
"Sudah ya, sekarang jangan nangis lagi! Nasi sudah menjadi bubur. Kita tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang ok."
"Sekarang kamu tahu siapa cowok itu?"
⏺⚫⚫
Seketika Aileen terdiam saat Ammar menanyakan siapa sosok laki-laki itu, ia hanya bisa menggelengkan kepala.
"Aileen gak tau siapa cowok itu, tapi Aileen tau mukanya," ucap Aileen.
Ammar mengusap wajah nya kasar. Begini nih kalau orang yang cuek, tidak suka kepo dengan sekitarnya, apalagi dekat dengan cowok. ucap Ammar di dalam hati.
Ammar mengeluarkan handphone nya dan menunjukan wajah cowok itu.
"Apa ini?" tanya Ammar.
Aileen membulatkan matanya.
Benar ini orangnya, jadi diam-diam Abang mencari tahu? batin Aileen bertanya-tanya.
"I--iya ini cowoknya, kok abang bisa tahu?" tanya Aileen.
"Kamu tahu, saat kamu bilang kaki keseleo? Abang sama sekali gak percaya. Tanpa menunggu waktu lama, abang langsung mencari tahu dan menelepon Friska. Setelah abang tahu, abang pergi ke hotel dan melihat rekaman CCTV. Jujur Abang marah, tapi sebisa mungkin abang pendam sendiri, karena abang gak mau mengambil kesimpulan dengan keadaan emosi."
Double kill Aileen benar-benar kaget, ternyata Abangnya sudah mencari tahu apa yang terjadi.
"Ja--jadi selama ini Abang sudah tahu yang sebenarnya?" tanya Aileen.
"Abang cuman tahu ada cowok yang masuk ke kamar kamu doang, selebihnya Abang baru tahu tadi. Akan tetapi Abang sudah menduga terjadi hal yang bukan-bukan dan ternyata benar!" jawab Ammar.
"Kenapa saat Abang tahu, gak langsung menanyakan kepada Aileen?"
"Abang ingin kamu jujur tanpa abang paksa untuk menceritakan. Abang belum bertemu dengan orang nya, dia sedang ke luar negeri melakukan perjalanan bisnis,"
"Kenapa Abang bisa tahu, apa jangan-jangan Abang ce--" ucap Aileen terpotong.
Tak!
Ammar menyentil kening Aileen, karena ia tahu pasti adiknya ini sudah berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh deh!" seru Ammar.
...🍂 🍂 🍂...
Di lain tempat Arman yang sedang mengerjakan dokumen, tiba-tiba teringat dengan perempuan yang belum sempat ia temui.
"Kenapa gue tiba-tiba ingat Aileen!" gumam Arman.
"Ayoo Man, lo harus fokus dulu sama pekerjaan, setelah itu bisa pulang dan gue harus bertanggung jawab apa yang gue perbuat."
"Akan tetapi bagaimana reaksi dia saat bertemu, emang dia mau bertemu gue dan apa bisa mendapatkan maaf darinya. Aahh ... sudahlah fokus dulu!"
Lima menit kemudian, Arman benar-benar tidak bisa fokus bekerja. Entah mengapa wajah Aileen saat menangis selalu teringat di pikirannya.
"Astagfirullah, ke--" ucap Arman terpotong karena ada yang membuka pintu.
Ceklek!
"Lo, kalau masuk bisa gak sih ketuk pintu dulu, ini bukan di rumah!" kesal Arman.
"Sabar-sabar, ada apa gerangan seperti kesal begitu?"
Huft!
"Bisa dipercepat tidak pulang ke Indonesia?" tanya balik Arman.
Alex mengangkat alisnya satu, pertanda ia bingung mengapa sang atasan tiba-tiba ingin dipercepat kepulangannya.
"Tidak bisa, kita belum selesai di sini. Memang kenapa tumben sekali, tidak seperti biasanya." Ucap Alex.
"Gue gak fokus, tiba-tiba ingat Aileen. Gue benar-benar merasa bersalah banget, seandainya bisa menahan diri tidak akan terjadi seperti itu!" sesal Arman.
"Sudahlah ... itu sudah terjadi yang terpenting, Pak Bos mau bertanggung jawab," ucap Alex.
"Tetap saja, rasa bersalah ini masih ada!"