
Sementara itu di kantor, tepatnya ruangan meeting. Friska yang tidak melihat sang atasan kembali lagi, menjadi khawatir dan pada saat menelepon tidak ada tanda-tanda akan di jawab.
"Issh, gak di jawab lagi," ucap Friska.
"Biar saya saja yang menelepon Tuan Arman," ucap Alex.
Alex mencoba menelepon Arman, tapi bukan suara Arman yang mengangkat, melainkan suara sambungan terputus.
"Bagaimana?" tanya Friska dan di balas dengan gelengan kepala oleh Alex.
Friska yang melihat menghembuskan nafasnya kasar.
...🍂 🍂 🍂...
"Tadi lo pendarahan," jawab Arman.
"Pe-pendarahan, maksudnya?" bingung Aileen.
"Lo lagi hamil anak gue."
Seketika Aileen membulatkan matanya. Kenapa? Kenapa bisa batin Aileen.
"Gak mungkin," gumam Aileen.
Aileen berfikir dia selalu meminum pil KB tapi kenapa bisa? Cukup lama Aileen terdiam dan dia baru teringat beberapa minggu kebelakang ini ia sibuk sampai lupa tidak meminum obat itu.
"Hiks ... hiks ... bo*** Aileen, kenapa kamu lupa minum pil KB nya!" seru Aileen sambil menarik rambut nya.
"Hiks ... hiks ...."
Arman yang melihat Aileen seperti itu langsung memeluk nya.
"Tenang, lo gak boleh kaya gini, itu sudah takdir yang di tentukan Allah," ucap Arman sambil mengelus punggung Aileen.
"Ini semua gara-gara lo! Seandainya lo gak tiba-tiba ada di kamar gue, gak mungkin terjadi hal seperti itu dan sekarang hiks ... hiks,"ucap Aileen sambil memukul dada bidang milik Arman.
Arman yang mendapat pukulan dari Aileen tidak mempermasalahkan seberapa keras ia memukulnya,karena ini pantas di dapatkan Arman, bahkan bisa lebih dari ini.
Dirasa sudah cukup tenang dan hanya ada isakan kecil saja Arman melepas pelukannya dan dia memegang tangan Aileen.
"Maaf, awal dari pertemuan kita yang tidak baik, maaf telah merusak mu, maaf telah membuat mu seperti ini. Kalau bisa waktu di putar kembali, gue tidak akan melakukan hal seperti itu. Mungkin kata maaf saja tidak cukup bagi lo, tapi gue akan tetap mempertanggung jawabkan apa yang telah gue perbuat," ucap Arman dengan penuh keyakinan.
"Secepatnya gue akan menikahkan lo, kalau lo benci sama gue gak masalah, tapi gue mohon demi anak kita dia pasti akan membutuhkan kedua orang tua nya." lanjutnya
"***-" ucap Arman terpotong.
"Lo dimana sih?" tanya Alex.
"Di rumah sakit," jawab Arman.
"Lo kenapa, apa jangan-jangan sudah terjadi sesuatu sama kalian?"
"Dia tadi pendarahan"
"Maksud nya, bu Aileen pendarahan?" tanya Alex.
"Ya terus siapa lagi, gue?!"
"Gue ke sana sekarang!"
Tut ... panggilan terputus
"Main matiin saja!" Seru Arman.
Arman melihat ke arah Aileen yang sedari tadi diam. Ia mencoba untuk menghampiri dan akan memberikan minum.
"Minum dulu ya," ucap Arman sambil memberikan gelas
Aileen hanya terdiam saja, menatap kosong ke depan. Dalam benaknya berpikir tidak ada lagi harapan, rasa bingung yang menyelimuti hatinya memikirkan bagaimana jika sang abang mengetahui.
"Kalau gitu makan saja ya," ucap Arman yang terus berusaha, tapi semua itu Aileen tolak dengan menjauhkan piring.
Sebenar nya Arman yang mencium bau masakan sudah mual tapi dia harus bisa menahannya.
"Makan saja sedikit, gue mohon. Lo pasti gak tega dong, membiarkan dia ke laparan di dalam sana," ucap Arman.
"Tolong, jangan egois di dalam sini ada yang membutuhkan asupan," tambah nya.
"Ay-" Arman langsung berlari ke arah kamar mandi, karena tidak bisa menahan nya lagi.
"Hoek ... hoek ... hoek."
Aileen yang mendengar Arman muntah, di buat bingung, karena sedari tadi tidak melakukan apapun, hanya memegang piring saja tetapi mengapa bisa mual? Begitulah kira-kira pikiran Aileen.