
Bismillah.
Begitu sakitnya seluruh keluarga Amran, mendengar kabar yang baru saja mereka dapatkan. Tidak ada satupun orang yang tahu tentang kehamilan Jihan, bahkan Jihan sendiri. Tapi saat kabar bahagia itu mereka dengar, nyatanya kabar bahagia tersebut sudah berubah menjadi kabar duka yang mendalam.
Belum mengetahui kehadiran janin tersebut, tapi Allah sudah mengambilnya kembali, sungguh calon bayi yang amat luar biasa. Takdir Allah memang tidak akan pernah ada yang tahu.
Masih di depan ruang UGD, di rumah sakit kota J.
"Dok istri saya keguruan?" tanya Radit ragu, sebisa mungkin dia harus menahan kesedihannya lebih dulu.
"Benar, apakah semua orang belum tahu?" dokter pun akhirnya balik bertanya.
Melihat semua orang seakan kaget saat dirinya mengatakan, jika Jihan mengalami keguguran.
"Istri anda sudah hamil selama 6 minggu." jelas dokter.
Deg!
Semua orang kembali terdiam, itu artinya Jihan sudah hamil sejak mereka masih berada di rumah mertua Radit.
Selama 6 minggu ini memang tidak ada tanda-tanda jika Jihan tengah hamil, karena semuanya terlihat baik-baik saja.
Jihan tidak pernah mengalami muntah-muntah, ataupun segala macam hal yang dialami oleh ibu Hamil. Hanya saja mood Jihan kadang sering naik turun kalau berada didekat suaminya dan hal itu terjadi tidak terus menerus, hal itu terjadi disaat ada hal yang memang membuat Jihan sedih.
Hal-hal tertentu yang membuat mood Jihan, jadi berubah-ubah dalam waktu sekejap saja, kadang sedih, kadang bahagia dan yang lainnya. Seperti kabar kepergian almarhum Puspa kala itu, mood Jihan memang tidak stabil, tapi Radit tidak menaru kecurigaan sedikitpun, kalau Jihan tengah hamil.
"Bapak boleh ikut saya ke ruangan saya sebentar, akan saya jelaskan apa yang membuat istri anda mengalami keguruan."
Radit hanya bisa mengangguk setuju, sambil mengikuti dokter laki-laki paruh baya itu, Radit berjalan lungai di belakang dokter tersebut.
Sementara Jihan segera di pindahkan ke ruang ICU, Jihan harus dirawat inap terlebih dahulu sebelum dinyatakan sembuh total.
Tidak ada yang tahu jika Jihan mendengar semuan penjelasan dokter tadi, setelah kepergian dokter dan suster dari ruang UGD, Jihan sadarkan diri. Saat dia hendak memanggil dokter itu, tapi dia malah mendengar penjelasan yang begitu menyakitkan.
Jihan memegangi perutnya yang datar itu, "Hiks....hiks....hiks...." Tanpa terasa Jihan menumpahkan butiran bening dari pelupuk matanya.
Jihan elus lembut perutnya, membayangkan bayi yang sudah ada di dalam perutnya selama 6 minggu, tapi tidak diketahui hadirnya bayi tersebut. Diantara semua orang yang sesak mendengar kabar duka ini, Jihan lah yang paling terpukul, dia baru hamil anak pertama, tapi belum diizinkan untuk bertemu buah hatinya.
"Hiks...., maafkan bunda sayang, maafkan bunda tidak menyadari kehadiranmu disisi bunda." Ucap Jihan.
Kata-kata yang keluar dari mulut Jihan seakan begitu menyakitkan, "Maaf bunda baru tahu kehadiranmu, setelah kamu pergi dari sisi bunda." Ucap Jihan paruh karena tangisnya.
Di dalam ruang UGD itu, Jihan menangis dalam diam, sambil menahan isak tangisnya agar tidak bersuara. Jihan tidak mau membuat semua orang khawatir pada dirinya.
Di ruang dokter.
"Benturan kerasa yang dialami istri andalah yang mengakibatkan keguguran terjadi, tapi ada hal penting yang perlu anda tau pak Radit." Ucap dokter tersebut menjeda sejenak perkataannya.
Radit masih mendengarkan dengan saksama penjelasan dari dokter, Nizam nama beliau tertera dinametagnya.
"Janin di dalam bayi anda seakan telah menyelatkan ibunya, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada istri anda, jika janin itu tidak ada, mungkin kemungkinan besar istri anda akan tiada atau tak akan pernah dapat hamil kembali."
"Tapi adanya janin yang berada di dalam perut istri anda seakan sudah menolong ibunya, Allah mengirimkan bayi tersebut untuk melindungi ibunya." Jelas dokter lagi.
Tidak masuk akal memang, tapi hal itulah yang terjadi pada Jihan.
'Subhanallah Nak, ayah bangga denganmu sayang, kamu belum lahir saja sudah bisa menjaga bundamu. Kamu sosok yang tidak akan pernah terluapkan Bintang, walaupun kita tidak pernah bertemu di dunia ini, tapi ayah sangat berharap kita bisa berkumpul bersama di surga Allah, aamiin.' Batin Radit.
Sebuah senyum terukir disudut bibir bapak yang seharusnya sudah memiliki dua orang anak, tapi Allah belum mengizikan semua itu.
"Terima kasih banyak atas penjelasannya dok." Ucap Radit.
"Sama-sama pak Radit."
"Kalau begitu saya permisi dulu ya pak."
Setelah keluar dari ruang dokter Radit segera ke ruang ICU, oma Rifa sudah menghubungi putranya lebih dulu tadi, jika Jihan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap di rumah sakit tersebut. Sampai di ruang rawat Jihan, Radit menghampiri istrinya, Radit langsung menghujani istrinya dengan ciuman lembut.
Jihan sudah bangun, Nafisa berada disisi ayah dan bundanya, ya gadis kecil itu sangat takut kehilangan bunda Jihan.
Apalagi kecelakaan yang menimpa Jihan, terekam jelas dipenglihatan Nafisa. Hari ini dia hampir kehilangan seorang bunda yang hampir 1 tahun lebih mengisi kesehariannya yang tadinya tidak berwarna menjadi penuh akan warna indah.
"Maafkan mas sayang, maafkan mas tidak peka akan semua ini." Jihan menggeleng mendengar perkataan suaminya.
"Jangan menyalahkan siapapun mas, jangan menyalahkan diri mas Radit sendiri, disini kita tidak ada yang bersalah, semua sudah rencana Allah."
"Aku tau ini cobaan dan ujian untukku, tapi aku yakin mas, Allah akan mengganti semaunya, jika waktunya sudah tepat nanti."
Oma Rifa dan opa Amran tersenyum mendengar perkataan menantu mereka, hal yang beruntung bagi mereka bisa memiliki menantu seperti Jihan, bukan hanya cantik, tapi solehah dan cerdas, Jihan seperti paket komplit saja, jika bahasa orang sekarang.
"Bukan Allah sudah memberitahu dibalik musibah pasti akan ada hikmah yang menjumpai kita, orang-orang yang mau bersabar akan cobaan yang Allah berikan."
"Masya Allah dek, mas beruntung mendapatkan istri seperti kamu."
Jihan tersenyum. "Aku yang beruntung bisa mendapatkan kamu dan Nafisa mas."
"Sini sayang, sudah jangan menangis lagi." Ucap Jihan sambil menyuruh putrinya mendekat.
Walaupun tidak dizinkan bertemu dengan anak pertamanya di dunia ini, setidaknya Jihan masih punya kesempatan untuk memilik anak dan sekarang dia punya Nafisa.
Ketiga orang bapak, ibu dan akan itu saling berpelukan sayang.
'Aku akan mencari pelakunya sampai dapat, aku janji.' Batin Radit.
Jelas sekali Radit paham, jika yang dialami istrinya bukan sebauh kecelakaan, tapi tabrak lari yang sudah direncakan. Oma Rifa dan opa Amran mendekati ketiganya, hanya Ayu yang tidak hadir disana, karena dia masih berada di sekolah, belum tau juga kalau mbak iparnya masuk rumah sakit.
"Masya Allah, mama bangga padamu Jihan." Oma Rifa memeluk Jihan seperti putrinya sendiri.