
Bismillah.
Jihan sedang mengurus anak dan suaminya di kamar setelah membersihkan diri pulang dari sawah tadi. Jihan juga sudah bersih-bersih pula.
"Bunda, Nafisa mau keluar ya." Pinta Nafisa.
Jihan melihat putrinya sudah rapi, segera menghampiri Nafisa dan tanganya terangkat untuk mengelus pucuk kepala Nafisa.
"Tapi tidak boleh nakal ya." Pesan Jihan.
"Siap bunda, bunda tenang saja, Nafisa tidak akan nakal kok, Nafisa kan anak baik."
"Jangan bohong Nafisa." Sahut Radit yang baru kembali ke kamar mereka.
Dia paling terakhir membersihkan diri, dari pada Nafisa dan Jihan, karena tadi Radit menolong bapak Joni membersihkan ikan.
Radit hanya membersihkan bekas lumpur sawah saja, lalu dia menghampiri mertuanya, ikut membantu mengurus ikan.
Nafisa menatap ayahnya sebal. "Tidak boleh soudzon ayah, tidak baik tau." Sewot Nafisa.
Jihan dan Radit sama-sama terkekeh. "Ayah tidak soudzon kok, tapi hanya mengingatkan."
"Iya ayah, terima kasih sudah mengingatkan Nafisa."
"Sama-sama sayang." Radit ikut mengelus pucuk kepala Nafisa.
Lalu mereka bertiga saling berpelukan, "Nafisa sayang ayah, bunda."
"Ayah bunda juga sayang Nafisa." Balas Jihan dan Radit.
Akhirnya ketiga orang itu tertawa bersama. "Oh iya, hari ini opa, oma dan kak Ayu sampai, mungkin nanti sore." Ucap Jihan memberitahu anak dan suaminya.
"Tidak sabar ingin ketemu kak Ayu."
Jihan dan Radit menatap curiga anaknya, tidak mungkin merindukan Ayu, kalau tidak mau buat ulah. Tau akan tatapan bunda dan ayahnya Nafisa segera keluar kamar, melihat Nafiss keluar terbaru-buru Jihan dan Radit hanya mampu menggelengkan kepala dan menatap aneh Nafisa.
"Anak kamu itu dek, ada-ada saja diotaknya."
Langsung saja Jihan memutar tubuhnya menghadap sang suami, "Anak mas Radit juga, aneh betul." Sahut Jihan tak mau kalah.
Tiba-tiba Radit mengakat tubuh istrinya, "Astagfirullah mas, ngagetin aja sih." Ucap Jihan sambil tertawa.
"Dek."
"Apa?" bingung Jihan.
"Ayo mas ajarkan nafkah batin."
"Apa sih mas, masih siang juga."
Melihat reaksi istrinya yang sudah malu Radit hanya bisa tertawa. "Maksud mas nafkah batin sholat sayang, memangnya nafkah batin yang masalah kasur saja, ayo kita belum sholat dzuhur."
"Nafkah batin juga, mas mengajarkan istir agar lebih mendekatkan diri pada Allah, mengajarkan hal-hal yang baik, mengajar berzikir." Terang Radit.
Semakin malu saja Jihan mendengar penjelasan suaminya. "Habisnya mas tiba-tiba angkat tubuh Jihan." Protesnya.
Tentu saja Jihan tidak mau salah. "Iya. Maaf."
Lalu Radit dan Jihan segera melaksanakan sholat dzuhur bersama di kamar mereka.
Biasanya Radit pergi ke musola dekat rumah mertuanya, bisanya juga Radit pergi bersama bapak mertunya ke musola bersama Rafli juga. Tapi tadi mereka pulang dari sawah tepat adzan dzuhur berkumandang, jadilah Rafli daj Radit menunaikan sholat dzuhur di rumah saja.
Selesai sholat dzuhur Jihan bergabung dengan ibunya bersama para ibu-ibu yang sedang masak untuk para orang-orang yang sedang mendirikan tenda di depan halaman rumah orang Jihan. Sementara Radit ikut bergabung dengan bapak mertuanya yang sedang mengobrol bersama bapak-bapak.
Para bapak-bapak itu sedang beristirahat sejenak sambil bercerita hal serius, jika seperti ini Radit sudah seperti orang biasa saja. Padahal di kota J, mana pernah Radit mau bergabung bersama banyak orang, kecuali jika acara meeting atau ada acara teman kantornya saja. Tapi Radit tidak ikut mengobrol, Radit hanya sekadar menghadiri acara tersebut.
"Bagaimana rasanya di sawah Dit?" tanya salah satu tetangga yang tadi melihat Radit dan yang lainnya pergi ke sawah.
"Seru pak, bisa dapat suasana baru saja. soalnya kalau di tempat Radit jarang ada sawah."
Nah kan Radi mau menjawab pertanyaan itu sedikit panajang, tidak seperti biasanya saat dia menjadi direktur di perusahaan Amran Mining. Memang benar Radit harus bisa menyesuaikan diri pada tempat baru, Radit harus bisa memahami tempat barunya.
Waktu berlalu.
Tak terasa sore hari sudah tida.
"Kok oma dan yang lainnya belum datang juga ya?" ucap Nafisa pada diri sendiri.
Nafisa sampai duduk di terasa rumah nenek Kasih untuk menunggu kedatangan oma, opa dan kak Ayu. Seorang tak sengaja lewat di depan rumah Nafisa, perempuan itu segera menghampiri Nafisa yang masih duduk termenung di terasa rumah.
'Tidak bisa langsung membalas pada Jihan, aku balas saja anak tirinya itu, cih, sombong sekali Jihan.' Batin Puspa.
Benar perempuan itu Puspa, Puspa segera berjalan mendekati Nafisa, tanpa aba-aba Puspa langsung mencubit Nafisa.
Sayang sekali apa yang Puspa lakukan itu meleset, Nafisa yang peka akan keadaan, tentu saja merasa dirinya sedang terancam.
"Tante siapa sih? Dateng-dateng kok nggak sopan! Mana mau nyubit aku lagi." sewot Nafisa.
Puspa melotot tak percaya. "Saya sahabat bunda kamu! Tapi bunda kamu jahat sudah mengkhianati saya sebagai sahabat."
Kini Puspa memasang muka memelas pada Nafisa.
'Kerjainlah, lagian jadi orang tidak tau malu, beraninya sama anak kecil lagi, belum tau dia kalau akan kecil di depannya ini bahaya sekali.'
Nafisa tertawa jahat.
"Memang benar begitu tante?" tanya Nafisa.
Bocah itu sudah memulai menjalankan aktingnya. "Benar bunda kamu orang jahat." Kompor Puspa lagi.
"Kenapa bunda aku begitu tega dengan tante?" Nafisa sudah mulai berkaca-kaca.
'Yeh, akhirnya bocah ini percaya.' Batin Puspa.
Tidak tau saja Puspa, jika Nafisa sedang menjual air mata kesedihannya agar Puspa percaya, jika Nafisa mempercayai cerita omong kosong itu.
'Bodoh sekali tante ini, Astagfirullah, maafkan Nafisa Ya Allah.' Batinnya.
"Tapi bagaimana jika tante membuktikan semua yang tante katakan?" tantang Nafisa.
Puspa langsung melotot. "Tidak usah terlalu serius begitu tante, aku hanya perlu tante bertiak sekancang mungkin di sini, agar aku benar-benar percaya."
Nafisa sudah menahan tawanya. "Oke tante akan buktikan." Jawab Puspa yakin.
"Sekarang tante teriak aku maling, aku maling sekencang mungkin."
"Oke."
Tanpa pikir panjang Puspa menuruti saja apa yang Nafisa minta, dia tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Aku Maling!" teriak Puspa.
"Lagi tante, lebih kencang lagi, hehehe." Sebisa mungkin Nafisa menahan tawanya.
'Mau saja dikerjai, hahahhaah.'
"Aku Maling!" teriak Puspa semakin kacang saja.
"Aku Maling!"
Semua warga desa yang melihat Puspa seperti itu menatap heran Puspa. Ada juga maling ngaku pikir mereka. Hilam baru saja pulang dari kerja, kaget melihat istrinya berteriak seperti orang gila, pasalnya hari sudah sore tentu banyak orang yang melihat tingkah Puspa.
"Puspa! Apa yang kamu lakukan!" sentak Hilam.
Sebagai suaminya melihat Puspa seperti itu, tentu saja Hilam merasa malu sendiri, Hilam merasa Puspa sudah merendahkan dirinya.
"Pulang!"
"Hahahahahha." Tawa jahat Nafisa.