Because Of The CEO

Because Of The CEO
Lihat Bidadari



"Terus siapa Ayah nya?" tanya Naila.


"Aku lupa deh kayaknya gak minum," jawab Aileen


"Emm, Ayah nya ..." lanjutnya


⏺⚫⚫


Aileen langsung menunjuk Arman yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Mereka kaget saat mengetahui Ayah dari anak yang di kandungan Aileen, yaitu Arman Fareel Addison sekaligus CEO Addison Company. Olivia mendekat dan memukul dengan tas nya, dia benar-benar tidak peduli mau siapa orangnya itu yang jelas telah menghancurkan sahabat nya.


Bugh! Bugh!


"Dasar! Ternyata laki-laki itu Anda, yang sudah melakukan perbuatan tidak baik, terhadap sahabat kita," hardik Olivia.


"Aduh ... aduh!"


"Hahaha ... terus, pukul terus!" seru Ammar sambil tertawa lepas.


Melihat kelakukan sahabatnya yang barbar, Aileen langsung menghentikan karena tidak tega juga sedari tadi Arman di pukuli.


"Liv, sudah jangan di pukuli terus," cegah Aileen.


Seketika Olivia berhenti memukul. "Sorry, itu tidak sebanding apa yang Tuan Arman perbuat!"


Benar-benar cewe barbar, ucap Arman di dalam hati.


"Hahaha ... gimana? Enakan tiba-tiba di serang," ledek Ammar yang masih tertawa.


Arman menghembuskan nafas nya kasar.


"Kapan Tuan Arman akan bertanggung jawab?" tanya Kiran.


"Secepatnya," jawab Arman.


"Memang Aileen mau?" tanya Olivia.


"Coba tanya saja Aileen," jawab Arman.


"Jadi bagaimana Leen, kamu terima?" tanya Olivia.


"Aku--" ucap Aileen terpotong saat pintunya terbuka.


"Man ... ini pes--" kata Alex terhenti saat melihat ada sahabat Aileen yang sedang berkunjung.


"Eeh ... sorry, Man ini mangga nya," lanjutnya sambil memberikan bungkusan mangga dan makanan yang lain.


"Jadi bagaimana?" tanya Olivia melanjutkan obrolan yang tertunda.


"Aku menerimanya, aku gak mau egois mementingkan diriku sendiri. Anak ini tidak bersalah, dia pasti membutuhkan figur seorang ayah," jawab Aileen.


"Baiklah kalau memang itu keputusan kamu, kita selalu mendukung. Tuan Arman tolong jaga sahabat kita dengan baik dan sampai terjadi apa-apa sama Aileen, kita tidak akan tinggal diam!" seru Olivia.


"Sebisa mungkin, akan gue jaga," ucap Arman.


"Leen kalau gitu kita pamit ya, jaga kesehatan jangan sampai ke lelahan," pamit Kiran.


"Iya, terima kasih kalian sudah datang," jawab Aileen.


"Sama-sama, bye bumil," ucap mereka bersamaan.


Ruangan kembali sepi saat sahabat-sahabat sudah pulang. Hanya tersisa Ammar, Aileen, Arman dan Alex yang masih ditempat.


Aileen benar-benar bosan sedari tadi hanya diam di kasur pasien, ingin melakukan sesuatu tapi tidak tahu apa. Saat Aileen melihat Arman, yang sedang mengupas mangga tidak selesai-selesai dia berinisiatif untuk membantunya.


"Biar gue saja sini yang kupas," pinta Aileen.


"Gak usah, gue bisa," jawab Arman.


"Bisa kok lama! Sudah mana sini." Seru Aileen.


Akhirnya Arman pasrah, karena sedari tadi tidak selesai-selesai. Arman memberikan pisau beserta buah nya, Aileen dengan senang hati menerima.


Sedari tadi Arman melihat Aileen yang sedang mengupas mangga, sampai matanya tidak berkedip sama sekali.


Cantik juga ternyata, tapi kenapa takdir mempertemukan kita dengan cara yang tidak baik. Apa gue pantas bersama lo? Apa gue pantas mendapatkan kata maaf dari lo? Ucap Arman di dalam hati.


Setelah Aileen mengupas mangga hingga benar-benar tidak ada kulitnya, dia meminta piring kepada Arman tanpa melihat nya.


"Piring nya mana ini?" pinta Aileen.


Aileen yang menunggu piring tidak kunjung datang dan melihat ke samping ternyata Arman sedang melihat dirinya.


"Tuan Arman, piring nya mana!" seru Aileen sambil sedikit berteriak.


"Tuan Arman!" panggil Alex sedikit berteriak.


"Issh ... ganggu saja, lagi lihat bidadari juga!" gerutu Arman yang keceplosan.


"Hah!" ucap Aileen yang kaget.


"Tadi apa? Piring ya, bentar," kata Arman lalu pergi begitu saja.