
Bismillah.
Setelah 1 minggu acara resepsi ditunggu-tunggu akhirnya hari ini acara itu berjalan lancar. Radit dan Jihan sudah duduk di tempat mereka untuk menyambut para tamu yang datang. Amanda, teman Jihan sampai pulang demi menghadiri acara resepsi Jihan di kampung.
"Selamat ya Ji, bahagia selalu." Ucap Manda sambil memeluk Jihan..
Walaupun berbeda keyakinan kedunya tetap saling menghargai satu sama lain, tidak saling menjatuhkan.
"Makasih Manda, kamu udah mau bela-belain hadir acara resepsi aku."
Jihan balas memeluk Manda, saking lamanya kedua orang itu berpelukan sampai menbuat Nafisa menarik rok Manda dan juga baju pengantin bundanya.
Kedua orang itu langsung menoleh, Nafisa tengah menatap kedua orang itu sengit. "Jangan sekarang budan kangen kangenannya sama mbak Manda, liat tu tamu masih rame."
Nafisa mengakat dagunya sambil melihat kearah tamu, sontak Jihan dan Amanda pun mengikut arah yang dilihat Nafisa.
"Heheh, Maaf." Ucap kedunya.
Cek!
Nafisa menggelengkan kepala pelan, lalu Amanda beralih pada direktur utama tempatnya bekerja, siapa lagi kalau bukan Radit, suami Jihan.
Deg!
"Astaga!" kaget Manda, tapi dia hanya berucap pelan.
Seketika itu juga senyum Manda langsung menghilang melihat tatapan Radit yang begitu tajam kearhanya.
"Mas jangan begitu kasih Manda takut." Bisik Jihan.
Hmm
Radit hanya berdeham lalu tidak lagi menatap Amanda tajam, setelah mendapatkan peringatan dari istrinya.
"Selamat pak Radit bahagia selalu pernikah pak Radit dan ibu Jihan." Ucap Manda kaku.
"Hmmm."
"Mas bilang makasih!" peringat Jihan lagi.
"Teriam kasih." Balas Radit singkat.
Jihan dan Nafisa jadi kesal sediri pada ayah Radit, bisa-bisanya Radit bersikap dingin pada Manda, bukan hanya Manda tapi semua orang sih. Tak jauh dari tempat Radit dan Jihan berdiri seorang tengah menatap mereka sengit, perasaan tidak terima masuk ke dalam lubuk hati orang itu. Tatapannya yang begitu tajam mengarah pada Jihan yang tengah tersenyum pada suaminya.
'Nggak! Jihan nggak boleh dapat lebih dari yang aku punya.' Batin Puspa.
Dia segera melangkahkan kakinya percaya diri menuju tempat kedua mempelai sedang menerima tamu mereka.
Tapi baru beberapa langkah seorang menarik tangan Puspa, "Apa sih Mas!" kesal Puspa.
Hilam lah yang menarik kasar istrinya. "Mau kemana? Jangan macem-macem ya Puspa! Jangan bikin rusuh diacara orang! Jangan bikin malu." Peringat Hilam.
"Lepas!" Puspa menarik kasar tangannya dari gengaman Hilam.
"Siapa juga yang mau bikin rusuh Mas! Jangan soudzon deh sama istri sendiri."
Kedua orang itu akhirnya saling menatap tajam satu sama lain.
"Ibu, ini kita mau nemuin pengantinya kok."
Hilam menarik tangan istrinya agar mau ikut dengan dirinya, sedangkan Puspa berusaha memberontak agar Hilam melepaskan gengamannya, sayangnya tenaga Puspa tidak cukup kuat untuk melawan Hilam. Apalagi dia tengah hamil besar saat ini. Hilam dan Puspa sudah berada di hadapan Radit dan Jihan, bersamaan dengan Rafli dan Ayu.
"Eh, ada tamu tak diundang datang rupanya." Sindiri Rafli.
Rafli sengaja menatap acuh Hilam dan Puspa.
"Dek." Tegur Jihan.
"Yu, yuk kita pergi disini panas ada pengkhianatan, takut kita kena batunya juga." Untuk saat ini Rafli harus bisa akur dulu dengan saudara iparnya.
"Ah, benar sekali Rafli, gue nggak mau ya kalau ketularan jadi pengkhianatan." Sambung Ayu.
Ayu yang peka akan maksud dari bahasa isyarat Rafli tentu saja ikut berakting. "Nafisa ayo ikut kak Ayu sama kak Rafli, bunda sama ayah mau neriam tamu dulu." Ajak Ayu lagi.
Muka Puspa sudah merah pada, sementara Hilam menunduk malu, Hilam sadar selama ini dia salah. Dan sampai saat ini dia belum meminta maaf pada Jihan, atas perbuatannya yang dulu tengah mengkhianati Jihan.
"Maksud kalian apa!" Maki Puspa.
Puspa sudah tidak tahan mendengar perkataan Ayu dan Rafli, dia sudah tak bisa menahan dirinya. Sedangkan Jihan dan Radit hanya diam saja, bahkan Radit langsung memeluk istrinya posesif, kedunya sama-sama tidak peduli apa yang terjadi. Tapi jika hari ini Puspa mengacaukan acara resepsi dirinya dan sang istri, maka Radit tidak akan tinggal diam saja..
Semua orang menatap Puspa aneh, bisik-bisik tentang Puspa mulai terdengar dari ibu-ibu yang tukang gosip. Ada beberapa ibu-ibu yang melemparkan kata-kata tidak sedap untuk Puspa. Jika dulu saat pernikahan Puspa dan Hilam, Jihan lah yang mendapatkan caci maki, padahal Jihan tidak salah sama sekali. Maka sekarang saat acara resepsi pernikahan Jihan, Puspa lah yang jadi bahan omongan, tapi karena ulah Puspa sendiri dan ulah Puspa itu bukan hanya dirinya yang dipermalukan.
Tanpa Pusap sadari, dia sudah mempermalukan dirinya, suaminya, keluarga suaminya dan keluarganya sendiri. Sementara semua orang itu hadir diacara resepsi Jihan dan Radit. keluarga Hilam maupun Puspa hanya bisa menahan malu saja pada keluarga Jihan dan besan.
Masih di hadapan kedua pengantin. "Maksud kalian berdua apa hah? Tidak tau sopan santu!" maki Puspa.
Hah!
"Helo mbak, saya kan nggak bilang mbak yang pengkhianat, tapi kalau mbaknya sadar diri syukur deh." Balas Ayu.
Ayu sudah tidak dapat menahan tawanya lagi, puas sekali Ayu bisa memaki orang sombong seperti Puspa secara langsung.
"Kamu!" Puspa mengangkat tangannya hendak menampar Ayu.
"Puspa!" bentak Hilam.
"Apa mas! Mas mau diema aja dibilang pengkhianat sama dua bocah ingusan ini." Sentak Puspa.
"Adu kok ngeri juga ya." Sindir Ayu lagi.
Jika sudah Ayu yang beradu argumen ataupun mulut dengan orang lain, maka dia tidak akan berhenti, jika lawanya belum kalah.
Jihan dan Radit benar-benar tidak peduli dengan keributan yang terjadi, kedunya malah mengajak Nafisa bermain, tujuannya agar Nafisa tidak melihat apa yang terjadi. Jika Nafisa melihat bisa bahaya, bisa menjadi terkam dalam otak bocah itu, Radit tidak mau Nafisa mengikuti tinggal tidak memiliki sopan seperti Puspa.
Hilam yang sudah tidak tahan menarik istrinya untuk pergi dari tempat itu, bahkan semua orang saat ini mencibir kedunya. Setelah kepergian Hilam dan Puspa, acara kembali berjalan normal seperti tidak terjadi apa-apa. Orang tua Hilam dan orang tua Puspa langsung menemui ibu Kasih dan oma Rifa untuk meminta maaf atas kekacauan yang terjadi.
Karena kekacauan itu disebabkan oleh Puspa sendiri, yah walaupun yang mulai Rafli dan Ayu. Tapi memang benar mereka tidak Radit undang dan lagi tadi Ayu memang tidak mengatakan, jika Puspa dan Hilam lah yang dimaksud pengkhianat. Karena tadi banyak orang juga disisi mereka.
"Ayu, Rafli! Sini kalian berdua." Tegas opa Amran.
"Kena kita." Ucap keduanya bersama.