
Aileen menuju gazebo untuk menghampiri sang suami yang sedang bersantai.
"Arman, ini dimakan dulu," ucap Aileen sambil memberikan nampan.
"Terima kasih, kamu sudah makannya?" tanya Arman.
"Belum," jawab Aileen dengan jujur
"Kenapa gak makan?"
"Kamu dulu saja, setelah itu aku."
"Kalau gitu, kita makan satu piring berdua." pinta Arman.
"Gak usah, nanti kamu gak kenyang," jawab Aileen.
"Aku selalu kenyang, kalau makan berdua bersama istriku yang cantik ini."
"Gombal!"
Selesai dengan makan satu piring berdua, Aileen ingin mengetahui tentang Arman meskipun ia sudah mengetahui tapi Aileen ingin mendengar langsung dari sang suami.
"Ohya, yang tadi adik kamu kan?" tanya Aileen.
"Iya, kenapa? Cemburu ya tadi aku di peluk sama Retha?" tanya Arman sambil menaik turunkan alis nya.
Plak!
Aileen memukul lengan Arman. "Siapa juga yang cemburu, sama adik sendiri harus cemburu."
"Kamu gak ada niatan buat cerita tentang adik kamu gitu, seperti yang aku bilang sebelumnya aku sama sekali gak tau apa-apa tentang kamu." lanjut Aileen.
"Kamu mau tahu tentang aku mulai dari mana?" tanya Arman.
"Semuanya tanpa ada yang terlewatkan," jawab Aileen.
Meskipun Aileen sudah mengetahui tentang Arman dan keluarganya dia ingin mendengarkan langsung dari sang suami.
"Kamu tau kata orang, aku ini sangat irit bicara dan dingin. Tetapi nyatanya tidak seperti itu, entah mengapa saat aku pertama kali bertemu dengan kamu, aku tidak menunjukan sikap seperti itu," ucap Arman.
"Kalau kamu tanya kenapa, aku jawab tidak tahu. Bukan karena kamu seorang CEO yang menduduki peringkat pertama tapi hati dan pikiran ini tidak sejalan dengan sikap aku yang selalu seperti itu," lanjutnya.
"Seperti nya ada yang belum kamu ceritain," ucap Aileen.
Arman berfikir sejenak apa yang belum ia ceritakan kepada sang istrinya.
"Memang apa yang belum aku ceritain?" tanya Arman.
"Cheryl." jawab Aileen to the point.
"Hah ... untuk apa aku ceritain orang itu!" seru Arman.
"Jadi aku gak boleh tahu tentang Cheryl?" tanya Aileen.
"Bukan nya gak boleh, ya sudah aku ceritain," pasrah Arman.
"Aku juga gak tahu persis seperti apa orang itu, yang jelas aku gak suka kalau dia nempel-nempel. Cicak itu menghalalkan berbagai cara agar bisa mendapatkan aku, salah satunya dengan cara seperti kemarin. Namun jika suatu saat mengganggu keluarga kecilku, tidak akan aku biarkan lagi," ucap Arman.
"Sekarang giliran aku yang tanya sama kamu," lanjut Arman.
"Hemm ... apa?" tanya Aileen.
"Kamu sebelumnya pernah dekat atau pacaran sama siapa?" tanya Arman.
"Pernah pacaran dan dekat, tapi hanya lima orang," jawab Aileen dengan santai nya.
"Hah ... tadi kamu bilang apa, hanya? Ngapain saja? Terus siapa cowok-cowok itu? Gak ngelakuin apapun kan? Terus sekarang masih berhubungan?" tanya Arman beruntun.
"Aku gak melakukan apapun. Memang nya kamu apa! Gak kenal malah masuk-masuk saja! Tapi hanya satu macem sih," ucap Aileen menggantung sambil tersenyum smirk.
"Satu macam apa?"
Aileen menunjukan ke arah bibir nya. "Hanya ini."
Arman langsung membulatkan mata nya dan rahang nya mengeras, ia mendekatkan wajah nya kepada sang istri
CUP.
Seketika pipi Aileen menjadi merah.
"Arman!" teriak Aileen.