Because Of The CEO

Because Of The CEO
Ternyata Arman



Aileen menyiapkan baju untuk sang suami dan menyimpannya di atas kasur. Ia akan menunggu Arman untuk melakukan salat berjamaah.


Sudah sepuluh menit lebih Aileen menunggu, sepertinya tidak ada tanda-tanda Arman akan keluar dari kamar mandi.


"Arman ngapain ya, kok lama. Nanti habis lagi waktu salat magrib nya," ucap Aileen.


Ceklek ...


"Tumben lama?" tanya Aileen.


"Ada yang harus aku kerjakan dulu," jawab Arman lalu menggunakan baju.


Aileen mengerutkan keningnya. "Kamu mengerjakan apa di kamar mandi?"


"Urusan laki-laki saat tidak di berikan jatah oleh istrinya."


Aileen kaget ternyata suami nya ....


"Kamu--" ucap Aileen terpotong.


"Sudah ayo kita salat dulu, waktunya sudah mau habis," ucap Arman.


"Itu juga gara-gara kamu yang lama!"


...🍂 🍂 🍂...


Di lantai bawah, Ammar sedang menunggu Arman dan Aileen untuk makan malam bersama.


"Ini pasutri kemana dari tadi sore gak kelihatan!" seru Ammar.


"Bang ... kok sendirian, mama sama papa kemana?" tanya Aileen yang menghampiri dengan sang suami.


"Pulang, kata nya mau jemput Aretha di bandara," jawab Ammar.


"Kapan, kenapa gak pamitan dulu?" tanya Arman.


"Tadi sore pulangnya. Ya ... gimana mau pamitan sama kalian, mama ketuk pintu kamar gak ada yang buka!" pekik Ammar.


"Kenapa kamu gak bukain pintu?" tanya Aileen.


"Aku kan ikut tidur juga," jawab Arman.


"Mangkanya jangan tanam menaman terus!" tuduh Ammar.


"Mau bercocok tanam gimana, tadi saja main sendiri!" seru Arman.


Blus ... pipi Aileen memerah menahan malu.


Kenapa lupa gak di tutupin sih batin Aileen.


"Kenapa malah ngomongin itu, Aileen sudah lapar!" seru Aileen.


"Lapar atau malu, hemm ...." goda Ammar sambil menaik turunkan alis nya.


"Sudah Bang, jangan di godain terus istriku ini, nanti tambah merah pipi nya," ucap Arman.


"Kamu juga sama!" ketus Aileen.


...🍂 🍂 🍂...


Usai dengan makan malam mereka berkumpul di ruangan keluarga sambil mengobrol-ngobrol kecil.


"Kalian sudah ada rencana untuk tinggal dimana?" tanya Ammar.


"Belum, Bang," jawab Arman.


"Kalau begitu kalian tinggal di sini saja, karena nanti rumah ini kosong hanya ada bibi dan pekerja yang lainnya," ucap Ammar.


"Memang Abang mau kemana?" tanya Aileen.


"Abang harus menyelesaikan dulu pekerjaan yang di Bandung."


"Kenapa gak di tangani sama kepercayaan ayah, jadi biar Abang di sini." saran Aileen.


"Rencananya memang Abang mau serahkan ke pak Bilal, tapi sesudah yang Abang kerjakan terselesaikan dengan Abang sendiri."


"lagian kamu sudah punya suami, gak sendirian dong." lanjutnya.


"Tapi kan Aileen ingin tetap berkumpul," ucap Aileen dengan manja.


"Lihat Man, istri kamu tuh manja!" seru Ammar dan di balas dengan senyuman oleh Arman.


Malam semakin larut, akhirnya mereka sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing dengan Arman yang sedari tadi belum tertidur.


Arman memandang wajah sang istri yang sedang tertidur lalu seulas senyum terpancar di wajah Arman.


Apa aku bisa membuat kamu jatuh cinta, apa kamu sudah memaafkan aku, apa kamu sudah menerima aku di hidupmu. Ya ampun ... ingin rasa nya aku menanyakan semua yang ada di pikiran aku ini, tapi aku belum siap dengan jawabannya ucap Arman di dalam hati.


"Tidur yang nyenyak My wife, aku akan selalu menunggumu untuk membuka hati." ucap Arman sambil mencium kening sang istri.