Babysitting genius

Babysitting genius
#Bersyukur



Bismillah.


Jihan mengakat kepalanya, kala itu juga dia langsung bersih tatap dengan Elsa. Elsa menatapnya begitu tajam, tapi Jihan sama sekali tidak takut dengan tatapan itu.


Jihan balas mentapa Elsa lebih tajam, tapi Jihan tidak mengeluarkan sepatah katapun, karena memang tidak ada yang ingin Jihan katakan pada Elsa.


"Mas, ayo kita pulang." Ajak Jihan.


Jihan sengaja bersikap manja pada suaminya, Radit mengelus pucuk kepala istrinya yang tertutup hijab begitu lembut.


"Sebentar sayang ada yang harus mas tuntaskan dulu." Ucap Radit lembut.


Radit mengajak Jihan untuk menemui Febry, ada yang harus Radit katakan pada laki-laki itu..Siapa sangka saat Radit dan Jihan melewati Elsa begitu saja, dengan tidak sopan Elsa menarik kerudung Jihan.


"Elsa lepas!" ucap Jihan, saking syoknya dia reflek berteriak.


Radit dengan sigap menahan istrinya, Radit langsung membawa istrinya ke dalam dekapan dirinya.


Plak!


Satu tamparan dari Radit mendarat sempuran di pipi Elsa, "Kamu tidak apa sayang?" tanya Radit pada Jihan.


Setelah dia menampar Elsa begitu kuat, jujur Radit begitu khawatir pada istrinya, apalagi melihat hijab Jihan hampir terlepas.


Tidak ada laki-laki lain yang boleh melihat Jihan tanpa hijab, hanya Radit lah yang dapat melihat kecantikan istrinya. Jihan menggeleng kepalanya di dekapan suaminya, memberitahu tanda dia tidak apa-apa. Hanya Jihan syok saja. Kala ada yang menarik hijabnya.


"Hati-hati ya! Saya bisa nuntut kamu lebih dari ini!" Radit mentapa tajam Elsa.


"Bawa dia pak!" suruh Radit pada para polisi yang bertugas.


Elsa segera di bawa ke dalam sel para tahanan, mulai hari ini Elsa akan jadi salah satu penghuni jeruji besi itu.


"Sudah tak apa." Radit melihat istrinya dengan tatapan lembut.


Jujur Radit juga sempat khawatir jika ada yang melihat istrinya tak berhijab, bagimana tidak istrinya jika tak mengekan hijab begitu cantik.


Benar mengenakan hijab saja Jihan sudah sangat cantik, hidungnya yang bagir, bibir tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis pula, ditambah bibir itu tidak memakai lipstip saja sudah merah merona, mata yang bulat sempura, warna bola mata yang begitu hitam menambah kesan indah pada rupa Jihan, jangan lupakan tinggi badan dan berat badan yang sangat ideal.


"Mas kita pualng saja ya, sudah waktunya Nafisa pulang sekolah juga." Ujar Jihan, syoknya sudah pergi.


"Baik." Sahut Radit.


Dia tak jadi menemui Febry, menurut Radit, kenayaman istrinya yang paling utama dan juga Nafisa harus mereka prioritaskan.


Sebelum pergi Radit mengucapkan terima kasih lebih dulu pada pihak kepolisian dan pihak pengadilan yang sudah mau bekerja sama dengan dirinya untuk menangkap penjahat seperti Febry dan Elsa. Radit dan Jihan sudah berada di dalam mobil, tapi Radit tak kunjung melajukan mobilnya membuat Jihan merasa heran.


"Mas kok nggak jalan?" bingung Jihan, "Kasihan Nafisa lo kalau nunggu kita."


Radit tak menjawab tiba-tiba saja dia memeluk Jihan begitu erat, "Mas nggak akan pernah rela ada laki-laki lain yang lihat kamu tidak pakai hijab." Ucap Radit.


Jihan merasa tidak enak pada suaminya, karena dulu dia juga tak mengenakan hijab, sebelum merantau ke kota.


"Mas, tapi kalau dulu ada yang pernah lihat Jihan tidak pakai hijab bagaimana?" tanya Jihan pelan.


Radit langsung melepaskan pelukannya pada Jihan, dia teringat tentang Hilam dan Puspa.


"Tidak papa itu dulu, tapi boleh mas tanya satu hal?"


"Tentu."


Radit tersenyum senang, Jihan sepertinya mudah terbuka dengan dirinya. "Dulu waktu kamu pacaran dengan laki-laki yang bernama Hilam itu bagaimana?"


Sebenarnya bukan itu yang ingin Radit tanyakan pada Jihan, dia ingin bertanya apakah Jihan sudah mencintai dirinya atau masih mencintai laki-laki yang bernama Hilam itu. Tapi Radit tidak ingin istrinya berfikir yang tidak-tidak, Radit ingin menjaga hati istrinya.


Jihan mengehela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Radit, Jihan sudah mantap di dalam hatinya akan selalu jujur pada sang suami, akan saling terbuka apa adanya. Karena Jihan tau kunci utama rumah tangga yang utuh itu saling melengkapi satu sama lain, saling terbuka satu sama lain juga dan harus bisa saling memahami, baik suami maupun istri.


Jihan hanya tidak mau, karena masa lalu dirinya, hubungan rumah tangga dia dan suaminya jadi tidak baik-baik saja. Dalam diri Jihan dia sudah berkomitmen pada diri sendiri, dalam hidupnya hanya ada pernikahan sekali seumur hidup.


"Aku memang pernah berpacaran mas, aku memang tak sebaik yang orang kira." Ucap Jihan mulai bercerita.


Disaat Jihan mulai bercerita Radit langsung memegang tangan istrinya lembut, untuk menguatkan Jihan, mendapat perhatian kecil dari Radit membuat senyum Jihan terbit.


Radit tak menyela cerita istrinya, dia memberikan Jihan bercerita sampai selesai.


"Kala aku berpacaran dengan Hilam memang belum lama, aku juga jarang ketemu denganya, setiap kali aku bertemu dengan Hilam, pasti ada Puspa bersama Hilam, Puspa sahabatku, tapi sekarang sudah tidak lagi."


"Sampai suatu hari Hilam bicara pada bapak akan melamarku 1 minggu lagi, Allah berkehendak lain, nenek meninggal. Hilam tidak jadi melamarku, karena keluarga sedang berduka. Hebatnya 1 minggu aku masih berduka ternyata Hilam dan Puspa memberiku undang pernikahan atas nama mereka berdua."


"Tentu saja aku sangat kaget, karena banyak warga yang mencibirku akhirnya aku memutuskan untuk ke kota dan berakhir menjadi pengasuh Nafisa. Tapi aku yakin dibalik setiap musibah ada hikmah."


"Sampai akhirnya aku sadar Allah ternyata tidak mentakdirkanku berjodoh dengan Hilam, Allah ternyata sedang menyiapkan jodoh terbaik untuku, sampai aku bertemu dengan mas Radit. Allah luar bisa mas, mengganti lebih berkali-kali lipat dari sebelumnya." Ucap Jiha tersenyum.


"Alhamdulillah, mas juga sama sayang, tak menyangka ternyata Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk mas, kamu adalah jawaban dari semua yang telah mas lalui." Balas Radit.


Mobil Radit sudah meninggalkan pengadilan sendiri tadi, sebentar lagi mobil itu akan sampai di depan sekolah Nafisa.


"Besok lusa kita langsung ke rumah ibu dan bapak, biar papa, mama dan Ayu menyusul, sampai Ayu libur sekolah."


"Iya mas, aku baru ngeh kalau Ayu sama Rafli seumuran, aku pernah dengar Rafli bilang, coba saja adik mas Radit cowok kan enak bisa diajak mabar." Ucap Jihan mengingat perkataan adiknya tempo lalu.


"Beritahu Rafli, jika ayu paling jago mabar, mungkin Rafli belum ada apa-apanya dari Ayu."


Kedua orang itu akhirnya tertawa bersama, saat mobil sudah sampai di depan sekolah Nafisa, mereka segera turun. Tepat sekali Nafisa sudah muncul di depan gerbang sekolah, "Nafisa sayang." Panggil Jihan.


Keduanya mendekati sang anak yang sudah menyunging senyum paling manisnya.