Babysitting genius

Babysitting genius
#Salah sangka



Bismillahirohmanirohim.


Ayu yang sudah duduk di meja makan menatap heran Nafisa dan kakaknya Radit, sejak kapan mereka baikan, dan mbak Jihan berjalan di sebelah mereka.


'Sepertinya aku sudah ketinggalan berita menarik.' Batin Ayu.


Ayu masih menatap ketiga orang itu intens, dia sungguh penasaran apa yang membuat mereka tiba-tiba bisa akrab seperti ini. Lama Ayu menatap ketiganya, tapi dia tak mengeluarkan suara apapun, kedua netranya tak lepas dari pemandangan yang baru dia lihat.


Ayu beralih menatap Jihan, saat dia menatap mbak Jihan bukan jawaban yang Ayu temui, Ayu malah mendapatkan tatap yang sama dari Jihan. Jihan tidak tau apa-apa kenapa ayah Radit dan Nafisa bisa baikan, tapi Jihan senang ayah dan anak itu tidak perang dingin lagi.


"Awas mata kak Ayu copot." Ceplos Nafisa.


Bocah cilik itu baru saja turun dari gendongan ayahnya. Ayu berdecak sebal mendengar perkataan yang keluar dari mulut manis Nafisa, "Nye, nye, nye, nye." Kesal Ayu sambil manyun.


Walaupun Ayu masih manyun, tapi tatapannya tak teralihkan dari ketiga orang yang baru saja bergabung ke ruang makan.


"Dilihat-lihat kalian seperti keluarga bahagia saja." Celetuk Ayu.


Ayu sungguh tak memikirkan perasaan siapapun, dia hanya mengatakan apa yang dilihat olehnya.


"Doakan saja." Sahut ayah Radit.


Dan Nafisa mengangguk. Jihan tak berani bersuara, jujur dia tidak tau apa yang dimaksud oleh mereka semua. yang Jihan tau sebentar lagi ayah Radit akan memperistri Elsa.


'Ya Allah, jangan tumbuhkan perasaan ini pada orang yang sebentar lagi akan memiliki istri.' Batin Jihan.


Takut, jujur Jihan sangat takut jika di dalam hatinya menyukai pria yang jelas-jelas sebentar lagi akan menikah. Mereka bertiga duduk menyusul Ayu di meja makan.


"Nafisa sepertinya kak Ayu melewatkan sesuatu." Cetus Ayu.


"Bisa jadi begitu kak Ayu." Sahut Nafisa.


Senyumnya lebih lebar dari biasanya, "Oh iya mbak Jihan, Nafisa mau makan di supain sama ayah."


"Oke, kalau Nafisa mau makan sama Ayah, berarti mbak Jihan makannya nanti saja sama yang lain." Ucap Jihan akan berdiri.


Baru saja Jihan berdiri suara dingin Radit membuatnya merasa merinding.


"Tidak ada yang boleh pergi dari meja makan sebelum sarapan!"


Deg!


'Ya Allah. Kenapa pak Radit bicara dengan nada dingin lagi apa aku sudah kembali berbuat salah. Keluh Jihan dalam benaknya.


Jihan sampai meremas kedua tangannya, saking takutnya dengan suara Radit, yang terasa seperti ancaman bagi Jihan. Nafisa menyikut lengan ayahnya sedikit kuat.


"Mbak Jihan duduk saja kita makan sama-sama." Ucap Ayu mewakili mereka semua.


"Maaf." Sesal Radit, karena sudah membentak Jihan.


Ayu dan Jihan sampai tercengang mendengar Radit meminta maaf, Ayu bahkan sampai mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Apakah benar barusan dia mendengar sang kakak meminta maaf.


"Aku nggak lagi mimpi kan, mas Radit ngomong apa tadi maaf, wah, wah, wah, sejak kapan es batu satu ini cair."


"Berisik dek, ayo makan!" suruh Radit kembali pada semula.


"Iya, iya, Nafisa kamu berhutang penjelasan pada kak Ayu, apakah kamu sudah melupakan kak Ayu."


"Astagfirullah kak Ayu, bisa kita sarapan dulu? Kalau mendengarkan kak Ayu ngoceh terus bisa-bisa Nafisa terlambat masuk kelas."


Ayu mendengus kesal padahal dia ingin sekali segera mendengar cerita dari Nafisa, tapi benar kata Nafisa bisa-bisa bukan hanya Nafisa yang terlambat, tapi dia juga.


"Baiklah, tapi kak Ayu akan menagih janjimu."


"Hmmm."


"Sudah makan, Jihan ayo kita semua sarapan bersama." Ucap Radit merendahkan suaranya.


"Minum kak Ayu." Jihan menyodorkan segelas air putih pada Ayu dan Ayu langsung meneguk habis air itu.


"Terima kasih."


Benar sekali, Ayu langsung batuk-batuk saat mendengar kakaknya bicara begitu lembut pada Jihan, tidak seperti biasanya.


'Ya Allah, ini harus kasih tau mama kalau mas Radit aneh, awas aja kalau mau permainin mbak Jihan, aku akan maju nomor 1 melindungi mbak Jihan. Sudah mau menikah sama Elsa tapi masih mau mbak Jihan, plin-plan sekali hidup orang ini, dia bukan kakakku kalau begini.' Sebal sekali rasanya Ayu.


Nafisa benar-benar makan disuapi oleh Radit, tapi sesekali dia juga minta disuapi Jihan, jadi apa yang Jihan makan itu juga Nafisa makan.


Selesai sarapan mereka semua bersiap untuk berngakat, "Mas hari ini Ayu nebeng ya." pintanya.


"Iya ayah, kak Ayu berangkat sama kita saja."


"Baiklah." Radit setuju saja.


Pikir Nafisa, jika kak Ayu ikut jadi dia punya alasan agara mbak Jihan bisa duduk disebelah ayahnya.


Ayah dan anak itu masih saling berusaha untuk mengambil hati mbak Jihan.


"Ayo kita berangkat." Ajak Radit.


Mereka semua menuju mobil. Jihan baru saja mau membuka pintu belakang mobil tapi sudah dicegah oleh Nafisa.


"Mbak Jihan duduk di depan, ada yang mau aku bicarakan pada kak Ayu."


"Mbak Jihan tidak boleh dengar? Apa yang akan Nafisa katakan pada kak Ayu."


Nafisa mengaruk hidungnya, sepertinya mbak Jihan nya ini tau akan akal Nafisa.


"Boleh mbak Jihan."


"Kalau begitu biarkan mbak Jihan duduk dibelakang."


"Cek, boleh mbak Jihan tapi tidak sekarang, nanti mbak Jihan juga akan tau apa yang aku dan kak Ayu katakan, jadi sekarang duduklah di depan dulu." Suruh Nafisa.


"Iya." Pasrah Jihan.


Ayu tak berkomentar, dia hanya memperhatikan gelagat Nafisa saja. Sementara Radit sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu.


Radit melajukan mobilnya saat mereka semua sudah masuk, senyum terukir dibibir Radit saat melihat Jihan duduk disebelahnya, hanya begini saja sudah membuat pria itu senang. Mungkin duda anak satu itu puber kembali.


Jihan diam saja sama sekali tak bergeming, dia juga tidak bisa mendengar pembicaraan Ayu dan Nafisa, padahal Jihan kepo apa yang sedang mereka bicarakan. Tak lama mereka sampai di sekolah Ayu. Gadis itu langsung saja turun dari mobil. "Dah Nafisa kak Ayu duluan."


"Dah kak Ayu." Jawab Nafisa.


Jihan melirik sekilas, melihat Ayu dan Nafisa akrba tiba-tiba membuat curinganya semakin bertambah.


'Jangan-jangan mereka baik padaku ingin memecatku jadi pengasuh Nafisa, kalau seperti itu bagaimana nasibku kedepanya, Ya Allah." Ternyata Jihan sudah salah mengartikan.


Nafisa memang sudah mengatakan beberapa hal pada kak Ayu. Mobil kembali melaju Nafisa pura-pura tidur, Radit sudah berjanji akan meminta maaf pada Jihan masalah di rumah sakit waktu itu.


Raditr melirik Jihan sekilas, 'Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk minta maaf.' Batin Radit mantap dia masih fokus nyetir.


"Jihan." Panggil Radit.


"Iya ayah Radit." Sahutnya sudah mulai was-was.


"Saya mau m-"


"Ayah tolong jangan cepat saya, saya minta maaf kalau selama ini belum bisa menjaga Nafisa dengan baik, saya janji akan lebih baik lagi." Padahal Radit belum selesai bicara.


'Astagfirullah.' Batin Radit jadi bingung sendiri.


Di belakang Nafisa menahan tawanya mendengar perkataan mbak Jihan.