
Bismillah.
Di lantai bawah semua orang sudah tidak sabar menunggu kehadiran mempelai wanitanya, banyak sekali yang penasaran seperti apa sosok Jihan. Ada juga orang-orang yang merasa kaget ternyata bukan Elsa perempuan yang akan menikah dengan Radit, melainkan perempuan lain.
Nama Jihan begitu asing di telinga banyak orang, karena tidak ada satupun yang menyinggung nama Jihan, jadi banyak orang yang bertanya-tanya Jihan dari kalangan mana. Sungguh nenek Rifa tidak mempermasalahkan mantunya dari kalangan Mana. Kaya, miskin bagi nenek Rifa sama saja, mereka masih sama, sama manusia bukan. Nenek Rifa dan ibu Kasih sudah menyusul Jihan yang berada di kamar Nafisa.
Kedua orang tua itu tidak tahu, kalau saat ini Jihan dan Nafisa masih saling berpelukan, keduanya menangis begitu haru. Tidak akan ada lagi yang dapat memisahkan mereka berdua, selain Allah nantinya. Jihan dan Nafisa sudah terikat sejak Radit mengucapkan akada nikah untuk Jihan.
Di dalam hati Jihan, dia berjanji akan menyayangi Nafisa seperti putrinya sendiri untuk seumur hidupnya, sampai Allah lah yang menakadirkan nyawa dan jiwanya akan berpisah.
Klek.
Pintu kamar Nafisa dibuka, tapi dua orang yang masih berpelukan di kamar itu tidak menyadari kedatangan nenek Rifa dan ibu Kasih. Sejenak nenek Rifa dan ibu Kasih mematung di ambang pintu, keduanya saling pandang satu sama lain sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam kamar..
Jika begini jadinya seperti Nafisa yang menikah Jihan bukan Radit, mungkin nanti ayah dan anak itu akan berebut Jihan.
Pasti Radit taulah ya kebahagiaan Nafisa lebih penting bukan.
Sebenarnya Ayu sudah dari tadi ada di dalam kamar Nafisa, dia ditugaskan untuk menjemput Nafisa dan mbak Jihan, tapi melihat Nafisa dan mbak Jihan masih saling menangis haru Ayu jadi tidak bernai menghancurkan momen itu.
Pikir Ayu biarlah dia menunggu, sepertinya Ayu lupa, jika kakaknya dan para tamu di bawah sana sendang menunggu kehadiran Jihan.
"Jihan." Panggil ibu Kasih, beliaulah yang pertama kali bersuara.
Suara baru saja yang Jihan dengan, suara ibunya begitu dia rindukan, pelan-pelan Jihan melepas pelukannya dengan Nafisa.
Jihan langsung menoleh ke arah pintu, ternyata ibu Kasih dan nenek Rifa sudah ada di hadapannya..
Deg!
"Ibu." Ucap Jihan, dia segera bangkit memeluk sang ibu.
Ibu yang telah mengandung, melahirkan dan merawatnya sampai tumbuh menjadi gadis dewasa. Ibu Kasih ikut memeluk putrinya, nenek Rifa jadi terharu melihat momen ini.
"Ibu sejak kapan disini? Kenapa tidak memberi kabar Jihan kalau kalian akan kemari? Lalu kalian tau dari mana jika Jihan akan menikah? Maaf." Ucap Jihan bertubi-tubi.
"Adikmu sudah memberi kamu kabar Jihan, Rafli juga mengatakan kalau kamu memang akan menikah, Rafli dapat wa dari kamu katanya." Jelas ibu Kasih.
'Astagfirullah, hp aku kan masih sama ayah Radit.' Batin Jihan, dia baru menyadari hal penting itu.
Untung saja semua foto dirinya dan Hilam sudah lama Jihan hapus, tak ada lagi tentang Hilam dan Pusap di hp Jihan, kenangan bersama kedua orang tersebut sudah lama dia buang jauh-jauh dari hidupnya.
"Sudah jangan menangis lagi, nanti semua make upnya luntur, ayo turun kasihan suami kamu dan para tamu sudah menunggu sedari tadi." Ucap ibu Kasih.
Mendengar perkataan ibu Kasih, nenek Rifa jadi teringat dia tadi akan mengomeli putrinya, jika sampai di kamar Nafisa.
"Nafisa kenalakan ini nenek Kasih." Ucap Jihan.
"Nenek." Sapa Nafisa ramah.
Satu ciuman langsung mendarat di pipi Nafisa, dari ibu Kasih.
"Kamu cantik sekali sayang."
"Terima kasih nenek." Sahut Nafisa.
"Begini, karena sekarang Nafisa punya dua nenek dan dua kakek, jadi mulai sekarang Nafisa akan memanggil nenek Rifa dengan sebuatan oma dan kakek Arman dipanggil opa. Bagaimana apakah oma setuju?" tanya Nafisa pada nenek Rifa.
Oma Rifa langsung berhenti mengoceh putrinya. "Syukurlah." Ucap kak Ayu pelan sambil mengelus dadanya.
"Baik oma sangat setuju, sekarang ayo kita semua turun dulu, kasih ayahmu dan para tamu." Ujar nenek Rifa..
Ayu dan Nafisa mengandeng tangan Jihan bersebelahan, Ayu disebelah kiri dan Nafisa di sebelah kanan. Oma Rifa dan ibu Kasih berjalan di belakang mereka. Mereka menuruni tangga bersama.
Deg!
Jihan dan Radit saling memandang satu sama lain, saat Jihan sudah berada di tangga paling bawah, pandangan itu mengunci begitu saja. Sampai membuat pipi Jihan terasa merona, karena Radit terus memandang dirinya..
Semua orang begitu kagum melihat kecantikan Jihan, make up yang sangat natura, wajah yang begitu cantik ditambah hijab yang Jihan kenakan menambah kesan anggun untuk Jihan, warna baju pengantin yang begitu pas untuk Jihan kenakan.
Baju pengantin itu juga tidak mengetat di tubuh Jihan, tapi juga tak terlalu besar, pokonya pas sekali, semua orang yang melihat baju senada begitu sesuai dengan Jihan, pasti mereka tidak akan percaya, jika baju itu Nafisalah yang memilih.
Nafisa juga yang menggambar desain baju Jihan, pasti semua orang kaget jika mengetahui faktanya, jelas tidak akan percaya, tapi itulah faktanya.
Jihan sudah sampai di dekat Radit, oma Rifa membantu Jihan duduk, di sampaing putranya. Sampai detik ini di dalam hati Jihan masih bertanya-tanya.
'Lalu kemana mbak Elsa? kenapa jadi aku yang menikah dengan ayah Radit?' dua pertanyaan itu masih bersarang di kepala Jihan.
"Jihan sihalakan cium tangan suamimu, sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, dimata agama maupun negara." Ucap pak penghulu.
Sejenak Jihan menatap bapaknya, Joni tau putrinya meminta persetujuan dari dirinya, bapak Joni mengangguk tanda setuju.
Sampai saat ini tatapan Radit tak lepas dari Jihan.
Deg!
Deg, deg, deg.
Jantung Jihan seperti meronta ingin keluar kala tak sengaja mengangkat kepalanya melihat Radit. Radit tengah menatapnya intens dan penuh damba, buru-buru Jihan menyalami Radit..
Setelah itu sesuai acara yang dilakukan Radit mencium kening istrinya mesra, sambil mengucapkan doa penuh syukur pada Allah Azza Wa Jalla.
"Alhamdulillah." Ucap semua orang merasa lega.
"Radit sekarang Jihan tanggung jawabmu, bapak titip Jihan, janga dia baik-baik." Pesan bapak Joni.
"Radit akan menjaga amanah ini dengan baik bapak, insya Allah." Jawab Radit mantap.
Nafisa langsung berhamburan ke dalam pelukan kedua orang tuanya.
"Ayah, bunda." Ucap Nafisa.
Kebahagiaan semakin bertambah kala Nafisa sangat menyambut antusias bunda Jihan.
Jihan dan Radit mantap Nafisa sayang. "Terima kasih sayang." Ucap Jihan dan Radit bersama.
Jika bukan perjuangan Nafisa tentu Radit tak akan dapat menikah Jihan. Tapi mungkin saja Radit dan Jihan sudah ditakdirkan bersama.
Ada yang penasaran sama nasib Elsa dan Ferby? (suaminya)š¤£