Because Of The CEO

Because Of The CEO
Amarah Ammar



Ammar yang sedang di luar langsung menuju rumah sakit, karena ia mendapatkan telepon dari asisten adiknya, bahwa Aileen sedang di rumah sakit akibat pendarahan.


"Assalamu’alaikum," ucap Ammar.


"Waalaikumsalam,"


"Abang!" kaget Aileen.


"Kamu gak kenapa-napa kan? Mana yang sakit? Tadi kata Friska kamu pendarahan, memang kamu kenapa bisa pendarahan?" tanya Ammar dengan panik nya.


"Aileen sudah tidak sakit, tadi hanya terpeleset di kantor," jawab Aileen.


"Terpeleset, kok bisa pendarahan?"


"Eemm ... itu A--Aileen,"


"Friska, kenapa Aileen bisa pendarahan?" tanya Ammar.


Ammar yang tidak mendapatkan jawaban dari Aileen dan Friska melihat ke sekelilingnya dan matanya tertuju pada sosok yang dia tunggu-tunggu.


"Lo!" seru Ammar sambil mendekat dan.


Bugh!


Arman yang mendapatkan serangan mendadak dari Ammar langsung terjatuh ke lantai.


"Abang," ucap Aileen sedikit berteriak.


Arman tidak membalas sama sekali, ia memang pantas mendapatkan pukulan dari Abangnya Aileen.


"Apakah lo pantas di sebut sebagai CEO, yang sudah merusak adik gue? Lo sebelum melakukan hal seperti itu pikir dulu bagaimana perasaan Aileen dan bagaimana ke depannya!" ucap Ammar dengan amarah yang memuncak.


" Lo enak cowok tidak akan berbekas sama sekali sedangkan adek gue, cewek dan pasti akan berbekas. Kenapa lo melakukan hal seperti itu, Apa salah Aileen sama lo?"


"Sekarang ikut gue!" lanjut nya sambil menarik Arman.


"Abang mau bawa dia kemana?" tanya Aileen sambil turun dari hospital bed.


"Kamu tunggu di sini, Abang cuman mau ngobrol doang," jawab Ammar.


"Aileen ikut!"


"Engga, kamu tunggu!"


Aileen terus memaksa Abangnya agar di izinkan untuk ikut, ia takut Ammar melakukan hal lebih karena sedang emosi.


Huft!


"Iya iya Abang di sini saja," pasrah Ammar.


Ammar memutar bola mata nya malas, sedang seperti ini saja bilang ganteng begitulah batin Ammar.


"Kamu mau di kasur apa di sofa?" tanya Ammar.


"Hemm ... Aileen ikut di sofa," jawab Aileen.


"Sini Leen, biar aku bantu," ucap Friska dan di balas dengan anggukan.


"Ceritakan kenapa bisa lo masuk ke kamar Aileen?" tanya Ammar.


"Saat itu ...."


Arman menceritakan awal kejadian hingga selesai dan tidak ada yang di kurangi ataupun di lebihkan.


"Apa bukti nya kalau minuman lo di masukkan obat?" tanya Ammar.


"Ini ada bukti berupa rekaman CCTV," jawab Alex sambil memberikan laptop.


Siapa cewek ini?" tanya Ammar sambil melihat rekaman CCTV.


"Dia, ulat bulu yang ambisi terhadap Arman," jawab Alex.


Ammar, Aileen dan Friska melihat semua rekaman CCTV termasuk Arman yang di bawa oleh dua preman menuju hotel.


"Mangkanya jangan jadi orang ganteng ujung-ujung nya banyak yang ngincar!" Seru Ammar.


"Sirik saja yang gak ganteng," pekik Aileen.


"Sebelumnya saya pribadi mohon maaf, sudah melakukan yang seharusnya tidak saya lakukan kepada Aileen. Saya meminta izin dan meminta restu untuk menikahi Aileen secepatnya, karena sekarang dia tengah mengandung," ucap Arman.


Ammar yang mendengar adiknya tengah mengandung membulatkan mata.


"Aileen ... kamu?" tanya Ammar.


"Iya Bang, maaf, Aileen juga baru tahu tadi," jawab Aileen.


"Kenapa cepat banget jadinya!" gumam Ammar.


Huft ...


"Gue izinkan dan memberi restu jika, Aileen menerima lo. Asal dengan satu syarat, jangan membuat dia sedih," ucap Ammar.


"Jadi bagaimana Aileen?" lanjutnya.


"Aileen-" ucap Aileen.