Babysitting genius

Babysitting genius
#Ke sungai



Bismillah.


Sore hari Nafisa ingin mengajak ayah dan bundanya pergi ke sungai bersama kak Rafli juga tentunya.


"Bunda, ayah!" Nafisa masuk ke dalam kamar Jihan.


Ternyata Radit baru saja bangun tidur, sedangkan Jihan berada di dapur membantu ibu Kasih menyiapkan makanan untuk para keluarga yang diundang ke rumah mereka.


Radit merasa terusik mendengar teriakan Nafisa, segera Radit membuka kedua matanya yang masih terpejam sempurna.


"Ada apa sayang?" tanya Radit, sambil membawa Nafisa ke atas kasur Jihan.


"Ayah lelah ya?"


Nafisa merasa iba pada ayahnya sendiri. "Tidak, kenapa cari bunda? Memang bunda di mana?"


Nafisa menggeleng, dia yang asyik bermain dengan Rafli tidak melihat bundanya pergi ke dapur bersama nenek Rifa.


Ceklek!


Pintu kamar itu terbuka. "Bunda disini, ada apa?" tanya Jihan mendekati anak dan suaminya.


Radit dan Nafisa langsung menyungging senyum kala melihat kehadiran Jihan.


"Ayo mandi." Ajak Jihan.


"Mandi di sungai ya bun!" pinta Nafisa dengan mata berbinar.


Jihan tidak menjawab, dia menatap suaminya, apakah mereka akan pergi ke sungai? sungai di desa Jihan memang tidak terlalu jauh dari rumahnya, mungkin 10 menit sudah sampai.


Sungai itu juga berada didekat sawah para warga desa. "Baiklah ayo kita mandi di sungai bersama." Putus Radit akhirnya.


"Yeee! terima kasih ayah."


"Sama-sama sayang."


'Pasti Rafli nih kerjanya ngajak Nafisa mandi di sungai kan udah sore, pasti sungai sedikit ramai ibu-ibu dan yang lain.' Batin Jihan.


Membayangkan suaminya mandi di sungai lalu menjadi tatapan para ibu-ibu dan gadis desa ada yang ganjen membuat Jihan tidak teriam sama sekali. Rasanya Jihan jadi kesal sendiri. Tanpa Jihan sadari, dia memasang muka beta pada suaminya itu, Nafisa dan Radit saling pandang kala melihat wajah Jihan yang tiba-tiba berubah.


"Bunda kenapa? Bunda tidak boleh Nafisa dan ayah mandi di sungai?" tanya Nafisa mewakili ayahnya juga.


"Bunda kalau bunda tidak izinkan Nafisa tidak akan mandi di sungai kok." Ucap Nafisa lagi, karena dia tidak mendapatkan jawaban dari bundanya.


Radit menyentuh tangan istrinya, "Boleh sayang." Jawab Jihan akhirnya.


"Yeee!" kini bukan hanya Nafisa yang bersorak senang tapi juga Radit.


Tentu saja reaksi Radit itu semakin membuat Jihan kesal saja. "Tapi ada syaratnya!" ucap Jihan lagi.


Seketika Radit dan Nafisa langsung terdiam menatap Jihan cengoh. "Apa syaratnya bun?" kini giliran Radit yang bertanya.


"Tidak boleh mandi di tempat yang ramai, biasanya banyak ibu-ibu dan para gadis di jam segini." Ucap Jihan sambil memasang muka kesal pada suaminya.


"Baik bunda, Nafisa akan panggil kak Rafli dulu, bunda dan ayah nyusul jangan lama."


Nafisa turun dari kasur, segera keluar rumah mencari keberadaan Rafli, dia orang yang tadi mengajak Nafisa mandi di sungai.


Setelah kepergian Nafisa, Jihan masih menatap suaminya kesal, Jihan tau dia tidak boleh seperti itu, tapi Jihan sendiri tidak bisa mengendalikan dirinya jika mengingat banyak orang yang akan mandi di sungai apa lagi mereka rata-rata perempuan semua.


Tidak tau pokonya Jihan kesal saja. 'Astagfirullah, ada apa dengannya?' binung Radit, takut sekali dia kalau istrinya itu marah.


Yah walaupun selama menikah dengan Jihan, Radit belum pernah melihat istrinya marah sekalipun, pada siapapun itu.


"Kenapa, apanya mas?" bingung Jihan.


"Aneh." Gumun Radit tanpa sadar.


"Siapa yang aneh?" Jihan kembali menatap suaminya kesal, bahkan saat ini bola matanya sudah berkaca-kaca.


'Astagfirullah, sabar Radit.'


Radit langsung bangkit dan membawa istrinya ke dalam pelukannya, Radit menciumi istrinya bertubi-tubi.


"Mas, ayo katanya mau mandi ke sungai, kasih Nafisa kalau nunggu lama, oh iya, nanti mandi di sungai tidak boleh lepas baju! Harus pake baju."


Jihan sudah berbalik menatap suaminya, Radit kembali menatap heran istrinya.


"Kok gitu?"


"Oh, jadi mas Radit tetap mau mandi nggak pake baju di sungai, ya udah sana kalian aja yang ke sungai, Jihan mau tidur."


'Astagfirullah, salah lagi.'


"Nggak sayang, mas akan nuruti apa kata kamu, udah ayo kasihan Nafisa, katanya kamu juga mau ikut tadi, kalau kamu nggak ikut kita semua mandi di rumah saja."


Jihan begitu senang mendengar perkataan suaminya. "Ayo susul Nafisa."


Radit dan Jihan segera menyusul Nafisa, tak lupa sebelum itu Jihan menyiapkan peralatan mandi untuk mereka semua, sekaligus baju ganti dan handuk, semuanya sudah Jihan siapakan lengkap.


"Bunda, ayah ayo!" ajak Nafisa kala melihat ke hadiran Jihan dan Radit.


"Ayo." Ajak Rafli.


Rafli menuntun jalan bersama keponakanannya, sementara Jihan dan Radit mengikuti dari belakang. Sesekali Jihan menyapa warga yang dia kenal, atau membalas sapaan warga yang menyapa dirinya.


"Mereka kotor sekali dari mana dek?" tanya Radit.


Sepanjang perjalanan Radit tak melepaskan tangan istrinya, dia terus saja memasang wajah datar, kecuali ada bapak-bapak atau ibu-ibu yang menyapa, Radita akan sedikit tersenyum, karena istrinya terus menyikut sikunya Radit.


"Mereka abis dari sawah mas." Jawab Jihan.


Rafli yang masih mendengar obrolan mbak dan mas iparnya ikut nimbrung. "Mas Radit mau tidak besok kita ke sawah." Ajak Rafli.


Jihan langsung melotot mendengar perkataan adiknya, bisa-bisanya si Rafli mengajak Radit ke sawah. Bukan sudah jelas Radit tak pernah ke sawah, membayangkan suaminya ke sawah Jihan, jadi merasa tidak tega.


"Boleh, mas juga rencananya akan ke sawah bersama bapak besok, kita pergi sama-sama."


"Nafisa ikut!" ucap anak itu kegirangan.


'Astagfirullah.' Jihan sampai memijat pelipisnya sendiri, Jihan tidak tau apa yang akan terjadi pada anak dan suaminya, jika kedua orang itu benar-benar ke sawah.


Tak lama mereka sudah sampai di sungai, Jihan juga sudah berpesan pada Rafli untuk mencari tempat sungai yang sepi.


Benar sampai di sungai ada banyak ibu-ibu dan para gadis yang sedang mandi, tapi sore ini tidak seramai biasanya. Jihan tak memberikan suaminya sedikitpun untuk melihat kerahan ibu-ibu dan para gadis yang hanya mengenakan bahasa mandi saja.


Tapi Radit memang tidak tertarik sama sekali, dia lebih suka menatap wajah istrinya dekat seperti ini, diluar dugaan bahkan Radit sampai memeluk pinggang istrinya posesif sekali. Hati Jihan berbunga, dia senang sekali suaminya berlaku manis padanya, akhirnya mereka sampai di tempat yang sedikit sepi.


"Mbak kita disini saja." Ucap Rafli sambil menoleh ke belakang diikuti Nafisa.


"Astagfirullah." Ucap Rafli refleks, bahkan dia langsung kembali berbalik dan menutup mata ponakannya, Rafli seharusnya tidak boleh melihat adegan itu.


Jihan jadi malu sendiri, semua itu memang ulah suaminya.


"Mas Radit sih." Kesal Jihan, Radit malah terkekeh.