Babysitting genius

Babysitting genius
#Sudah boleh pulang



Bismillah.


1 Minggu berlalu Jihan sudah diperbolehkan pulang, kini Jihan sudah dinyatakan sembuh total. Radit sendiri yang menjemput istrinya pulang bersama sang anak.


"Yee! Bunda akhirnya pulang juga, Nafisa kangen bunda."


Nafisa langsung menabrak tubuh Jihan dan memeluk bundanya begitu erat. "Anak bunda." Ucap Jihan sambil terkekeh.


"Anak ayah juga dong." Sahut Radit, kini mereka bertiga yang akhirnya terkekeh bersama.


"Mas, sini biar Jihan saja yang bereskan semuanya."


"Tidak apa sayang, mas bisa lagipula hanya sedikit."


Jihan merasa tidak enak melihat sang suami, memasukkan barang-barangnya dan juga milik Radit, selama Jihan berada di rumah sakit, Radit selalu menginap bersama istrinya, tapi Radit juga selalu memberikan perhatian pada putrinya.


Selama Jihan sakit, tentu saja Nafisa kurang diperhatikan, karena bundanya berjuang melawan rasa sakit, tapi Radit sebagai ayah dan suami selalu menjadi ayah yang siap siaga, walaupun begitu Radit tak pernah metelantarkan tanggung jawabnya sebagai direktur di perusahaan Amran Mining.


Setiap ada pertemuan dengan klien, Radit akan selalu hadir, dia juga sering mengerjakan pekerjaannya lewat laptop saja.


Tak jarang tengah malam, saat menjaga Jihan, Radit masih bergelut dengan laptopnya. Kerjaa tetap, mengaja istri harus dan memperhatikan anak Radit lakukan.


Masih di kamar rawat Jihan.


"Ayo kita pulang, semua sudah beres." Ajak Radit."


"Ayo mas, Jihan juga sudah tidak betah bau rumah sakit."


Lalu Nafisa menggandeng tangan bunda dan ayahnya, sambil mengembangkan sebuah senyum.


Walaupu Jihan sudah diperbolehkan pulang, tapi Jihan harus melakukan rawat jalan selama 3 bulan kedepan, Jihan tidak masalah jika dia harus rawat jalan.


"Ayah, bunda lusa acara kelulusan Nafisa, ayah bunda dateng kan?"


"Jelas dong sayang." Jawab kedunya.


"Sekalian ayah mau daftarin Nafisa ke sekolah tahap cepat." Ucap Radit.


Nafisa mengangguk patuh, lagipula dia juga sudah membicarkan hal ini pada bundanya, Jihan tidak masalah maka Nafisa akan menurut.


Nafisa benar-benar patuh pada bundanya. Tak lama mereka sudah berada di dalam mobil.


Radit langsung menyalakan mesin mobilnya, sebenarnya Radit ingin mengajak istri dan anaknya jalan-jalan lebih dulu, tapi mengingat Jihan baru saja keluar dari rumah sakit, hal itu Radit urungkan.


Jihan dan Nafisa asyik mengobrol, tapi sesekali juga kedunya mengajak Radit mengobrol pula, karena Radit harus fokus menyetir.


"Ayah berhenti sebentar!" pinta Nafisa.


Radit memberhentikan mobilnya begitu saja, "Ada apa, sayang?" tanya Jihan bingung.


Tak biasanya Nafisa tiba-tiba memberhentikan mobil seperti ini, sementara yang ditanya hanya bisa menyengir saja, menunjukkan deretan giginya yang kecil-kecil dan putih bersih.


"Hehehe, ada tukang jual eskrim keliling Nafisa mau ya." Pintar Nafisa..


Jihan dan Radit saling melempar pandang mereka satu sama lain, Radit tidak mau Nafisa sakit perut kalau makan jajanan di jalan apalagi eskrim, kalau yang lain pasti Radit setuju saja.


"Ayah, belikan Nafisa dong." Pinta Nafisa penuh harapan.


"Aku juga mau satu mas." Celetuk Jihan begitu saja.


"Oke, fine, ayah belikan." Pasaran Radit.


Radit segera turun dari mobil, lalu membelikan apa yang diinginkan anak dan istrinya. Tidak butuh waktu lama Radit sudah kembali ke dalam mobil.


"Terima kasih ayah." Ucap Jihan dan Nafisa bersama, saat Radit menyodorkan 2 eskrim pada Jihan dan Nafisa..


1 rasa coklat untuk Jihan dan 1 lagi rasa vanilla untuk Nafisa. Setelahnya Radit kembali melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Amran.


Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di kediaman Amran, ternyata semua orang sudah menunggu ke pulangan Jihan, termasuk ibu Kasih yang amat mengkhawatirkan putri sulungnya.


Saat bapak dan adik Jihan pulangnya, kondisi Jihan sudah lumayan membaik.


"Assalamualaikum semua." Salam Jihan, Nafisa dan Radit.


"Wa'alaikumsalam." Jawan semua orang yang sudah menunggu kepualngan Jihan.


"Alhamdulillah kamu sudah baik-baik saja, Nak." Ucap ibu Kasih.


Jihan menyalami ibunya. "Iya bu, Alhamdulillah." Jawab Jihan, bankan dia sampai mencium ibunya, saking rindunya Jihan pada sosok yang sudah melahirkan dirinya.


Walaupun ibu Kasih sudah lama berada di kota J, tapi Jihan tak bisa bermanja dengan ibunya sendiri, karena keadaan Jihan yang tidak memungkinkan. Oma Rifa dan semuanya tersenyum melihat Jihan dan ibu Kasih saling menyayangi satu salam lain.


"Ayo kita masuk dulu." Ajak oma Rifa pada semua orang.


Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah.


"Jihan istirahatlah dulu, kamu harus banyak istrihat." Saran oma Rifa.


"Iya Ma."


Sementara Nafisa sudah pergi ke taman belakang menghampiri Caca, tapi sebelum itu Nafisa juga menemui kucing kesayangannya lebih dulu.


Waktu bergulir tak terasa malam sudah tiba.


Nafisa malam ini tidur sendiri, dia hanya kadang-kadang saja tidur bersama ayah bundanya, mungkin besok Nafisa akan minta tidur bersama mereka.


Jihan menemani putrinya tidur terlebih dahulu, setelah memastikan Nafisa sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya, barulah Jihan meninggalkan Nafisa menuju kamarnya dan sang suami, tapi sebelum itu Jihan membenarkan posisi tidur Nafisa lebih dulu.


Tak


Tak


Tak


Jihan melangkah menuju kamar mereka, Jihan membuka pelan pintu kamar, takut suaminya sudah tidur, namun Jihan salah ternyata Radit masih berperang dengan laptopnya.


"Mas Radit apa tidak capek, setiap malam selalu melihat laptop saja." Jihan jadi iba sendiri melihat suaminya.


Dia tidak jadi masuk ke kamar mereka, Jihan keluar lagi dan menuju dapur untuk membuatkan suaminya minum. Setelah itu baru Jihan kembali lagi ke kamar mereka, perlahan Jihan mendekati suaminya yang masih fokus pada laptop.


"Mas, minum dulu." Ucap Jihan.


Radit menoleh, dia melihat istrinya langsung tersenyum. "Terima kasih dek." Ucap Radit.


Langsung saja Radit menyeruput minuman buatan istrinya. "Mas Radit tidak capek memang kerja terus?"


"Malam kerja, siang kerja, pagi kerja." Ucap Jihan.


Memang setiap hari Jihan selalu melihat suaminya bekerja, hebatnya Radit masih memiliki banyak waktu untuk dirinya dan Nafisa.


Radit menarik sang istri, sampai Jihan jatuh dipangkuan Radit, "Mas!" kaget Jihan.


"Tidak apa dek, mas lelah memang, tapi setiap lihat kamu dan Nafisa, rasa lelah mas rasanya pergi begitu saja."


Radit menyederkan kepalanya dileher sang istri, Jihan berbalik agar bisa menghadap suaminya.


"Mas terima kasih sudah mencintai dan menyayangi Jihan dengan tulus." Ucap Jihan sambil menatap manik mata suaminya dalam.


"Harusnya mas yang bilang terima kasih sama kamu dek, terima kasih sudah mencintai dan menyayangi mas dan Nafisa."


"Maaf jika saat kita menikah mas dan Nafisa sekaan memaksa kamu untuk jadi bagian dari kami."


Jihan terkekeh, "Itu aku saja yang tidak peka mas."


Kini giliran Radit yang ikut terkekeh pula..