
Bismillahirohmanirohim.
...Kita tidak akan pernah tahu, Musibah akan menimpa siapa, entah itu pada kita, orang terdekat kita, maupun pada orang lain....
Brak….brak…brak!
Suara tabrakan terdengar nyaring di tengah jalan raya, tadinya jalan itu ramai lancar hanya dalam kurungan waktu beberapa detik saja jalan raya di pusat kota sudah macet total akibat kecelakaan yang terjadi antar pengendara motor dan menabrak seorang pejalan kaki.
"Mama…!" teriak Ulya tubuhnya tiba-tiba terasa lemas tak berdaya, untuk menggerakkan kakinya saja gadis cantik mengenakan hijab syar'i berwarna bronw gamis senada dengan hijabnya itu sudah tidak bisa.
Kepala Ulya terasa pusing, dia menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang baru saja menimpa sang mama. Nyawa Ulya seakan pergi meninggalkan raga, tubuhnya benar-benar lemas tak berdaya, melihat tubuh sang mama sudah dilumuri darah, bahkan wanita paruh baya itu sudah tak sadarkan diri.
"Mama…" Ucap Ulya lagi, dia berjalan lungai mendekati tubuh mamanya yang sudah dibawa masuk ke dalam ambulans.
Kebetulan sekali jarak rumah sakit dan tempat kejadian tidak terlalu jauh, jadi orang-orang yang menyaksikan keadaan naas itu cepat menghubungi pihak rumah sakit, untunglah pihak dari rumah sakit bergerak cepat untuk menolong para korban.
"Ya Allah, aku mohon, selamatkan mama. Semoga beliau baik-baik saja." Doa Ulya. Sedari tadi air mata sudah membasahi kedua pipinya.
"Saya ikut, pak!" pinta Ulya pada petugas ambulans.
"Mbak, kenal dengan korban perempuan ini?" Ulya hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.
Gadis itu baru saja pulang dari kampus, karena jarak kampus dan rumahnya dekat. Jadi dia terbiasa berjalan kaki, tidak perlu menggunakan kendaraan apapun. Ulya tahu mamanya akan pergi ke pasar jam segini, tapi tidak biasanya sang mama berjalan kaki menuju pasar, beliau seharusnya menggunakan kendaraan. Siapa sangka musibah akan datang menjumpai ibu Rida.
Sampai di rumah sakit, ibu Rida langsung mendapatkan pertolongan pertama.
"Dok, saya mohon selamatkan mama saya." Pinta Ulya memelas.
"Insya Allah, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk keselamatan mama, mbaknya. Tapi kami mohon untuk mbak juga banyak berdoa." Ulya mengangguk pasti sebagai jawaban.
Setelah sang mama dibawa masuk ke dalam ruang UGD, Ulya hanya bisa menunggu dan terus berdoa untuk keselamatan sang mama. Saking cemasnya Ulya atas keselamatan mamanya, dia sampai lupa tidak menghubungi kakak laki-lakinya yang tengah mengurus bengkal milik keluarga mereka. Ulya benar-benar khawatir akan keselamatan mamanya, dia tidak ingin mamanya pergi secepat ini setelah kepergian sang papa beberapa tahun lalu.
30 menit berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda dari dokter ataupun suster yang akan keluar dari ruang UGD itu.
"Ya Rabb, apakah terjadi sesuatu kenapa lama sekali." Keluh Ulya.
Dia sudah bolak-balik menatap pintu ruang pemeriksa itu, tapi orang yang berada di dalam tidak kunjung keluar.
Untuk menenangkan diri Ulya menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan pelan, setelah itu netranya menatap lurus kedepan, dzikir, istighfar dan shalawat tak berhenti Ulya ucapkan dalam benaknya.
"Astagfirullah." Kaget Ulya.
Dia segera bangkit dari duduknya menghampiri seorang anak kecil yang tadi Ulya lihat terjatuh di lorong rumah sakit tak jauh dari tempatnya.
"Kamu tidak papa, Dik?" tanya Ulya memastikan..
Dia membantu anak kecil itu bangun dari jatuhnya. Perlahan tapi pasti Ulya membantunya dengan sangat hati-hati.
"Kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Ulya lagi lembut untuk yang kedua kalinya.
Anak kecil itu tidak langsung menjawab pertanyaan Ulya, dia menatap Ulya sejenak seakan memperhatikan wajah gadis di depannya ini.
"Aku tidak papa, terima kasih sudah menolongku." Jawab bocah laki-laki itu.
Ulya tersenyum pada anak laki-laki yang baru saja dia tolong. Jika boleh Ulya tebak, anak laki-laki di depannya ini mungkin berumur sekitar 4 tahunan. Parasnya bocah laki-laki di depannya ini sedari kecil saja sudah luar biasa, hidung bangir, bibir bagus bahkan berwarna hampir merah, kedua bola mata yang langkah, rahangnya juga bagus padahal masih begitu kecil.
"Tidak tahu!" jawabnya acuh berbeda saat dia mengucapkan terima kasih pada Ulya barusan.
"Apakah kamu tersesat?" tanya Ulya lagi.
"Tidak! Aku hanya sedang jalan-jalan saja di rumah sakit, aku tidak betah di tempat ini."
"Baiklah, kalau boleh tahu siapa nama kamu?" Ulya kembali mengajukan pertanyaan entah untuk yang keberapa kalinya.
"Aditya." Jawabnya pendek.
"Nama yang bagus, kamu tahu apa arti Aditya?"
"Matahari, sang surya."
"Masya Allah, kamu pintar sekali Aditya. Sekarang Aditya harus kembali ke kamar Aditya, oke." Suruh Ulya hati-hati.
Ulya tahu, kalau Aditya adalah salah satu pasien rumah sakit, karena baju pasien yang dia kenakan.
Aditya yang disuruh kembali ke ruangannya menggeleng keras tidak mau. "Boleh aku ikut denganmu?" pintanya memohon.
Ulya tidak dapat menolak permintaan bocah laki-laki imut di depannya ini. Dia tidak tahu kenapa hatinya terasa sakit melihat tubuh mungil Aditya yang sudah menjadi salah satu pasien rumah sakit. Walaupun Ulya sendiri tidak tahu penyakit apa yang diderita Aditya.
"Boleh, ayo ikut mbak. Tapi nanti janji Aditya akan kembali ke kamar."
"Akux janji."
"Anak pintar." Ulya sambil mengelus sayang pucuk kepala Aditya.
Ulya menggandeng tangan Aditya lembut, hal tersebut membuta Aditya mengembangkan sebuah senyum di kedua sudut bibirnya yang jarang sekali terlihat. Saat Ulya dan Aditya sampai di depan ruang UGD tempat ibu Rida diperiksa kebetulan sekali dokter keluar dari ruangan itu, Ulya langsung menghadap sang dokter.
"Bagaimana keadaan mama saya, dok?" tanya Ulya memastikan, tangannya masih setia menggandeng tangan Aditya.
"Alhamdulillah, ibu Rida sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya menunggu beliau siuman."
"Alhamdulillah." Ulya merasa sangat bersyukur sekali, Allah masih memberikan keselamatan pada sang mama.
"Boleh saya menemui beliau, dok?"
"Silahkan, asalkan tidak mengganggu ketenangan pasien, karena pasien butuh istirahat dengan baik."
Lalu dokter hampir menginjak usia paruh baya itu menatap bocah laki-laki yang masih setia memegang erat tangan Ulya. Aditya balas menatap dokter Dika yang tertera dari name tag beliau.
"Bocah nakal, kenapa kamu disini, kembali ke kamarmu." Suruh Dika pada anak dari sepupunya itu.
"Tidak mau pama Dika, aku mau dengan, mbak Ulya." Balasnya dingin.
"Ayolah Aditya, kamu tidak mau bukan mendapatkan ceramahan dari dady, mu." Aditya menggeleng atas perkataan yang terlontar dari mulut Dika.
Jujur saja, Aditya pusing jika sudah mendengar daddynya mengoceh tidak jelas pada dirinya.
"Jadi sekarang ayo ikut bersama, paman."
"Tidak! Ya, tidak!" tegasnya.