Babysitting genius

Babysitting genius
#Pengantin pengganti yang diinginkan



Bismillah.


Matahari sudah muali nampak di kota Jogja, pagi yang begitu cerah seakan mewakili suasana hati orang-orang yang berada di kediaman keluarga Amran. Sangat bahagia, kata-kata itulah yang pantas disematkan untuk seluruh keluarga besar Amran dan keluarga pak Joni.


Jam 6 pagi semuanya sudah siap hanya tinggal menunggu penghulu datang, barulah semuanya bisa terlaksankan dengan baik.


"Ya Allah, sudah tak sabar lihat putri kita menikah pak." Ucap ibu Kasih.


Sampai pagi ini mereka belum bertemu dengan Jihan, karena Jihan sedari tadi malam sampai sekarang belum juga keluar dari kamar. Sebenarnya ibu Kasih sedikit khwatir, tapi untung nenek Rifa bisa memadamkan rasa khawatir ibu Kasih. Tepat jam 8 nanti akad akan dimulai.


Di kamar Nafisa, beberapa orang perias untuk mempelai wanita sudah datang, Radit menyewa perias terbaik di kota Jogja, dia ingin yang terbaik untuk calon istrinya. Selain itu Radit juga mengirim perias untuk Elsa, agar perempuan bersuami itu tidak curiga dengan rencana Radit.


Kembali ke kamar Nafisa.


"Astagfirullah." Kaget Jihan.


Dia baru saja keluar dari kamar mandi yang terdapat di kamar Nafisa. Saat keluar sudah banya orang di dalam kamar itu, untung semuanya permpuan. Nafisa yang ada diantara mereka semua tersenyum pada Jihan.


Gleg!


Susah payah Jihan menelan salafianya sendiri melihat orang-orang yang menatapnya berbinar apalagi Nafisa, terlihat dari kedua bola matanya sekaan memancarkan cahaya saat menatap dirinya.


"Bunda ayo di make up dulu." Ucap Nafisa.


Jihan masih mematung di tempatnya, gadis itu kini ada diambang sadar atau tidak sadar.


Dengan riang Nafisa menuntun Jihan duduk di kursi depan cermin yang sudah disiapkan oleh para pemake up. Ya, Jihan masih belum sadar, dia tetap diam membiarkan semua orang melakukan apapun.


Kalin ini Jihan melihat ke arah Nafisa yang masih setia menatap dirinya. Tatapan yang sangat berbinar, Jihan saja sampai begidik sendiri melihatnya.


"Nafisa besiaplah juga." Suruh Jihan.


Jujur Jihan tidak tau kenapa kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya, Nafisa yang disuruh bersiap oleh calon bunda tentu saja langsung patuh. Saat itu juga Nafisa menjadi seorang anak yang begitu patuh, tak lagi jahil ataupun membantah. Para perias yang melihat kedekatan Nafisa dan Jihan jadi tersenyum sendiri, mereka menanggap Jihan begitu beruntung. Tapi jika Radit yang berkata dia yang begitu beruntung mendapatkan Jihan.


Jihan sudah selesai dimake up, hanya memerlukan waktu 30 menit Jihan sudah rapi. Cantik, cantik sekali bahkan, kata-kata itu yang keluar dari mulut orang berada di kamar Nafisa. Tak lama Nafisa juga sudah rapi, gadis cilik itu bak seorang peri yang akan mengantar ratunya ke hadapan sang raja.


Di ruang tamu yang sudah dipersiapkan untuk akad, semua orang sudah berkumpul, tak sabar menantikan acara sakral itu tiba.


Semua orang penasaran dengan pengganti wanitanya, karena di dalam undangan yang tersebar tidak ada nama mempelai wanitanya, semua terlihat begitu rahasia. Jadi sangat penasaran secantik apa mempelai wanita, dari seorang Radit Amran itu, apalagi beberapa orang tau jika Elsa adalah pacar Radit.


Teng!


Tepat jam 8 pas Radit sudah duduk di depan penghulu dan calon papa mertuanya.


"Apakah sudah siap Radit?" tanya penghulu sebelum melancarkan acara.


Pak Joni sendiri yang akan menikahkan putrinya langsung, pak Joni tak menyangka hari ini dia akan menikahkan putrinya dengan orang yang begitu berpengaruh di kota J.


"Siap pak!" jawab Radit dengan mantap.


Tidak ada satu orang pun yang tau jika saat ini Radit tengah menahan keringat dingin yang terus bercucuran di badanya, mau menikah dengan Jihan saja rasanya seperti sedang memanjat tebing.


Deg, deg, deg.


"Baik jika nak Radit sudah siap, sihlakan jabat tangan pak Joni."


Kala Radit menjabat tangan pak Joni, rasa dag, dig, dug dan keringat dingin yang Radit rasakan semakin menjadi-jadi.


'Rileks Radit kamu bisa, hanya ijab qabul buka, sebelumnya juga sudah pernah, tapi waktu dulu aku belum mencintai calon istriku, sekarang berbeda Jihan belum saja jadi milikku, aku sudah tidak mau kehilangan dirinya.' Batin Radit.


"Santai Radit jangan tegang." Bisik kakek Amran.


Radit mengangguk dengan mantap, lalu dia menjabat tangan bapak Joni. Mempelai wanita memang akan keluar nanti setelah ijab qabul.


"Bismillahirohmanirohim, saya nikahkan dan kawinkan Radit Amran dengan putri saya Jihan Anatasya dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Ucap bapak Joni.


"Bismillah, saya teriama nikah Jihan Anatasya bintin Jonirudin dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Radit hanya mengucapkan ijab qabul dalam sekali tarikan nafas saja.


"Bagaimana para sakasi sah!"


"Sah!"


"Alhamdulillah." Ucapan syukur menggema diseluruh kediaman keluarga Amran.


'Alhamdulillah.' Batin Radit bahagia sekali dia..


Akhirnya keinginan untuk menikah Jihan terwujdu juga. Buka keinginan Radit saja, tapi keinginan Nafisa juga terwujud, akhirnya Jihan menjadi bunda seutuh untuk dirinya.


Di kamar Nafisa.


Ternyata Jihan melihat ijab qabul itu lewat laptop Nafisa yang terhubung dengan hp milik Ayu.


Deg!


Saat Nafisa melihat ibu, bapak dan adiknya ada disana, dia melihat bapaknya dan Radit sudah berhadap-hadapan didampingi oleh seorang penghulu.


'Bapak, ibu, Rafli sejak kapan mereka berada disini?' batin Jihan merasa heran.


Di dalam hatinya kini Jihan percaya sepenuhnya jika Radit benar-benar akan menikahi dirinya, Jihan tak lagi menganggap becanda ucapan Radit dan Nafisa beberapa tempo lalu. Jihan tidak menyangka bapaknya langsung yang akan menikahkan dirinya dengan Radit, Jihan tak bisa memberhentikan pernikahan ini, dia tak tega melihat wajah semua orang yang terlihat sangat bahagia.


Saat Radit mengucapkan ijab qabul, Jihan semakin yakin Radit sungguh-sungguh, apalagi saat melihat wajah bahagia Radit setelah selesai mengucapkan ijab qabul dengan sekali tarikan nafas saja. Tidak ada lagi keraguan di dalam hati Jihan.


"Alhamdulillah." Ucap Jihan dan Nafisa bersama.


Kedua orang itu kini saling memeluk satu sama lain, bahagia yang tadi Nafisa rasakan sendiri, kini jadi menular pada Jihan juga.


'Terima kasih Ya Rabb, Allhamadulilah, Engkau maha Baik Ya Rabb, semua ini hikmah dari sebelumnya aku percaya itu.' Batin Jihan.


Dia dan Nafisa sama-sama melepaskan pelukan mereka, lalu keduanya melempar senyum satu sama lain.


"Yes! Bunda Jihan!" ucap Nafisa kegirangan.


"Sini sayang bunda peluk." Ucap Jihan pula.


Keduanya kembali saling memeluk. Jihan sudah sah menjadi istri Radit beberapa menit yang lalu. Jihan juga melihat kehadiran Amanda disana.