Babysitting genius

Babysitting genius
#Makan malam



Bismillah.


Masih di kamar Radit.


"Aku tau pasti banyak hal yang ingin kamu tanyakan padaku, benar begitu Jihan?"


Jihan hanya bisa mengangguk membenarkan perkataan Radit, "Tapi mas Radit tenang saja, aku tidak akan bertanya sekarang, sebelum itu mana ponselku?" pinta Jihan.


Jihan memgadahkan tangannya pada Radit, sudah 2 hari lebih ponsel Jihan ada di dalam genggaman Radit.


"Untuk apa?" selidik Radit.


"Untuk melihat pesan apa yang mas Radit kirimkan pada Rafli! Sampai ibu bicara yang Jihan tidak mengerti."


Jihan mengerucutkan bibirnya sebal, sebal sekali pokoknya.


'Ya Allah, dia semakin terlihat mengemaskan, jika seperti ini.' Batin Radit.


"Mas."


Pikiran Radit kembali buyar, kala istrinya memanggil dirinya.


"Nanti aku kembalian, lebih baik sekarang bersihkan diri dulu."


"Baiklah." Pasrah Jihan.


Jihah tak bisa membantah perkataan Radit begitulah Jihan. Jihan segera bangkit dan mengambil baju gantinya. Untung saja gaun terakhir yang Jihan kenakan, tidak terlalu merepotkan dirinya.


"Aku lupa, seharusnya aku meminta maaf pada Jihan, masalah yang di rumah sakit waktu itu, kalau sudah lihat wajahnya semua lupa." Radit mengusap wajahnya kasar.


Tak tau saja Radit, jika Jihan masih mendengar apa yang baru saja dia katakan.


Jihah tersenyum senang mendengar perkataan suaminya barusan. Jihan masih tak menyangka, jika dia berjodoh dengan laki-laki seperti Radit. Dalam diri Jihan tak pernah sekalipun dia bermimpi atau memiliki keinginan untuk menjadi istri orang kaya.


Karena Jihan tau diri, dia akan selalu menepatkan posisi dirinya, di tempat yang memang sesuai untuknya sendiri.


Tapi jika sudah jodoh tidak ada yang tau bukan, Allah sudah mengatur semuanya, rencana Allah memang begitu luar biasa.


Saat Jihan sedang membersihkan diri, Radit memutuskan keluar kamar untuk mencari Nafisa.


Sudah sore biasnya Jihan anak menemani Nafisa dan membersihkan tubuh bocah itu, tapi hari ini Jihan malah jadi menemani dirinya, Radit jadi merasa sudah merebut Jihan dari Nafisa.


Radit hanya bisa meringis sendiri, benarkan seperti itu, tidak juga jika dipikir. Sampai di lantai bawah Radit melihat Nafisa baru saja selesai mandi bersama nenek Kasih.


"Nafisa sudah mandi sayang?" tanya Radit mendekati keduanya.


"Ibu." Sapa Radit sopan.


Ibu Kasih mengangguk sambil tersenyum, Nafisa baru saja selesai mandi setelah bermain bersama Caca, Rafli dan kak Ayu.


"Sudah Ayah, mana bunda ayah?" Nafisa mencari keberadaan Jihan.


"Lagi mandi juga." Jawab Radit seadanya.


Nafisa paham, tak bertanya lagi, dia sedang sibuk bersama nenek barunya. Radit melihat mertuanya dan papanya sedang mengobrol bersama, akhirnya menghampiri mereka.


"Pa, bapak." Sapa Radit, kedua orang tua itu tersenyum pada Radit.


"Mumpung orangnya ada disini kita bahas sekarang saja pak Joni." Ucap opa Amran.


"Boleh pak."


"Ada apa memangnya, Pa?" tanya Radit sedikit penasaran.


"Papa ingin kamu juga membuat resepsi di desa tempat istrimu tinggal, tak enak sama warga disana, sudah menikahinya bukan di tempat mempelai wanitanya, masa kita juga tak membuat acara apa-apa disana." Jelas opa Amran.


"Radit juga sudah punya rencana pa, niatnya 1 minggu lagi, Radit akan membuat acara disana juga, satu minggu kita kesana bapak sama ibu dan Rafli ikut juga, jadi tetap disini. Nanti 1 minggu setelahnya kita sama-sama pulang kesana."


"Nggak bisa mas Radit, Rafli besok udah mulai sekolah lagi, apalagi Rafli udah masuk uts."


Entah datang dari mana Rafli, main sambung saja, padahal Radit sedang bicara dengan opa Amran dan bapak Joni.


"Hus! Rafli tidak sopan seperti itu." Tegur bapak Joni.


"Heheh, maaf." Ucap Rafli.


Rafli juga akhirnya ikut duduk bersama 3 bapak-bapak itu.


"Begini saja, besok bapak, ibu sama Rafli pulang lebih dulu, 1 minggu setelahnya nanti kalian menyusul, 1 miggu lagi Rafli juga sudah libur sekolah jadi ada waktu." Usul bapak Joni.


"Cek." Decak Rafli, dia menatap datar Ayu, bisa-bisa dia punya saudara seumuran seperti Ayu perempuan pula. Pikir Rafli, kalau laki-lakikan bisa diajak mabar pasti.


"Dek, kalau makan duduk!" tegur Radit.


"Siap laksanakan mas."


"Yasudah kita mengikuti usulan pak Joni saja." Putus opa Amran.


"Benar pa, lagipula Radit juga harus menyelesaikan proyek yang sedang berjalan, 1 minggu lagi proyek itu selesai, Radit juga harus meninjau lebih lanjut lagi kasus Febry dan Elsa."


Di kamar Radit dan Jihan.


Jihan sudah selesai membersihkan diri segera keluar kamar untuk mencari Nafisa, dia juga merasa tidak enak pada bocah itu. Tentu Jihan bukan mencari keberadaan Radit, karena Radit tak perlu dicari, nanti dia sendiri yang akan mencari keberadaan istrinya.


"Nafisa." Panggil Jihan.


"Bunda." Nafisa yang sudah rapi berlari ke arah Jihan yang jalan mendekati dirinya.


Bukan lagi mbak Jihan, tapi sudah Bunda Jihan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari.


Semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam bersama.


Jihan duduk disebelah anak dan suaminya.


Jihan melayani suaminya lebih dulu, "Mas mau pake lauk apa?" tanya Jihan memastikan.


"Apa saja asal kamu yang mengabilakan." Balas Radit sambil tersenyum pada istrinya.


Oma Rifa dan opa Amran hampir saja terdesak makan mereka sendiri berbeda dengan Ayu yang sudah tersedak lebih dulu melihat kakanya bertingkah begitu manis.


"Uhuk...uhuk....uhuk....! Minum, minun, minum!" ucap Ayu panik.


Untung Rafli segera memberikan segelas air putih untuk saudara iparnya itu.


"Astagfirullah gue lagi kagak mimpikan?" tanpa sadar Ayu membawa bahasa di sekolah bersama teman-temannya.


"Mana ada makan sambil mimpi, yang ada itu tidur baru mimpi." sahut Nafisa.


Jihan sudah menyuapi putrinya, sedangkan Radit merasa bodo amat pada adiknya itu.


"Ia juga Nafisa, 100% untuk kamu, tapi sejak kapan ayahmu itu jadi bersikap begitu manis?"


"Sejak kapan lagi? Kalau bukan sejak." Ucap Nafisa menggantung.


"Lalu sejak kapan?" tiba-tiba Rafli juga ikut-ikutan kepo.


"Sejak menikah dengan bunda Jihan." Jawab opa dan oma kompak.


Sontak jawaban itu membuat besan mereka tertawa, berbeda dengan Radit dan Jihan yang jadi malu.


Selesai makan malam mereka semua kembali ke kamar masing-masing.


Nafisa, Jihan dan Radit ketiganya pergi ke kamar Nafisa.


"Bunda, ayah." Panggil Nafisa.


"Iya sayang." Jawab keduanya.


"Nafisa mau tidur sama bunda dan sama ayah juga ya, ya, ya." Tatapan Nafisa sangat begitu berharap jika Radit dan Jihan memenuhi permintaannya.


"Tentu saja sayang." Jawab Radit.


"Kita tidur di kamar Nafisa saja, atau di kamar ayah dan bunda?"


"Kita ke kamar ayah dan bunda sekarang." Jawab Radit cepat.


Bahkan dia sampai menarik istrinya untuk berbalik ke kamar mereka.


"Gagal." Batin Radit.


Entah apa yang gagal itu.