
Bismillah.
Malam sudah tiba oma Rifa dan yang lainnya sudah pulang, kini hanya ada Radit yang menemani Jihan di ruang rawat ICU. Di rumah sakit kota Jogja.
"Sayang aku tinggal sebentar ya." Ucap Radit pada Jihan.
Jihan mengangguk sambil tersenyum, tanpa bertanya suaminya akan pergi kemana, yang Jihan yakin Radit pasti tidak akan meninggalkan dirinya sendirian di kamar rawat itu. Setelah mendapatkan izin dari Jihan, Radit segera keluar untuk mengangkat telepon dari Cahyo.
"Halo." Ucap Radit kala dia sudah mengangkat telepon dari Cahyo.
"Bos, saya sudah mendapatkan semua bukti yang bos inginkan, tapi ada beberapa hal yang menganjal, saya tidak bisa menjelaskan lewat telepon, saya kirim dulu data-datanya." Jelas Cahyo.
"Segera kirimkan."
Radit segera mematikan sambungan teleponnya, lalu kembali masuk ke dalam kamar rawat Jihan. Benar yang Jihan duga Radit, tidak akan meninggalkannya dalam waktu yang lama.
"Sayang, kamu belum tidur, tidurlah kamu butuh istirahat yang banyak." Jihan mengangguk patuh.
Dokter memang menyarankan agar Jihan tidak banyak bergerak dulu dan Jihan juga harus banyak beristirahat, semua ini demi kesembuhan Jihan. Radit memastikan istrinya tidur dengan nyaman, bahkan dia sambil mengelus-elus rambut Jihan, agar Jihan bisa cepat terlelap.
Tak butuh waktu lama 15 menit berlalu, Jihan sudah tidur dengan tenang, Radit yang merasa istrinya sudah tidur membenarkan posisi Jihan agar bisa lebih nyaman. Wajah istrinya yang terlihat sedikit pucat jadi membuat Radit memandangi wajah istrinya, biasanya Radit akan selalu melihat wajah ceria yang istrinya tujukan, malampun Jihan akan selalu terlihat cantik di hadapan suaminya.
Cup!
Satu kecupan dari Radit mendarat dikening istrinya. "Mas harap kamu cepat sembuh dek, kami semua akan mendoakan kesembuhanmu dan mungkin juga anak kita ingin melihat ibunya segera sehat."
Sebenarnya sesak sekali dada Radit kala mengucapkan hal ini. Setiap malam biasanya dia akan selalu melihat tawa istrinya yang begitu indah. Mungkin beberapa malam kedepan Radit belum bisa melihat tawa dan senyum itu kembali Radit sadar bukan hanya dia yang merasa sakit melihat Jihan berbaring di rumah sakit, tapi juga putrinya.
Kedekatan Nafisa dan Jihan seakan sudah membuat hubungan batin kedunya menyatu begitu saja, Radit dapat melihat jelas dari mata putrinya, jika Nafisa begitu terpukul melihat sang bunda tidak baik-baik saja.
Puas memandangi istrinya Radit segera mengecek hpnya untuk melihat bukti dan data-data yang dikirim oleh Cahyo. Radit memutuskan untuk duduk di sopa kamar rawat Jihan, kini Radit sudah begitu fokus membaca semua informasi yang dikirim oleh Cahyo.
"Jadi pelakunya memang bukan Elsa dan Febry, tapi siapa? Lalu apa yang akan Cahyo jelaskan besok." Ucap Radit.
"Ah, ternyata orang yang ada di dalam mobil itu adalah orang suruhan." Ucap Radit pada diri sendiri.
Setelah membaca semua informasi yang dikirimkan Cahyo, Radit dapat menyimpulkan, kemungkinan besar pelakunya orang yang dikatakan opa Amran.
"Tapi untuk apa mereka melakukan ini pada Jihan, seharusnya target mereka aku atau tidak Nafisa."
Semua pertanyaan-pertanyaan muncul di kepala Radit, sayangnya pertanyaan yang begitu banyak ada di kepala Radit bisa dia menemukan jawabnya.
"Benar-benar harus menunggu besok." Gumun Radit.
Yang pasti sudah ada titik terang tentang pelaku yang sudah mencelakai Jihan. Akhirnya Radit memutuskan untuk beristirahat, besok ada banyak hal yang harus Radit urus.
Pagi tiba.
"Mama, aku titip Jihan sebentar ya, ada yang harus Radit urus." Ucap Radit.
Radit memberi kode pada oma Rifa, agar Jihan tidak peka apa yang akan Radit lakukan, karena Radit tahu istrinya itu pasti akan mengkhawatirkan dirinya.
"Tapi kamu jangan lama-lama ya Dit, mama juga harus jemput Nafisa, nanti kalau Jihan ditinggal sendiri disini kasihan."
"Iya Ma." Radit mendekati istrinya yang sudah bangun sedari subuh tadi.
"Mas pergi dulu ya Dek, mama, Assalamualikum."
Sebelum pergi Radit mendaratkan satu ciuman di kening istrinya. "Wa'alaikumsalam." jawab oma Rifa dan Jihan.
Suara Jihan terdengar sedikit lirih, karena suaranya masih begitu berat. Radit segera menuju kantornya, tempat yang aman bagi Radit, untuk membicarakan hal penting hanya di dalam ruang kerjanya saja. Sampai di kantor Radit langsung menyuruh Cahyo untuk menemui dirinya di ruang direktur utama.
"Jadi bagaimana perkembangnya Cahyo."
"Begini bos, setelah ditelusuri lebih dalam lagi oleh anggota rahasia kita ternyata pelakunya mantan mertua bos sendiri, kurang jelas tujuannya apa, lalu mereka juga ingin mengambil hak asuh Nafisa."
"Menurut informasi yang didapat anggota kita juga, mereka berencana mendatangi kediaman Amran besok, lalu mereka akan meminta hak asuh Nafisa, jika pihak bos tidak setuju mereka akan mengajukan syarat, agar warisan Nafisa jatuh pada mereka dan Nafisa tetap bersama keluarga bos."
"Astagfirullah." Kaget Radit setelah mendapatkan penjelasan dari Cahyo.
Pasalnya dulu Radit sudah memberikan warisan miliki Nita pada keluarganya, hal itu Radit lalukan dengan cepat karena permintaan mantan mertuanya, Radit juga memberikan berapa jumlah warisan yang mereka inginkan.
"Jadi mereka ingin memanfaatkan Nafisa saja? Kenapa mereka begitu tega pada Nafisa, Nafisa cucu mereka sendiri, Astagfrullah."
Radit terdiam sejenak sambil menghembuskan nafas kasar. "Terus kenapa mereka menargetkan istriku?"
"Yang saya lihat, hal tersebut dilakukan agar Nafisa tidak mau lagi berada di keluarga Amran, saya kurang paham juga bos, menurut informasi ibu Jihan juga termasuk target mereka."
"Lalu bagaimana dengan makam wanita itu, apakah dia sudah benar-benar tiada."
"Benar bos, makamnya ada didekat rumah mantan mertua bos sendiri, mereka juga melakukan semua ini, alasnya balas dendam pada bos atas kematian Nita."
Radit tak habis pikir atas semua informasi yang dia dapat dari Cahyo, jadi sekarang Radit tahu seperti apa mantan mertuanya, tak juah beda dengan mantan istrinya yang sudah tiada, mereka sekeluarga hanya gila materi saja..
"Cahyo kumpulan semua bukti, aku akan membawa kasus ini kepengadilan, aku juga masih memiliki bukti perjanjian 7 tahun lalu."
"Baik bos."
Di rumah sakit, akhirnya kedua orang tua Jihan dan adiknya sampai juga, setelah kepergian Radit mereka tiba di rumah sakit.
"Jihan kamu tidak papa, Nak?" ibu Kasih menatap iba putrinya, beliau juga tau kabar yang menimpa Jihan.
"Alhamdulillah Jihan baik-baik saja bu."