
Bismillah.
Jihan tegah berolahraga rigan di taman belakang, tempat Caca berada. Kata dokter 10 hari lagi Jihan akan lahiran, semua orang sudah tidak sabar menunggu hari yang dinanti-nantikan oleh banyak orang.
Setiap hari Jihan maupun Radit tak pernah ketinggalan membaca ayat-ayat Allah untuk calon bayi mereka. Kehadiran bayi itu sangat dinanti-nantikan oleh banyak orang, setelah tahu jika bayinya sebentar lagi akan lahiran, Radit tak sedikitpun meninggalkan istrinya.
Radit ingin saat istrinya melahirkan, dia akan selalu ada di samping Jihan, momen itu sudah sangat dinanti-nantikan oleh Radit.
Di taman Jihan begitu fokus dengan kegiatannya, disebelahnya ada air minun yang sudah Jihan sedikan untuk nanti setelah dia selesai berolahraga. Lebih tepatnya saat ini Jihan sedang melakukan yoga, Jihan begitu fokus dengan kegiatannya sampai tidak sadar kedatangan suaminya yang entah sejak kapan kini berada di sebelah Jihan.
"Au, Astagfirullah." Ringis Jihan.
Dia langsung membuka matanya, saat merasakan perutnya yang amat begitu sakit, Radit yang melihat istrinya kesakit langsung menghampiri istrinya.
"Sayang kamu kenapa?" panik Radit.
"Jihan nggak tau mas, tapi kayaknya Jihan mau melahirkan, au...." Ringis Jihan lagi sambil tetap memegangi perutnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya." Jihan mengangguk lemah.
Rasa sakit di dalam perutnya terus saja menyerang tapi anehnya rasa sakit itu kadang datang, kadang juga pegi. Radit menggendong istrinya menuju luar rumah, tapi baru sampai ambang pintu taman Radit bertemu dengan oma Rifa.
"Astagfirullah, Jihan kenapa Radit!" pekik oma Rifa kaget.
"Mau melahirkan ma, sepertinya."
"Cepat bawa ke rumah sakit, nanti mama nyusul, mama siap-siapin semua perlengkapan Jihan dulu." Buru-buru oma Rifa pergi untuk menyiapkan perlengkapan untuk lahiran Jihan.
Jihan dan Radit memang sudah belanja untuk semua perlengkapan bayi mereka 3 minggu yang lalu, semua persiapan itu sudah lengkap, bahkan oma Rifa yang memberitahu apa saja yang harus Jihan beli untuk persiapan bayi mereka. Radit segera menuju mobil, Alhamdulillahnya tepat saat pak Mail sampai di rumah setelah menjemput Nafisa sekolah.
"Pak Mail, anter ke rumah sakit ya." Ucap Radit.
"Ayah, bunda kenapa?" belum sempat pak Mail menjawab, tapi Nafisa sudah bertanya lebih dulu.
"Bunda mau lahiran sayang."
"Nafisa ikut!" Radit mengangguk setuju.
Setelah itu mobil yang dikemudikan pak Mail, membelah jalan menuju rumah sakit di kota J tersebut. Tak lama setelah kepergian Radit dan yang lainnya, oma Rifa bersama opa Amran menyusul mereka semua, disetiap hal genting atau penting seperti ini, kak Ayu adalah orang yang selalu tertinggal informasi.
Karena dia masih berada di sekolah, pasti nanti pulang anak bungsu dari pasangan oma Rifa dan opa Amran itu akan hebos sendiri.
Tak lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit, sekitar 5 menit mereka sudah tiba di rumah sakit oma Rifa dan opa Amran pun tiba juga. Jihan sudah berada di ruang persalinan, Jihan memang sudah mengatakan pada suaminya, jika dia ingin lahiran normal saja.
Tak disangka saat ini Jihan sudah pembukaan 6, tinggal menunggu agar Jihan sudah sampai pembukaan 10.
"Kita tunggu sampai pembukaan 10 ya bu." Ucap dokter perempuan yang selama ini menangani kandungan Jihan.
"Baik dok." Balas Jihan lemah.
Radit tak heti-hetinya memanjatkan doa untuk keselamatan sang istri dan buah hati mereka.
Satu jam berlalu barulah Jihan sampai pembukaan 10, "Siap ya bu."
Seorang ibu benar-benar berjuang, saat hamil dan melahirkan, saat melahirkan perjuangan seorang ibu nyawa adalah taruhan ibu yang akan melahirkan itu sendiri.
"Bertahan sayang." Ucap Radit memberi semangat.
Keringat sudah membasahi seluruh wajah Radit, walaupun Jihan yang melarikan, tapi dia melihat proses tersebut sampai membuat Radit berkeringat dingin.
Tak lama suara tangis bayi di dalam ruangan itu pecah, "Oeek...owekk...oweek...."
Tes!
Air mata bahagia menetes dari sudut mata Radit, bahagia sekali rasanya dia, karena Allah kembali menitipkan anugerah yang begitu indah pada dirinya.
"Alhamdulillah." Ucap semua orang.
Saat bayi itu sudah berpindah tangan pada seorang suster, Jihan kembali meraskan perutnya sakit.
"Au, dok." Ringis Jihan lagi.
"Sepertinya ibu akan melahirkan lagi." Ucap dokter itu.
Dokter kembali membantu melakukan proses lahiran untuk yang kedua kalinya, kali ini bayi kedua lebih mudah dikeluarkan dibanding bayi pertama. Tak butuh waktu lama tangis bayi kembali pecah di dalam ruang itu, "Owek...owek...owke..."
Tes!
Lagi-lagi air mata bahagia kembali menetes dari pelupuk mata Radit.
"Masya Allah, anak kita kembar sayang." Ucap Radit bahagia sekali.
Bahkan dia langsung mencium istrinya bertubi-tubi, rasa bahagia bukan hanya menyelimuti hati Radit dan Jihan, tapi setiap orang yang berada disana.
Iya benar, Ibu Kasih juga sudah 1 minggu berada di kediaman Amran, ibu Kasih ingin menghadiri saat putrinya melahirkan, saat ini ibu Kasih bersama yang lain ada di depan ruang tempat Jihan melarhikan menunggu kabar selanjutnya, ibu Kasih datang bersama kak Ayu, keduanya datang paling akhir dari pada yang lain.
Di depan ruangan itu semua orang mengucapkan puji syukur atas anugerah yang Allah berikan, saat mereka mendengar suara tangis bayi pertama. Baru saja rasa syukur mereka ucapan, suara tangisan bayi kembali mereka dengar rasa syukur itu semakin bertambah berkali-kali lipat.
Mulut dan hati semua orang tak pernah henti-hetinya mengucapkan syukur, walaupun Jihan dan Radit tak sempat berjumpa bayi pertama mereka. Allah ternyata memberikan 2 bayi sekaligus saat ini, kebahagiaan meliputi semua orang, tak pernah ada yang menyangka jika Jihan akan memiliki bayi kembar.
Pasanga itu benar-benar diberi bonus oleh sang Maha Baik, ikhlas memang kucin dari semunya, ikhlas lalu dilandasi oleh sabar Allah benar-benar memberikan ganti yang amat luar biasa.
Kembali ruang Jihan.
"Selamat bapak, ibu, bayi kalian laki-laki semua." Ucap seorang suster lalu memberikan bayi itu pada Radit.
Agar Radit mengazain bayi-bayinya, Radit mengadzani bayi-bayinya di kuping sebelah kanan. Lalu kuping sebelah kiri anak mereka Radit iqomati, melihat suaminya mengadzani bayi mereka, carian bening mengalir dari pelupuk mata Jihan.
Bagia sekali rasanya dia, Jihan tak hentinya mengucapkan syukur, karena Allah memberikan 2 amahan sekaligus pada dirinya dan sang suami.
Radit memberikan satu bayi mereka pada sang istri. "Selamat sayang sudah menjadi seorang ibu sentuhnya."
"Terima kasih mas, Nafisa bahagia sekali pasti mas memiliki 2 adik sekaligus."
Begitulah Jihan, dia tak akan pernah melupakan putrinya sekalipun.