Because Of The CEO

Because Of The CEO
Memasak Sarapan



Aileen yang mendengar suara adzan subuh berkumandang, ia membuka matanya dan masih melihat langit-langit kamar.


Di lihat ke sisi kanan, ternyata Arman masih tertidur dengan pulas.


"Arman," panggil Aileen sambil menggoyangkan tangan suaminya.


"Man, bangun!"


"Hemm ...." dehem Arman.


"Bangun, ayo sholat dulu."


"Bentar."


"Bangun ihh!"


"Iya ... iya pagi-pagi sudah bawel lagi saja," ucap Arman sambil bersender di head board kasur.


"Iss ... sudah bagus di bangunin biar salat berjemaah, yasudah kalau gak mau aku salat sendiri saja," ucap Aileen sambil beranjak dari kasur, tapi sebelum berjalan Arman sudah menarik tangan sang istri.


"Iya maaf, kita salat berjemaah ya," ucap Arman.


Aileen tidak menjawab ucapan suaminya, dia langsung melepaskan genggaman tangannya dan langsung menuju kamar mandi.


...🍂 🍂 🍂...


Seperti biasa Aileen selalu menemani Arman yang berada di kamar mandi, karena rasa mual yang masih berlanjut. Selesai dengan menemani Arman di kamar mandi, Aileen bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya, sang suami dan juga bang Ammar.


Meskipun ada bibi tapi Aileen ingin membuatkan sarapan untuk orang di rumah, sebelum nanti Aileen dan Arman akan mengunjungi rumah mama Alice.


"Ok ... kita buat dulu pesanan my husband, yaitu telur mata sapi dengan roti," kata Aileen.


Saat Bi Asri melihat Aileen yang sedang membuat sarapan ia langsung menghampiri.


"Non ... mau Bibi bantu?" tanya Bi Asri.


"Tidak usah Bi, gak banyak kok," jawab Aileen.


"Gak apa-apa Bibi bantu ya, biar non gak kelelahan juga."


"Ya sudah deh, Bibi tolong masukan ini ke dalam piring dan nanti letakkan di meja makan."


"Baik Non."


Tidak lupa Aileen akan membuat susu ibu hamil untuk dirinya. Saat sedang membuat susu tiba-tiba tangan kekar melingkar di perutnya sambil mengelus-ngelus.


"Astagfirullah, kebiasaan ngagetin!" seru Aileen.


"Aku juga mau dong susu ibu hamilnya." ucap Arman dengan manja.


"Ya enggak lah ... tapi aku ingin," jawab Arman dengan wajah memelas.


"Jadi cerita nya kamu ngidam?"


"Bisa di bilang seperti itu."


"Ya sudah lepas dulu, gimana mau bikin kalau di peluk terus!"


"Gak mau!"


Ternyata dari kejauhan ada yang melihat interaksi antara pasangan suami istri ini, siapa lagi kalau bukan Ammar. Dia sangat senang sekali, ternyata perlahan sang adik sudah menerima Arman.


"Ehem ..." dehem Ammar yang menghampiri. "Enak ya pagi-pagi sudah mesra-mesraan," lanjutnya.


"Sirik saja yang jomblo!" seru Aileen.


"Enggak sirik tuh," ucap Ammar sambil duduk dan mengambil sarapan.


"Lepas dulu Man, mau bawa ini ke meja," ucap Aileen.


"Sini biar aku saja," kata Arman mengambil nampan.


Usai dengan sarapan, Arman dan Aileen akan bersiap-siap untuk menuju kediaman Addison. Arman yang baru saja selesai mandi, melihat sang istri menggunakan baju yang menurutnya pendek.


"Kamu pakai baju itu?" tanya Arman.


"Iya, memang kenapa? Gak bagus ya?" tanya balik Aileen.


"Ganti, jangan pakai itu terlalu pendek," jawab Arman.


Aileen melihat ke arah bawahnya dan.


"Ini masih panjang, cuman sampai bawah lutut," ucap Aileen.


"Tetap saja pendek, ganti atau pakai celana yang panjang!" seru Arman.


Karena Aileen tidak mau berganti baju lagi, mau tidak mau ia memilih opsi kedua.


"Iya ... iya aku pakai celana yang panjang," keluh Aileen pasrah.


...🍂 🍂 🍂...


Di kediaman Addison sudah ada seorang perempuan yang sedang menunggu kedatangan seseorang yang sangat posesif, tegas dan jahil.


"Gak kangen apa satu tahun gak ketemu, apa jangan-jangan gak menganggap aku lagi ..."