Babysitting genius

Babysitting genius
#Menjemput Nafisa



Bismillah.


"Besok mas akan mengajakmu untuk menghadiri acara sidang Febry dan istrinya." ucap Radit.


Benar-benar Radit tidak ada rahasia sedikitpun diantara dirinya dan Jihan. "Setelah semua masalah disini selesai, kita akan pulang ke rumah orang tua kamu sayang, untuk kita melajukan acara resepsi di tempat kamu, bagaimana apa kamu setuju?"


"Aku apa kata mas saja, Insya Allah manut suami mawo mas." Sahut Jihan.


"Baik, sesuai kesepakatan mas, papa dan bapak acara resepsi di desa Marga akan diadakan 1 minggu lagi. Mas juga sudah menyewa orang untuk mempersiapkan semuanya."


"Mas, apa tidak terlalu berlebihan." ucap Jihan pelan.


"Tentu tidak kamu lupa siapa suami kamu sayang."


"Tentu saja tidak!" jawab Jihan cepat.


Jawaban yang sukses membuat Radit tersenyum, karena Jihan sedikit meninggikan suaranya. Jika bicara refleks pasti Jihan terkesan seperti sedang memarahi orang.


"Maaf." Sesalnya.


"Tidak apa, ayo turun kita sudah sampai." Ajak Radit yang membuat Jihan tersadar.


Kedunya segera turun dari dalam mobil, Radit turun lebih dulu, dia membukakan pintu untuk istrinya. Diperlakukan begitu manis oleh Radit, Jihan jadi berpikir apakah dulu Radit berlaku begitu manis pada Elsa dan mantan istrinya dulu. Tapi Jihan cepat menepis semua pikiran buruk yang tiba-tiba bersarang di kepalanya itu.


Ya, Jihan selalu menanamkan pikiran positif pada dirinya, maka dari itu jika pikiran negatif menghampiri otaknya, Jihan cepat-cepat menepis semua itu dan segera mengingat Allah.


"Astagfirullah." Gumun Jihan pelan.


Kadang kita tak paham bawah mengset kitalah yang selalu membuat kita tidak bernai mencoba sestau yang baru, karena apa yang kita pikiran itulah yang akan terjadi pada kita, pahami hidup kita lebih dulu, baru kita pahami hidup orang lain, bukan kah begitu harusnya?


Kembali pada kedua orang yang baru saja menjadi pengganti baru.


"Terima kasih." Ucap Jihan, tersenyum pada suaminya.


"Sama-sama sayang."


Keduanya segera berjalan masuk ke area sekolah Nafisa.


Terlihat beberapa anak sudah keluar dari kelas mereka masing-masing, Jihan dapat melihat sosok Nafisa yang berjalan bersama Rara sahabatnya. Tak juah dari Jihan dan Radit. Nafisa juga menangkap kehadiran kedua orang tuannya.


"Rara, bunda dan ayahku sudah menjemput aku duluan dah!" ucap Nafisa pada sahabatnya.


"Dah Nafisa." Balas Rara.


Nafisa segera berlari menghampiri Jihan dan Radit.


"Ayah, bunda." Teriak Nafisa..


Yeee! Akhirnya Nafisa bisa seperti teman-temannya yang lain memanggil ayah bunda. Jihan dan Radit sama-sama jongkok untuk mengakap putri kecil mereka yang sangat genius itu.


Hap!


Nafisa sudah berada di dalam pelukan ayah dan bundanya secara bersama, "Bagimana belajarnya sayang apakah lancar?"


"Lancar sekali bunda, oh iya ayah kita mau kemana lagi?"


Radit berpikir sejenak, dia baru ingat jika pekerjaannya belum selesai di kantor, "Kita ke perusahaan ya." Ajak Radit.


"Benarkah?"


"Tentu saja."


"Yeee!" Nafisa sangat senang, dia bisa mengerjai para karyawan di kantor opanya yang pada malas-malas itu.


"Janji tidak nakal tapi." Pesan Radit.


"Iya, Nafisa janji, janji, janji."


"Awas kalau bohong."


"Benar sayang." Jawab Jihan sambil mencium pipi Nafisa.


Sekarang Jihan sudah berani mencium pipi Nafisa tidak seperti dulu.


"Nafisa dong yang dapat ciuman dari bunda, ayah nggak?" goda Radit.


Jihan melotot, "Ayah!"


"Hehehe, iya bunda ayah bercanda kok, tapi kalau dicium bener juga ayah malah senang."


Waktu berlalu kini mereka sudah sampai di perusahaan Amran Mingin kembali.


Radit dan Jihan berjalan menggandeng Nafisa kali ini, para karyawan yang melihat bos mereka lewat mengangguk hormat..


Dan disitu Jihan tidak sengaja bertemu dengan Manda, orang yang sudah banyak membantu dirinya.


"Mas aku mau ketemu Manda boleh?"


"Nafisa ikut bunda, Nafisa mau ngucapin banyak terima kasih sama mbak Manda." Ucap bocah itu kegirangan.


Radit masih diam tak menjawab, "Ayah boleh tidak!"


Nafisa dan Jihan mentapa Radit dengan tatapan memohon, padahal mereka masih di loby, ada beberapa karyawan disana.


Radit tak bisa menolak permintaan istri dan anaknya, "Iya boleh." Jawab Radit pasarah.


"Yeee!" Jihan dan Nafisa begitu senang.


"Biar mas anter." Ujar Radit.


Jihan hanya mengangguk, lagipula dia hanya ingin bertemu dengan Manda.


"Amanda!" teriak Jihan.


Manda baru saja lewat, mendengar ada yang memanggil namanya Amanda segera memberhentikan langkahnya.


Dia mencari sumber suara, ternyata istri bosnya lah yang tengah memanggil dirinya.


Amanda melihat Jihan, Radit dan Nafisa berjalan ke arahnya, Amanda yang sadar buru-buru mendekati bosnya itu.


"Selamat siang pak Radit, ibu Jihan dan non Nafisa." Sapa Manda begitu formal.


"Man, jangan ngomong formal sama aku." Jawab Jihan merasa tidak enak hati.


"Maaf bu Jihan, tap-"


"Man, sekali lagi kamu ngomong formal, aku nggak bakal ngomong sama kamu ya." Ancam Jihan.


"Betul mbak Manda, biasa aja ngomong, apa tadi panggil Nafisa pake sebutan non segala, emang nanon-nano. Lagian Nafisa ini masih kecil ya mbak Manda." Protes Nafisa.


Tapi Manda tidak bergeming, dia merasa tak enak pada pak Radit tentunya. Nafisa dan Jihan paham apa yang membuat Amanda merasa tidak nyaman, "Mbak Manda anggap aja cuman ada kita bertiga disini yang lain patung." Ceplos Nafisa.


Bagaimana tidak Radit sedari tadi menatap dingin bukan pada Manda, tapi semua orang yang mentapa istrinya aneh, seperti ada yang tidak suka pada Jihan. Mereka menganggap Jihah jauh segala-galanya dari Radit, tapi mereka semua memang tidak bicara apapun hanya dari sorot mata saja. Jihar akhirnya mendekat Radit dan membisikkan sesuatu, saat itu juga bibir Radit jadi sedikit tersenyum.


"Mas, aku sama Nafisa mau main sama Manda boleh?"


"Maaf menyela Jihan, tapi aku masih ada pekerjaan." Amanda tidak mau dikatakan orang-orang tidak profesional.


"Untuk hari ini kamu menemani anak dan istri saya saja Manda dan saya juga mau mengucapkan terima kasih, karena kamu sudah banyak menolong saya dan Nafisa untuk mendapatkan istri saya."


"Sama-sama pak Radit, saya malah seneng dengar teman saya ini mau nikah, tentu saja menyebutnya antusias." Kini Amanda sudah lebih berani bicara pada Radit, karena ada Jihan dan Nafisa diantarnya.


"Ayo bunda mbak Manda kita beli es crema di depan sana." Ajak Nafisa.


Sebelum pergi diam-diam Radit memberikan uang pada istrinya dan black car, " belilah apapun yang kalian mau." Bisik Radit, sambil berlalu menuju ruangnya.


Radit memang lupa belum meberikan nafkah lahir untuk istrinya, tadi Radit sengaja sedikit bersembunyi agar tidak ada yang melihat dirinya memberikan uang pada istrinya. Takut dicap laki-laki tidak bertanggung jawab tak memberi nafkah istrinya.