Because Of The CEO

Because Of The CEO
Jalan-jalan



Untuk kali ini, yang mengendarai mobil Arman sendiri di temani sang istri, di sampingnya.


"Ti ... kamu sudah tahu tentang aku apa saja?" tanya Arman.


Aileen mengangkat bahunya dengan acuh.


"Kamu gak tahu tentang aku?"


"Enggak, untuk apa mencari tahu kehidupan orang lain yang tidak ada kaitannya dengan Aileen? Aku itu memang gak pernah kepoin hidup orang. Apalagi semenjak kedua orang tuaku gak ada, aku selalu sibuk dengan kantor," jawab Aileen yang sedikit sedih.


"Maaf gara-gara aku, kamu jadi mengingatnya lagi," ucap Arman.


"No problem, aku juga sudah ikhlas menerima semuanya. Ya, meskipun terkadang ada satu titik merasakan sedih kembali," ucap Aileen.


"Sekarang harus bahagia terus ok ... kalau suatu saat kamu ingin berbagi cerita, aku siap mendengarkan dan bahu ini siap menerima sandaran."


Aileen tersenyum. "Thanks."


Ternyata benar apa kata bang Ammar. Tadi saja Tiara sama sekali tidak tahu tentang gue batin Arman.


Tidak lama kemudian akhirnya mereka tiba di sebuah mal. Aileen dan Arman hanya menelusuri toko pakaian, sepatu, jam tangan, tas dan lain sebagainya yang bermerek tanpa ada niatan untuk membeli.


"Gak ada yang mau kamu beli?" tanya Arman.


"Eemm ... enggak ada, di rumah juga masih bagus-bagus kok," jawab Aileen.


"Kalau gitu ikut, aku yuk, aku mau memberikan sesuatu."


"Apa?" tanya Aileen.


"Surprise dong!"


Arman memegang tangan sang istri, untuk membawanya ke sebuah toko. Setelah melewati beberapa toko, akhirnya mereka sampai di toko yang Arman tuju.


"Siapa yang mau beli perhiasan?" tanya Aileen.


"Kamu, pilih saja yang kamu suka," jawab Arman.


"Tapi aku gak pernah pakai perhiasan!"


"Simpan saja kalau gak mau di pakai."


Lebih baik gak usah beli, kalau ujung-ujungnya disimpan batin Aileen.


"Biar aku yang pilihin," ucap Arman.


Arman melihat-lihat kalung yang cocok untuk sang istri dan ia jatuh hati pada kalung yang terlihat mewah tetapi simple.


Arman meminta pelayan untuk mengambilkan kalung yang ia mau, setelah ada di hadapannya, Arman memasangkan kepada Aileen.


"Cantik sekali, apalagi dipakai oleh istriku ini," ucap Arman sambil tersenyum.


Blus ....


Seketika pipi Aileen memerah seperti buah tomat yang baru saja matang.


"Haha ... kenapa pipinya jadi merah?" tanya Arman.


"Issh ... ini blush on!" pekik Aileen.


"Iya deh aku percaya, jangan pernah dilepas ya," ucap Arman dan dibalas dengan anggukan sambil tersenyum.


Terimakasih My Husband Ucap Aileen di dalam hati.


Usai dari toko perhiasan mereka akan mengisi perut terlebih dahulu, karena sudah memasuki jam makan siang.


Di sebuah restoran Aileen yang melihat semua makanan di buku menu terlihat menggiurkan, tetapi dia tidak mungkin memesan semuanya, karena tidak akan termakan juga. Arman yang melihat Aileen tidak kunjung memesan makanan, segera menanyakan.


"Gak ada yang disuka makanannya?" tanya Arman.


"Semuanya suka, tapi bingung mau pesan yang mana," jawab Aileen.


"Ya sudah pesan semuanya saja," ucap Arman dengan santai nya.


"Hah ... yang benar saja, kita cuman berdua gak akan habis. Lagian nih ya, jangan membuang-buang makanan!" pekik Aileen.


"Sudahlah pilihin saja nih!" lanjutnya sambil memberikan buku menu.


"Yakin mau aku yang pesan?"


"Iya, tapi ingat jangan semua makanan."


Akhirnya Arman memesan makanan untuk dirinya dan juga sang istri, tetapi dia tidak memesan semua makanan, hanya beberapa makanan pembuka dan penutup serta tidak lupa minumnya.