Because Of The CEO

Because Of The CEO
Cicak



Cheryl yang diizinkan untuk keluar, ia sedang berjalan-jalan ke sebuah mall. Tetapi sebelum belanja Cheryl akan mengisi perutnya, karena tadi pagi dia tidak mood untuk makan.


Baru saja tiba di sebuah restoran dan akan mencari tempat duduk, matanya tertuju kepada seseorang yang sedang makan lalu ia langsung menghampiri.


"Arman!" panggil Cheryl.


Arman yang merasa dipanggil menengok ke sebelah dan betapa kagetnya, tiba-tiba ada sosok perempuan yang sudah membuat kesalahan terbesar terhadap dirinya.


Kenapa selalu ada di mana-mana batin Arman.


Sementara Aileen yang asik dengan makanannya seketika terhenti dan memperhatikan cewek yang baru saja ia lihat tanpa menyapa atau menegurnya.


"Jangan deket-deket!" seru Arman.


"Gue kangen banget sama, lo," ucap Cheryl sambil memegang tangan Arman.


"Lepas gak!" geram Arman.


"Ayolah,Man. Beberapa hari ini kita gak ketemu. Lo, gak kangen apa?"


Nempel-nempel kaya cicak gak lihat apa di depan ada istrinya. Sabar Leen kita lihat sejauh mana cicak ini ucap Aileen di dalam hati.


"Keberanian lo tinggi juga, ya. Setelah memasukan obat ke dalam minuman gue dan tanpa rasa bersalah tiba-tiba muncul di hadapan gue!" pekik Arman.


Deg!


Seketika Cheryl kaget dengan ucapan Arman, dari mana dia tahu tentang itu semua batinnya bertanya-tanya.


"O--obat? Siapa yang sudah menaruh obat ke minuman, lo?" tanya Cheryl dengan gugup.


Jadi ini orang yang sudah memasukan obat pada minuman Arman. Bener-bener ya! Yang kena imbas nya gue lagi. Cantik-cantik pikirannya hanya dipakai setengah, batin Aileen.


"Lo!"


"Gue, kapan menaruh obat di minuman lo? Terus dimana lagi?"


"Jadi, lo gak tahu! Sini biar gue yang kasih tahu dengan sekelas-jelasnya!" geram Arman.


"Gue kasih tau sama lo. Beberapa bulan yang lalu, lo datang ke pesta lalu menaruh obat di minuman dan meminta pelayan yang di tempat itu untuk memberikan minumannya ke gue," ucap Arman dengan perlahan agar cewek di hadapannya paham.


"Gue gak pernah datang ke pesta!" elak Cheryl.


"Percuma bohong gue punya buktinya, ingat jangan pernah ganggu gue lagi kapanpun," ucap Arman sambil menarik tangannya.


"Sayang kita pulang sekarang ya," lanjutnya.


Sayang batin Cheryl.


Cheryl baru menyadari ternyata sedari tadi ada cewek di depannya dan mungkin itu istrinya Arman seperti itulah pikiran Cheryl saat ini.


"Ayo, aku sudah gak mood buat makan!" ajak Arman sambil memegang tangan Aileen.


Tanpa berbicara lagi Aileen berdiri dan meninggalkan meja, lantaran ia sudah di tarik oleh Arman. Cheryl yang ditinggalkan sendirian hanya bisa berdiam diri, saat akan beranjak dari meja seorang pelayan menghampiri.


"Maaf Mbak sebelum pergi mohon bayar terlebih dahulu," ucap pelayan itu.


"Tapi saya belum pesan apa-apa," pekik Cheryl.


"Tempat yang Mbak duduki belum membayar, mohon bayar dulu."


"What!"


...🍂 🍂 🍂...


"Gimana tadi dipegang sama cicak?" tanya Aileen.


"Hah cicak dimana?" tanya balik Arman.


"Tadi yang nempel-nempel kaya cicak," jawab Aileen.


Arman yang mengerti arah pembicaraan ini tersenyum smirk.


"Cemburu nih?" tanya Arman sambil menaik turunkan alisnya.


Aileen tersenyum. "Cemburu? Mohon maaf saya tidak cemburu!"


"Terus kenapa kaya gak suka gitu, aku di pegang sama cewek, heem ...."


Cewek mana yang suka pasangannya di pegang cewek lain, apa lagi ada yang deketin batin Aileen.


"Kenapa ngomongnya formal sih?" tanya Arman sambil memegang tangan istrinya.


"Diam. Jangan pegang-pegang!" ketus Aileen.


"Cepat jalannya! Aku ingin pulang," lanjutnya sambil meninggalkan Arman.


"Bumil kalau lagi cemburu lucu juga."