Babysitting genius

Babysitting genius
#Membaik



Bismillah.


Belum sempat keluarga Nita bergerak untuk melancarkan aksi mereka Radit sudah lebih dulu membawa semua bukti-bukti itu ke kantor polisi. Ternyata tanpa disadari oleh keluarga Amran, selama 1 tahun ini mantan besan keluarga Amran yang tak lain merupakan keluarga Nita, telah mengintai keluarga mereka. Semua itu dilakukan hanya untuk mendapatkan separo kekayaan keluarga Amran..


Tempat tinggal keluarga almarhum Nita juga ternyata tidak jauh dari perusahaan Amran Mining, padahal selama ini Radit dan keluarga meningar, kalau mereka tinggal di kota yang berbeda.


Pagi-pagi sekali, di depan rumah Pak Ruli, yang tak lain adalah bapak dari almarhum Nita, sudah ada banyak polisi disana.


Sekretaris Radit sendiri yang turun tangan langsung untuk membereskan kasus ini. Sedangkan kedua orang yang sudah mencelakai Jihan. Telah ditangkap lebih dulu oleh pihak polisi.


Pak Ruli yang baru saja keluar dari rumah, menatap heran para polisi yang ada di depan rumahnya saat ini.


'Kenapa ada banyak polisi.' Batin pak Ruli.


"Permisi pak." Sapa salah satu polisi yang kini berhadapan langsung dengan pak Ruli.


Kebetulan saat para polisi itu berada di depan rumah pak Ruli, pak Ruli sendiri akan pergi entah kemana. Rumah itu terlihat begitu sepi, seperti tak berpenghuni saja, tak ada tanda-tanda ada orang di dalam rumah tersebut, kecuali, hanyan pak Ruli yang kini ada di hadapan para polisi.


"Iya, maaf pak ada yang bisa saya bantu?" walaupun ragu, pak Ruli tetap bertanya.


Sebenarnya ada perasaan was-was dalam diri pak Ruli, apalagi dia tidak tahu apa tujuan para polisi ini datang ke rumahnya.


"Begini, apa benar anda yang bernama pak Ruli?"


"Ya benar, tapi ada apa ya pak?"


"Bapak bisa ikut kami ke kantor polisi." Ucap polisi itu lagi.


Lalu komandan polisi itu menyuruh semua anak buahnya untuk mengeledah rumah, milik pak Ruli. Mereka harus menemukan pelaku lainnya yang tak lain adalah istri pak Ruli sendiri.


"Maaf ada apa ini ya pak? Kenapa bapak mengangkap kami?"


Tentu pak Ruli tidak terima, jika tiba-tiba saja dia dan istrinya juga anak laki-lakinya yang tak lain kakak dari Nita ditangkap begitu saja, tanpa tahu apa alasan mereka ditangkap.


Padahal jelas, jika mereka sudah melakukan tindakan kejahatan, mungkin pak Ruli amnesia setelah merencanakan, tindakan buhun diri pada Jihan.


"Bapak dan yang lainnya, bisa tanyakan nanti di kantor polisi!" jawab komandan polisi tegas.


Tidak ingin pekerjaan mereka terhambat, para polisi itu segera membawa pak Ruli serta anak dan istrinya ke kantor polisi.


Hari itu juga Cahyo harus menyelesaikan semuanya pekerjaan, masalah kejahatan pak Ruli dan keluarganya benar-benar Cahyo selesaikan hari itu. Bahkan sampai malam tiba Cahyo baru bisa beranjak dari kantor polisi, semua ursan disana baru saja selesai.


"Alhamdulillah kelar juga." Lega Cahyo.


Sementara pak Ruli dan yang lainnya tak bisa berbuat apa-apa kala polisi mengeluarkan semua bukti tentang kejahatan mereka selama 1 tahun ini. Akhirnya mereka semua dijatuhkan hukuman 4 tahun penjara.


Sebenarnya Radit juga tidak ingin melakukan hal tersebut, tapi Radit ingin memberikan efek jera pada orang yang sudah berani bermain-main dengan keluarga Amran. Radit harus membungkam mereka, jika keluarga Amran tidak bisa diremehkan begitu saja walaupun selama ini selalu diam, tidak pernah mencari masalah orang lain.


"Bunda, bunda kapan sembuh? Nafisa kangen main sama bunda." Nafisa menatap bundanya sendu.


Jihan yang memang sudah sedikit lebih memiliki tenaga dari sebelumnya, mengelus sayang pucuk kepala putrinya yang duduk di kursi sebelah brankar tempatnya berbaring.


Jihan tersenyum pada Nafisa. "Doakan bunda agar bunda segera diizinkan pulang dari rumah sakit."


"Pasti bunda, setipa habis selesai shalat Nafisa selalu mendokan untuk kesembuhan bunda, Nafisa tidak mau bunda meninggalkan Nafisa."


"Terima kasih atas doanya sayang, bunda tidak akan meninggalkan Nafisa, bunda tahu Allah Maha baik, Nak."


Di dalam kamar itu hanya ada Nafisa dan Jihan, oma Rifa dan ibu Kasih baru saja pergi untuk mencari makan agar mereka bisa makan bersama dengan Jihan.


Sementara Radit belum kembali ke rumah sakit, saat sore tadi pamit untuk pergi, dia juga memang sudah mengatakan, kalau akan kembali malam hari.


Sedangkan opa Amran dan bapak Joni berada di rumah, kedua kakek Nafisa itu harus banyak beristirahat. Agar bisa memiliki tubuh yang lebih baik. Oma Rifa dan ibu Kasih memang menyuruh suami mereka agar banyak beristirahat, Jihan pula menyarankan hal demi kian pada kedua bapak itu, Jihan tidak mau karena menjaga dirinya kedua bapaknya malah ikut jatuh sakit juga. Bagimanapun opa Amran dan bapak Joni harus banyak beristirahat.


Nafisa dan Jihan masih mengobrol di dalam kamar rawat Jihan. "Maaf ya sayang gara-gara bunda ada di rumah sakit, kita tidak jadi merayakan ulang tahun Nafisa." sesal Jihan.


Nafisa menggeleng. "No bunda, semua ini bukan salah bunda, lagipula Nafisa tidak pernah mau lagi ulang tahun Nafisa dirayakan, Nafisa tidak mau kehilangan bunda." Ucapnya tegas.


Jihan terenyum mendegar perkataan putrinya, dia tak menyangka Nafisa sampai rela tidak akan pernah merayakan ulang tahunnya demi dirinya. Jihan jadi merasa bersalah, tapi disisi lain dia juga merasa beruntung memilik Nafisa yang amat menyayangi dirinya.


"Terima kasih sayang, sudah menyayangi bunda seperti bunda kadung Nafisa."


"Harusnya Nafisa yang berterima kasih pada bunda. Oh iya bunda ayah berniat akan memasukan Nafisa dalam sekolah cepat, setelah kesembuhan bunda." Jelas Nafisa yang ingat ucapan ayahnya kemarin.


Jihan tersenyum, dia tahu jika Nafisa memang harus dilakukan hal seperti itu, karena Jihan tau Nafisa begitu cerdas, sampai-sampai Jihan sendiri bingung melihat kecerdasan Nafisa.


"Bunda bangga punya kamu sayang." Ucap Jihan tulus. Jihan mencium kening Nafisa lembut, setidaknya Nafisa bisa menyembuhkan luka di hati Jihan, karena sudah kehilangan buah hati dari kandungannya sendiri.


Kedunya terus mengobrol, sambil menunggu oma Rifa dan ibu Kasih kembali, dari membeli makanan untuk mereka.


Tak lama kamar rawat Jihan terbuka.


Ceklek!


Dari balik pintu muncul sosok yang sangat menyayangi Nafisa dan Jihan, sampai lagi kalau bukan Radit. Jihan melihat wajah suaminya begitu lelah, tapi saat ini dia belum bisa melayani suaminya dengan baik, melihat anak dan istrinya tersenyum kearahnya seketika rasa penat dalam diri Radit sekaan hilang begitu saja.


Radit mendekati kedunya, lalu mendaratkan ciuman dipipi istri maupun anaknya. "Ayah kangen kalian." Ucap Radit.


Bebannya sekaan hilang begitu saja melihat Jihan dan Nafisa, "Kita juga kangen ayah." Ucap Jihan dan Nafisa bersama.


Tak lama pintu kamar rawat Jihan kembali terbuka, muncullah dua sosok nenek yang amat Nafisa sayangi.


"Oma, nenek." Panggil Nafisa senang.