
Waktu terus berputar, tidak terasa sudah satu bulan lebih dari kejadian itu. Aileen tidak pernah mengingatnya lagi, ataupun bertemu dengan Arman. Dia menjalankan hari-hari seperti biasa dengan jadwal yang padat.
Berbeda dengan Arman, semenjak pulang dari luar negeri, ia sudah tumbang. Badannya sangat lemas dan perut seperti diaduk-aduk, dia hanya bisa berbaring saja di kasurnya.
Pagi ini Arman merasa bosan berdiam diri di kamar, dia keluar dan akan sarapan dengan yang lain. Tetapi, baru saja mencium aroma masakan yang tidak enak menurut dirinya, dia langsung lari ke arah kamar mandi yang tidak jauh dari tempatnya berada.
"Hoek ... hoek ... hoek."
Arman memuntahkan semua isi yang ada di dalam perutnya. Mama Alice yang mendengar suara seseorang yang sedang muntah, langsung mencari sumber suara itu dan ternyata anak sulungnya yang sedang di kamar mandi.
"Arman!" panggil mama Alice.
"Jangan ke sini, Ma, hoek," ucap Arman, tetapi Mama Alice tidak mendengarkan ucapan anaknya melainkan membantu memijat tengkuk leher.
Setelah dirasa cukup, Arman langsung dibawa Mama Alice ke kamarnya lalu segera memanggil dokter keluarga.
"Kamu kenapa sih Man? Mama lihat-lihat sepulang dari perjalanan bisnis, kamu mual-mual terus. Mama takut kenapa-napa, jadi Mama sudah panggil dokter buat datang ke sini," ucap mama Alice.
Arman hanya bisa pasrah saja karena dia juga merasa aneh dengan badannya. Kalaupun masuk angin mungkin satu hari, tetapi ini sudah lebih begitulah batinnya.
"Mari, Dok, silahkan masuk," ucap Papah Arya yang tiba-tiba datang.
"Silahkan, Dok," ucap Mama Alice mempersilahkan.
Saat Dokter Kevin memeriksa Arman, semuanya terlihat baik-baik saja, bagus tidak ada yang perlu dikhawatir kan. Namun, ada satu kejanggalan saat mendengar Arman selalu mual, perutnya seperti diaduk-aduk.
Tuan Arman belum menikah'kan? Tapi, mengapa semua jawaban mengarah ke situ. Ucap dokter Kevin di dalam hati.
"Bagaimana, Dok, Arman sakit apa?" tanya Mama Alice.
"Maaf sebelumnya saya ingin bertanya, apa Tuan Arman belum menikah?" tanya balik dokter Kevin.
"Begini, Tuan, kalau saya periksa semuanya baik-baik saja, tapi ada kemungkinan bahwa Tuan Arman mengalami couvade syndrome yaitu dimana calon ayah ikut merasakan gejala yang dialami ibu hamil pada umumnya, seperti mual, muntah, mengidam dan lain sebagainya. Dan besar kemungkinan calon ibu tidak mengalami apa pun." ucap Dokter Kevin.
Papah Arya, Mama Alice dan Arman sangat kaget mendengar penuturan dari dokter keluarganya.
Jadi dia hamil anak gue, tapi kenapa bisa secepat ini? batin Arman.
"Jadi maksud dokter, Arman akan punya anak?" tanya Mama Alice.
"Betul."
"Coba, Dok, periksa saya sekali lagi, mungkin hanya kelelahan saja," ucap Arman.
"Tidak ada yang salah, semua benar. Untuk lebih jelasnya bisa kita cek ke dokter kandungan dengan membawa calon ibu," jawab Dokter Kevin.
"Ini resep untuk menghilangkan rasa mual dan hanya bersifat sementara saja," lanjut Dokter Kevin memberikan resep obat.
"Iy-iya, terima kasih, Dok," ucap Arman.
"Kalau begitu saya permisi, masih ada pekerjaan di rumah sakit," pamit Dokter Kevin.
"Mari, saya antar," ucap Papah Arya.
Sementara di kamar hanya ada Mama Alice dan Arman, mereka masih sama-sama terdiam.
"Jawab dengan jujur, kamu sudah menghamili siapa?" tanya Mama Alice.
"Arman ...."