Cheryl.
"Iya daleman, gak usah saya jelaskan kamu juga tahu apa itu daleman," jawab laki-laki itu.
"Dan dasi nya ada di lemari yang sebelah kanan, warna biru laut."
Huft
Cheryl mengambil semua keperluan laki-laki itu tapi saat dia akan mengambil daleman, ia ragu untuk memegang nya.
"Gimana ini apa gue ambil tapi--" ucap Cheryl terhenti kala terdengar suara barinton dari sosok laki-laki yang sudah mengurung nya.
"Kenapa lama!?" tanya laki-laki itu.
Dengan refleks Cheryl langsung mendekat dan memberikan baju, jas dan dasi tanpa pakaian dalam.
"Ok!" ucap cowok itu mengambil pakaian.
Huft
"Untung gak di lihat," gumam Cheryl.
Tiba-tiba, Cheryl mendengar suara teriakan.
"Pakaian daleman nya mana!" teriak seseorang dari kamar mandi.
"Nah Kan, gue harus cepetan keluar," ucap Cheryl sambil berlari, tapi sayang nya saat akan membuka pintu.
"Mau kemana, masuk!" seru cowok itu.
Cheryl tidak mendengar omongan laki-laki tersebut, baru saja satu langkah.
"Kalau berani melangkah lagi, jangan harap bisa keluar dari rumah ini!" geram laki-laki itu.
Mau tidak mau Cheryl masuk ke dalam kamar yang tidak tahu siapa namanya.
"Ambilkan saya pakaian daleman nya, sekarang!"
Lantaran kesabaran Cheryl yang setipis tisu, ia melepaskan rasa amarahnya.
"Dengar ya! Gue itu gak kenal sama lo, hanya gara-gara kejadian kemarin gue bisa ada di sini. Dan hiks, lo melakukan ... melakukan itu hiks." ucap Cheryl sambil menangis.
"Gue gak mau di sini, sekarang gue mau pulang!" lanjutnya sambil melangkah, tapi langkah nya terhenti kala pergelangan tangan di pegang dengan erat.
"Sakit hiks ... lepas! Lo itu mau apa sebenar nya! Gue sama sekali gak kenal sama lo, Lepas!" teriak Cheryl.
"Kalau Lo tau! Gue itu bukan cewe baik-baik, gue suka pergi ke bar, minum dengan beberapa pria yang ada di sana untuk menghilangkan rasa stres! Tapi gue baru pertama kalinya melakukan hal seperti itu bersama lo!"