Babysitting genius

Babysitting genius
#Firasat



Bismillah.


Walaupu Radit ikhlas atas semua yang menimpa istrinya, tapi Radit tidak bisa diam saja dia harus mencari tahu siapa pelaku yang sudah berencana membunuh istrinya. Kala itu juga Radit segera mengerahkan orang-orang kepercayaan untuk mencari tahu siapa pelakunya. Radit mempercayai semuanya pada Cahyo, sekretaris kepercayaannya. Tidak ada yang tahu jika Radit memiliki anggota rahasia tersendiri.


Anggota rahasia itu akan Radit kerahkan disaat situasi genting seperti ini, sebagai seorang pengusaha muda, tentu Radit tau jika dunia pengusaha tidak baik-baik saja.


Walaupun selama ini Radit maupun opa Amran tidak pernah terlibat permusuhan dari pesaing manapun, semua pesaing perusahaan Amran Mingin, selalu bersaing sehat. Tidak ada dasar kelicikan yang dilakukan, karena memang opa Amran dan Radit selalu menjalin hubungan baik pada perusahaan pesaing, maka dari itu para pesaing tidak ingin menyinggung sedikitpun orang-orang dari Amran Mining.


Seorang laki-laki berdiri diluar kamar rawat Jihan, dia sedang bicara dari telepon.


"Cahyo saya mau hari ini juga kamu mendapatkan hasilnya! Waktu kamu dan tim hanya saya berikan sampai nanti malam, saya tidak mau tahu nanti malam semua bukti sudah didapatkan!" ucap Radit dari seberang telepon.


Diujung sana Cahyo mengelus dadanya sabar, mukanya sampai meringis mendapatkan perintah dari Radit.


"Baik bos, siap laksanakan, saya pastikan bos akan mendapatkan kabar yang memuaskan."


"Bagus! Memang itu yang saya mau." Setelah itu Radit menutup teleponnya begitu saja.


Terbukti jika Radit begitu menyayangi istrinya, bahkan anggota rahasianya saja sampai, Radit kerahkan begitu saja.


Tiba-tiba seorang menepuk pelan punda Radit, Radit yang kaget memutar tubuhnya ke belakang.


"Papa." Ucap Radit pelan.


Opa Amran mengangkat sebelah alisnya, "Benar kamu mau mengerhakan orang-orang itu?"


Radit mengerutkan dahinya, tentu Radit tahu siapa yang papanya maksud, siapa lagi kalau bukan kelompok rahasia yang Radit miliki.


"Papa tahu?"


Opa Amran yang biasanya berwajah datar, terkekeh mendengar pertanyaan yang dilontarkan putranya.


"Apa yang tidak papa ketahui tentang dirimu Radit, jika kamu tahu beberapa kelompok rahasiamu itu ada anak buah papa."


"Hah!" cengo Radit. Padahal dia sudah menutup rapat kelompok rahasia ini.


"Kami tidak perlu kaget, ketua mereka tangan kanan papa, yah walaupun dia sekretaris kepercayaanmu."


"Jadi selama ini Cahyo sudah berkhianat?"


Duk!


Opa Amran memukul kepala putranya pelan, "Tidak begitu juga Radit, sudah tidak perlu membahas hal ini, ada hal lebih penting yang ingi papa sampaikan padamu." Ujar opa Amran begitu serius.


Melihat papanya yang sangat serius, Radit yakin memang ada hal penting yang ingin disampaikan oleh papanya. Mungkin hal penting ini menyangkut orang yang sudah menabrak Jihan, sampai mengalami kritis.


Opa Amran mengajak Radit ketempat yang sedikit juah dari ruang rawat Jihan, sampai di tempat yang menurut opa Amran cocok, opa menatap putranya intens.


"Jujur pada papa, seperti apa rumah tanggamu dengan Nita dulu, sebelum dia pergi."


Deg!


Radit tercengang, tak pernah Radit sangka papanya akan mengungkit masa lalu yang amat menyakitkan bagi Radit, tapi membahagiakan di mata kedua pihak keluarga. Kepala Radit terangkat untuk menatap sang papa, dia menatap bola mata hitam yang sangat tajam itu sejenak, Radit seakan mencari sesuatu dari dalam bola mata papanya.


"Papa tahu?" kata yang keluar dari mulut Radit membuat kakek Amran menghembuskan nafas kasar.


"Seperti yang papa katakan sebelumnya Radit. Papa tahu semua tentangmu, bahkan papa tahu apa yang tidak kamu ketahui."


"Sudah pa, tidak perlu diungkit lagi, lagipula semuanya sudah berlalu, saat ini Radit hanya akan fokus pada kesembuhan Jihan dan mencari tahu siapa pelaku yang sudah menabark Jihan.


Opa kembali menghembuskan nafas kasar, "Itu sebabnya kenapa papa mengukap kembali hal ini, papa takut jika pelakunya orang tua Nita, kamu tidak tahu Radit, sejak pernikahanmu dan Jihan terjadi."


"Tepat saat itu juga papa selalu mendapatkan teror dari orang tak dikenal, jika kita harus memberikan Nafisa pada keluarga ibunya."


"Astagfirullah, bukan mereka sudah melanggar janji jika seperti itu pa? Lagipula mereka sendiri yang membuat perjanjian ini. Tapi kenapa papa baru cerita sekarang?"


Tahu kalau papanya memang bukan orang yang terbuka pada setiap hal yang beliau alami membuat Radit maklum.


"Awalnya papa mengira hanya ada orang iseng saja, tapi lama-lama hal itu terus berlanjut, papa lalu menyuruh orang untuk mencari tahu siapa pelakunya, tapi saat kita berada di desan Jihan, orang itu tidak pernah lagi mengirim papa foto-foto yang sebelumnya."


"Papa kira dia sudah lelah sampai puncaknya tiba hari ini, papa kecolongan, papa tidak tahu jika target mereka menantu papa sendiri."


Deg!


Radit terdiam membisu, masih tidak percaya jika pelakunya mantan mertuanya, yang Radit tahu mantan mertunya begitu baik dulu.


"Tapi pa, apa pelakunya bukan Ferby dan Elsa? Siapa tahu mereka pa."


Opa Amran menggeleng tidak membenarkan tuduhan putranya. "Yang pasti bukan mereka, mereka sudah dijaga ketat oleh polisi, bahkan kabar yang papa dapat keduanya sudah mulai sadar, walaupun pelan-pelan."


Huf!


Radit menghembuskan nafas kasar, padahal tadi dia begitu yakin, jika pelakunya kedua orang itu, tapi Radit jadi ragu kala mendengar penjelasan dari papanya.


"Aku akan menunggu informasi lebih lanjut dari Cahyo pa, aku percaya tim mereka begitu kuat, sekarang Nafisa juga harus perlu dijaga."


"Aku punya firasat target mereka selanjutnya Nafisa," Opa Amran mengangguk.


Radit harus benar-benar berhati-hati, dia tidak mau kecolongan lagi seperti yang sudah-sudah.


"Astagfirullah, kenapa ada orang yang begitu tega." Radit mengusap mukanya kasar, opa Amran sudah pergi dari hadapannya.


"Ya Rabb, Engkau lah yang Maha Pelindung, lindungilah selalu keluargaku, Ya Rabb." Doa Radit.


Setelah itu Radit kembali ke kamar rawat Jihan, oma dan Nafisa masih menunggu disana, kak Ayu juga sudah tiba.


"Ma, pa sudah hampir sore, kalian pulanglah biar aku yang menjaga Jihan disini."


"Nafisa mau sama ayah, jangain bunda!" sahut Nafisa cepat.


Bocah cilik itu masih begitu takut jika dia benar kehilangan bundanya, bayangan-bayangan Jihan ditabrak masih terus melintas di kepala Nafisa.


Radit mendekat pada putrinya, "Tidak bisa sayang, Nafisa harus beristirahat yang cukup, agar besok bisa menjangan bunda sepulang sekolah, jadi malam ini Nafisa harus tidur di rumah, benarkan bunda." Radit meminta persetujuan istrinya.


Jihan mengangguk sambil tersenyum pada Nafisa, "Benar yang ayah katakan sayang."


"Baiklah." Patuhnya.


"Radit begini saja kamu pulanglah dulu lalu bersih-bersih setelah itu kembali kesini dan ajak pak Mail untuk membawa mobil satu lagi." Usul oma Rifa.


"Baik ma."