Babysitting genius

Babysitting genius
#Perpisahan sekolah Nafisa



Bismillah.


Matahari pagi masih belum terlihat, baru sinarnya saja yang sudah menerangi bumi, tapi matahari masih ditutupi awan putih yang begitu cerah. Tanda jika hari ini akan menjadi hari yang sangat cerah, tidak ada tanda-tanda hujan akan datang mungguyur seluruh kota J.


Pagi-pagi sekali dikediaman keluarga Amran sudah begitu berisik sekali.


"Nafisa.....!" teriak Ayu sekencang mungkin.


Padahal penghuni di rumah itu sangat ramai, tapi hanya suara Ayu yang terdengar menggelegar diseluruh ruangan di kediaman keluarga Amran.


Semua orang yang mendengar teriakan Ayu, mengelus dada mereka masing-masing.


"Astagfirullah." Kaget Jihan.


Jihan yang berada di lantai atas saja bisa mendengar teriakan adik iparnya itu, saking kencangnya suara Ayu.


"Kenapa dek?" bingung Radit.


Dia juga menyusul istrinya yang baru saja keluar kamar, Radit kira Jihan sudah turun ke lantai bawah, taunya masih di depan pintu.


Jihan menghadap suaminya. "Biasa mas, siapa lagi kalau bukan kak Ayu dan Nafisa. Pagi-pagi udah bikin heboh." Jawab Jihan tersenyum.


Dari atas semuanya terlihat begitu jelas, orang-orang yang berada di dapur juga meja makan, bahkan Ayu yang masih mencari keberadaan Nafisa.


"Coba lihat mereka semua mas." Ucap Jihan sambil menunjuk semua orang yang berada di lantai bawah.


Radit memperhatikan semua orang, Tapi baru beberapa detik, dia memperhatikan mereka semua suara Ayu membuat Radit terlonjak kaget.


"Nafisaaaa....!" Teriak kak Ayu sekali lagi, kali ini lebih kencang dari sebelumnya.


Saat itulah Radit yang berada di atas dapat melihat jelas semua orang mengelus dada mereka, bahkan ada yang sampai menutup kuping.


Cek!


"Lama-lama semua orang bisa budek, mendengar teriakan Ayu." Komentar Radit.


"Sudah mas, ayo kita turun dan sarapan, hari ini kita mau ke sekolah Nafisa."


"Kamu benar juga dek." Sahut Radit.


Hari ini memang sudah 2 hari setelah ke pulangan Jihan dari rumah sakit, Radit dan Jihan turun ke lantai bawah bersama, sedangkan Nafisa sudah dari tadi ada dibawah.


Bocah itu juga mengerjai kak Ayu, maka dari itu pagi-pagi seperti ini Ayu sudah teriak-teriak tak jelas seperti berada di hutan saja. Baru saja Jihan dan Radit sampai di lantai bawah, mereka yang tadi melihat Ayu teriak-teriak kini sudah menuduk di hadapan oma Rifa, bersama Nafisa.


"Terus aja teriak, kalian kira di rumah ini hutan apa!" oma Rifa tidak marah.


Beliau hanya memberi pengertian anak dan cucunya, lagipula sekarang saja Ayu dan Nafisa melempem di hadapan oma Rifa, tapi nanti juga kedunya akan kembali seperti semula.


"Maaf oma." Sesal Nafisa.


"Maaf mama." Sesal Ayu juga.


Jihan dan Radit hanya memperhatikan kedua bocah itu.


"Sekarang kembalikan hp kak Ayu." Pinta Ayu pada Nafisa sambil menyodorkan tangannya.


"Nih."


Jihan mendekati putrinya. "Ayo minta maaf sama kak Ayu sayang." Suruh Jihan.


Nafisa menurut saja, sedangkan Ayu menunjukkan muka penuh kemenangan, yang membuat Nafisa menyumpah serapani kak Ayu dalam benaknya.


"Sudah ayo kita sarapan." Ajak oma Rifa akhirnya.


Mereka semua pergi menuju meja makan dan menikmati sarapan yang sudah tersaji dengan tenang. Beberapa menit berlalu semua orang sudah berangkat menjalankan aktivitas mereka masing-masing.


Begitu juga dengan Jihan dan Radit, mereka pergi untuk menghadiri acara perpisahan Nafisa. Sekalian nanti Radit akan mencari sekolah singkat untuk putrinya.


"Oma, nenek kita berangkat dulu, Assalamualaikum." Salam ketiganya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab oma Rifa dan ibu Kasih.


Waktu berlalu ketiganya sudah berada di sekolah Nafisa, sudah banyak orang tua murid yang hadir disana. Semuanya akan mengadakan acara perpisahan untuk anak-anak sekolah angkatan Nafisa.


"Rara."


Teriak kedua bocah itu bersama. Nafisa dan Rara saling berlari mendekati satu sama lain, kedunya saling berpelukan seperti saudara saja. Tapi mungkin saja, setelah acara perpisahan ini Rara dan Nafisa akan berpisah, mereka harus melanjutkan pendidikan mereka masing-masing.


Sedangkan Nafisa, dia akan melanjutkan sekolah cepatnya, Jihan dan Radit tersenyum melihat kedekatan Nafisa dan Rara


"Mas, tau tidak Rara anak orang terkenal di kota B, tapi Jihan heran deh, kenapa Rara sampai sekolah disini." Ucap Jihan.


Jihan dan Radit berjalan menyusul putri mereka yang sudah lebih dulu masuk bersama Rara.


"Rara anak dari pemilik pesantren Al-Hikmah di kota B sayang, sepertinya memilih sekolah disini karena kualitas sekolah di tempat ini lebih bagus. Dari pada di kota B."


"Masya Allah, anak pemilik pesantren rupanya, Nafisa beruntung sekali bisa berteman dengan Rara ya mas."


"Benar sayang."


Tak lama acarapun dimulai semua orang tua sudah duduk di kursi mereka masing-masing.


Ada sekitar 50 anak yang berada di sekolah elit dan berkualitas itu. "Mas itu Nafisa."


"Iya." Jawab Radit.


Nafisa dan Rara berdiri berbelahan, kedua bocah berkerudung itu menunjukan senyum lebar pada semua orang.


'Alhamdulillah, aku bisa melihat Nafisa bisa tersenyum lebar seperti ini di hadapan orang lain.' Batin Radit.


Radit beralih menatap istrinya, 'Terima kasih sudah mempertemukanku dengan perempuan sehebat Jihan. Ya Rabb. Anugerah yang Engkau berikan benar-benar sangat indah.'


Tak henti-hentinya Radit mengucapkan syukur pada Allah Azza Wajalla yang telah memberikan kenikmatan tiadatara dalam hidunya Radit, Jihan adalah pelengkap dirinya dan sang buah hati.


Acara berangsur-angsur selesai, kini para orang tua dipersihlakan foto bersama kedua orang tua mereka.


"Bunda ayah, Nafisa mau foto bersama dengan Ayah bunda, tapi juga bersama Rara boleh."


"Boleh sayang."


"Yeee!"


Rara juga melakukan hal yang sama pada orang tuanya, mengajak untuk foto bersama keluarga Nafisa.


Rara hanya ditemani oleh umanya dan kakaknya yang ini berumur 12 tahun.


"Umi sama Rara saja, Zega tidak mau ikut." Tolak Zega, kakak sulung Rara.


"Ish! Umi, lihat itu kak Zega tidak mau ikut, biar Rara marah ya sama kak Zega." Rengek Rara pada kakaknya.


"Cengeng banget sih dek, iya kakak mau." Pasrah bocah berumur 12 tahun itu.


"Yee!"


Uminya tertawa melihat tingkah kedua anaknya.


"Yasudah ayo." Ajak Rara.


Jihan berkenalan dengan ibu dari Rara, ternyata ibu Rara begitu ramah.


"Mbak saya ibu Nafisa, mbak pasti ibu dari Rara."


"Iya." Jawab umanya Rara tersenyum.


Jihan yakin jika ibu Rara lebih tua dari dirinya.


"Bunda, sudah ayo kita foto bersama." Ajak Nafisa senang sekali, bahkan dia yang mengatur tata letak foto semua orang.


Fotografer itupun takjub dengan cara Nafisa mengatur gaya semua orang berfoto, bahkan umi dari Rara saja setuju dengan gaya yang Nafisa maksud. Tak menyangka bocah seperti Nafisa sudah amat cerdas. Hanya Zega yang menujukan raut muka datar.


"Kak senyum!" kesal Rara pada kakaknya.


"Cerewet banget sih dek!"


Foto bersama itupun dilakukan dengan penuh bahagia.


'Nafisa tidak tahu, kapan lagi bisa bertemu dengan Rara setelah perpisahan hari ini.' Batin bocah itu.