Babysitting genius

Babysitting genius
#Kamar Radit



Bismillah.


Sore hari para tamu undangan sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Jihan tidak tau kalau semua bajunya sudah dipindahkan ke kamar utama milik Radit. Sekarang musuh Ayu bukan hanya Nafisa saja, tapi juga bertambah Rafli, sejak siang tadi Rafli dan Ayu tidak akur sama sekali.


Melihat hal itu Nafisa tersenyum penuh kemenangan, artinya Nafisa memiliki patner untuk menjahili kak Ayu. Soren ini juga Nafisa mengajak kak Ayu dan kak Rafli untuk bermain dengan Caca. Rafli sangat antusias bermain dengan Caca berbeda sekali pada Ayu yang terlihat begitu malas.


Walaupun Ayu salah satu penghuni di kediaman keluarga Amran, tapi jarang sekali aku menginjakkan kakinya di taman belakang, Ayu paling tak mau bertemu dengan bintang buas itu. Jika bukan karena dipaksa Nafisa tidak mungkin saat ini Ayu berada di taman belakang dengan Nafisa dan Rafli.


"Yak! Nafisa, Rafli!" teriak Ayu sekencang mungkin.


Bagaimana tidak Ayu dikerjai oleh Rafli dan Nafisa, kedua orang itu sudah membuat siasat agar Caca mau mengejar Ayu. Ayu terus saja berlari, berbeda dengan Rafli dan Nafisa yang sedang menikmati tontonan gratis, dimana Ayu dikejar-kejar oleh Caca.


Rafli dan Nafisa bahkan tertawa terbahak-bahak tak ada kasihan sedikitpun pada Ayu.


"Ayo Caca terus!" teriak Rafli.


Ceritanya Rafli sedang balas dendam pada Ayu, karena sampai sore ini punggu Rafli yang Ayu tabrak masih terasa nyeri.


"Nafiasa! Hentikan tidak!" teriak Ayu semakin kencang.


"Tidak mau, week!" Nafisa menjulurkan lidahnya pada Ayu.


"Kalian awas ya! Akan ku balas!" teriak Ayu.


Ayu berlari sekencang mungkin ke arah Nafisa dan Rafli, melihat Ayu berlari ke arah mereka Nafisa dan Rafli segera berlari pula.


Jadilah mereka sedang kejar-kejaran di taman belakang.


Berbeda dengan Ayu, Nafisa dan Rafli.


Di kamar Radit.


Jihan sangat merasa canggung kala oma Rifa menyuruh dirinya untuk memasuki kamar Radit. Ini untuk pertama kalinya Jihan masuk ke dalam kamar Radit.


"Ya Allah." Ujar Jihan sambil memegang dadanya sendiri.


Radit memang masuk ke kamar lebih dulu, karena tadi Jihan harus menemui Manda dulu, setelah Manda pamit pulang diantar Cahyo. Barulah Jihan menyusul suaminya. Walaupun ragu Jihan tetap masuk ke dalam kamar Radit.


Saat sudah masuk ke dalam, ternyata Jihan tidak melihat keberadaan suaminya, sampai samar-samar Jihan mendengar suara percikan air, Jihan yakin jika saat ini suaminya sedang membersihkan diri.


Jihan berinisiatif menyiapkan pakaian ganti suaminya, bagaimana pun juga Jihan sudah dewas, tentu dia tau tugas sebagai seorang istri. Jihan yang masih mengekan baju pengantin berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju santai suaminya, setelah merasa dirinya sudah mengambil yang pas Jihan meletakan baju itu di atas kasur.


Lalu Jihan kembali keluar kamar menuju dapur, dia teringat pesa ibunya. "Jika sudah menikah maka berikan suamimu air madu atau susu, atau sesuatu yang manis." Begitu pesan ibu Kasih


Maka dari itu Jihan kembali ke dapur membuat segelas teh madu untuk dia berikan pada suaminya. Tepat saat Jihan kembali keluar kamar, Radit selesai membersihkan diri.


Radit menoleh kesana kemari mencari keberadaan istrinya, pasalnya tadi Radit mendengar ada orang di dalam kamarnya dan Radit yakin sekali jika itu istrinya. Namun sayang Radit tak melihat keberadaan Jihan di kamar, sampai Radit melihat baju gantinya yang sudah siap di atas kasur. Radit menyungingkan sebuah senyum, benar dugaannya, jika Jihan baru saja dari kamar itu.


"Lalu dimana dia sekarang?" bingung Radit.


"Rasanya beda sekali pakai baju dipilih sendiri sama dipilih istri." Ucap Radit senang.


Semenjak menikah dengan Jihan, Radit jadi sering sekali tersenyum. Setelah selesai mengekan baju yang dipilih istrinya Radit membuka hpnya, dia akan mengecek gmail dari Cahyo tentang proyek mereka yang sedang berjalan.


Bukan hanya itu saja Radit juga mengecek gmail dari polisi, Radit ingin tau perkembangan penangkapan Elsa dan suami.


Kala Radit tengah fokus membaca gmail, Radit mendengar pintu kamarnya terbuka, sontak saja Radit jadi melihat ke arah ambang pintu.


Orang yang sedari tadi Radit tunggu-tunggu akhrinya datang juga, Jihan kembali ke kamar dengan nampan yang berisikan madu dan air susu. Tadi di dapur oma Rifa sendiri yang menyuruh Jihan untuk membawakan semua itu, agar diberikan pada suaminya.


Melihat Jihan datang Radit langsung meletakan hpnya di atas nakas yang berada di sebelah kasurnya. Walaupun ragu Jihan tetap berjalan mendekati Radit, malu sekali pokoknya Jihan saat ini, apalagi Radit terus saja menatap dirinya.


Radit sendiri tidak tau kenapa dia sekarang jadi sangat suka memandang Jihan, rasanya Radit ingin setiap hari terus melihat wajah istrinya. Radit jadi berpikir, istrinya itu secantik apa kala tak mengekan hijab, berpikir seperti itu Radit jadi tidak sabar untuk melihat Jihan tak berjihab.


"Ya Allah, Radit sadar! Tapikan istri sendiri boleh-boleh saja, mungkin Jihan jauh lebih cantik kala tak mengenakan hijab." Sibuk dengan pikirannya sendiri Radit tidak sadar jika Jihan sudah ada didekatnya.


Jihan memberikan diri untuk bicara lebih dulu, walaupun malu dia tetap melakukan hal itu.


"Mas." Panggil Jihan.


Suara lembut Jihan langsung membuat Radit tersadar.


"Ya Allah suaranya candu sekali, apa tadi, aku nggak salah dengarkan Jihan panggil aku mas." Ucap Radit pelan, dia tersenyum pada istrinya.


Walaupun terbilang lebay, ya tapi seperti itulah Radit.


"Mas minum dulu teh madunya walaupun sedikit." Ucap Jihan.


Laura biasa mendengar ucapan Jihan Radit mengangguk patuh, seperti anak ayam yang sudah bertemu induknya.


Radit menepuk kasur disebelahnya, "Sini duduk." Suruh Radit.


Hilang sudah nada dingin Radit dan tatapan tajam yang sering Radit tujukan pada Jihan selama ini, sekarang hanya ada kata-kata lembut dan tatapan sayang yang Radit tunjukan pada Jihan.


"Tapi aku belum bersih-bersih mas." Balas Jihan ragu.


"Tak apa, kita minum ini dulu bersama." Jika boleh jujur sebenarnya Radit juga merasa deg, degan berdekatan dengan Radit.


Dan hal seperti ini tidak pernah Radit rasakan saat dia dulu bersama Elsa.


"Alhamdulillah Ya Allah." Ucap Radit.


Dia sangat-sangat bersyukur bisa menikah dengan Jihan. Jihan masih betah berdiri membuat Radit gemas sendiri, jadilah Radit menarik pelan istrinya agar duduk di sebelahnya.


Sore itu Radit dan Jihan menghabiskan satu gelas teh dan sedikit madu bersama, juga beberapa cemilan yang dibawakan oleh oma Rifa. Walaupun masih merasa canggung, tapi Jihan tetap menuruti perintah suaminya.


Radit tau pasti banyak sekali hal yang ingin Jihan tanyakan pada dirinya, tapi Radit juga tau pasti Jihan akan menanyakan diwaktu yang tepat. Karena sekarang waktunya untuk mereka berdua berbahagia.