Babysitting genius

Babysitting genius
#Masalah datang



Bismillahirohmanirohim.


Nafisa puas sekali hari ini bisa jalan-jalan dengan mbak Jihan dan ayah Radit. Mereka baru saja kembali sore hari, setelah jalan-jalan. Kak Ayu yang tidak diajak jalan-jalan jadi merajuk di kamarnya.


"Jihan, aku harus kembali ke kantor, titip Nafisa dan Ayu ya." Ucap Radit.


Dia terlihat sangat tergesa-gesa sekali.


"Baik ayah." Sahutnya patuh saja.


Jihan tak berani bertanya kenapa Radit sangat terburu-buru sekali, karena Jihan pikir dia tidak ada hak untuk mempertanyakan hal itu. Tanpa sepengtahunan Radit, Nafisa tau apa yang sedang terjadi di kantor, dia sedang menonton semuanya dari laptop pribadi miliknya sendiri.


"Tak tau malu memang." Ucap Nafisa.


Klek.


Mengetahui ada yang masuk ke kamarnya Nafisa buru-buru menyimpan kembali laptopnya. Ternyata yang datang mbak Jihan.


"Mbak ayah kemana?" tanya Nafisa.


Tadi Radit sudah janji akan menemui dirinya di kamar, tapi sampai sore Radit tak kunjung datang padahal Nafisa mau menyusun rencana kembali.


Sebaba 2 hari lagi, hari pernikahan itu akan diadakan semua persiapan akan diselesaikan besok oleh Radit. Niatnya juga Radit nanti malam akan menghubungi mamanya dan memberitau semuanya pada sang Mama. Jihan menatap Nafisa tersenyum, dia elus lembut rambut Nafisa.


"Ayah kembali ke kantor, katanya ada hal penting yang harus ayah urus." Jawab Jihan.


Nafisa mengangguk tanda mengerti, dia tak lagi rewel menanyakan keadaan ayahnya, Nafisa cukup tau ayahnya juga orang sibuk dia harus mengurus pekerjaannya juga.


"Mbak Jihan." Ujar Nafisa.


Tiba-tiba Nafisa menatap Jihan intens, tatapan yang begitu dalam Nafisa lakukan pada Jihan, sekaan ada sesuatu yang ingin Nafisa katakan atau minta pada Jihan, tapi Jihan tak boleh menolaknya.


"Iya Nafisa, ada apa?" Jihan masih mempertahankan senyumnya.


"Mbak Jihan mau jadi bunda Nafisa seutuhnya? Menikahlah dengan papa Radit." Pinta Nafisa sungguh-sungguh.


Deg!


'Ya Allah, apa ini maksud dari sikapa mereka yang berbuah secara tiba-tiba selama ini.' Pikir Jihan.


'Jika benar seperti itu kenapa Nafisa memintaku menjadi bundanya bukankah sebentar lagi Elsa dan ayah Radit akan menikah.' Batin Jihan masih belum paham.


Jihan merasakan sesak di dadanya dia merasa dipermainkan oleh Nafisa dan juga Radit.


"Tapi kenapa Nafisa menyuruh mbak Jihan jadi bunda Nafisa? Bukankah ayah Radit sebentar lagi akan menikah dengan mbak Elsa? Tak baik menyakiti hati perempuan Nafisa."


"Nafisa tau atas keinginan Nafisa bukan hanya mbak Elsa yang tersakiti, tapi juga mbak Jihan, Nafisa. Maafkan mbak Jihan, Nafisa, mbak Jihan tidak bisa melakukan hal itu."


Bruk!


Nafisa tak menjawab, dia sudah menduga jika akan jadi seperti ini, walaupun Nafisa sangat yakin jika Allah pasti akan mengabulkan doanya.


Nafisa langsung memeluk tubuh Jihan, tangsinya pecah di dalam pelukan Jihan, melihat Nafisa menangis Jihan sama sekali tak sanggup, dia akhirnya ikut menangis juga.


Sudah dikatakan jika Jihan tak bisa melihat bocah itu menangis seperti ini.


"Jangan menangis Nafisa." Ucap Jihan paruh.


Nafisa menggeleng. "Tidak mbak Jihan, mbak Jihan harus menjadi bunda Nafisa. Bagaimana jika nanti bunda Nafisa jahat Nafisa. Tidak seperti mbak Jihan? Yang selalu menyayangi Nafisa."


Banyak sekali pertanyaan yang terlontar dari mulut Nafisa, Jihan tak tau harus bagaimana menjawabnya. Tapi jika boleh jujur, ada perasaan tak rela dihati Jihan jika Nafisa bahagia dengan orang lain, biarlah di kata egosi tapi begitulah kenyataan.


Berbeda dengan Nafisa dan Jihan yang masih menangis sambil berpelukan, Radit baru saja tiba di kantornya. Wajah duda anak satu itu sudah merah padam, bagaimana bisa kekacauan terjadi di kantor dan semua itu ulah Elsa dan suaminya.


Elsa datang ke kantor untuk mencari Radit, sampai membuat keributan dan kesepatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh suami Elsa untuk mencuri prokey penting yang sedang dikembangkan oleh perusahaan Arman Mining.


Bruk!


"Bubar semau!" marah Radit.


"Cahyo kumpulkan semua atasan!" suruh Radit berteriak.


Sungguh Radit tak dapat menahan amarahnya lagi, apalagi melihat muka Elsa dan Febry ada di hadapan, ingin sekali Radit menampar muka keuda orang itu.


"Untuk apa masih disini pak Ferby! silakan ke ruangan apa anda masih ada perlu?" sentak Radit.


"Eh, baik pak Radit." Ujar Febry merasa heran pada sikap Radit.


Padahal selama ini Radit selalu bicara ramah pada Febry, sebelum pergi Febry memberi kode terlebih dahulu pada Elsa, jelas Radit tau kode itu, tapi dia pura-pura bodoh saja. Biarkan sekarang dua orang itu menganggap dirinya bodoh, tapi lihat sebentar lagi orang bodon ini akan membuat mereka tercengang.


"Jaga sikapmu Elsa! Kamu belum menjadi nyonya dari keluarga Amran, tapi sikapmu sudah tak bermoral! Aku tidak pernah mengajarkan tidak hormat seperti ini!" bentak Radit.


"Radit kok kamu bentak aku." Jawab Elsa tidak terima.


Jujur Elsa takut pada Radit, apalagi tatapan tajamnya itu seperti ingin menerkam mangsanya.


"Aku tidak akan membentakmu jika kamu tidak berulah!" maki Radit.


"Maaf." Sesalnya pura-pura sedih.


"Oke, sekarang mau kamu apa?"


"Aku butuh uang Radit 5 juta saja, 2 hari lagi kita menikah tapi aku masih begini, aku harus perawatan Radit."


'Cih! suami istri sama saja, tidak tau malu.' Batin Radit tak habis pikir, menyesal dulu dia pernah menyukai perempuan licik seperti Elsa. Radit memaki dirinya sendiri, bisa-bisanya dia dibodohi oleh Elsa dan suaminya 2 tahun ini.


"Pulanglah aku akan mentransfer uangnya kerekeningmu." Ucap Radit.


"Baiklah terima kasih banyak Radit." Kini wajah Elsa berubah tersenyum, sayangnya Radit sudah tidak peduli.


"Aku memang bodoh." Ucap Radit pada diri sendiri.


Radit segera pergi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Dia sudah tau siapa pelakunya yang telah mencuri proyek penting itu. Sampainya Radit di ruangan rapat semua orang sudah berkumpul di sana. Radit menatap mereka semua tajam, terutama Febry.


"Saya tidak mau banyak basa basi, siapa yang sudah berani mencuri semua berkas dan dokumen proyek penting Amran Mining!" ucap Radit pada intinya.


Dari semua orang tidak ada yang mengaku satupun.


"Baiklah jika kalian tidak ada yang mengaku, satu orang saja yang keluar dari ruang ini, setelah saya dan Cahyo pergi, dia orangnya."


"Cahyo ikut saya."


"Baik bos."


Radit sudah menyuruh beberapa orang untuk mengeledah ruang Febry, benar berkas itu ditemukan disana.


Sementara mereka yang ada di ruang rapat dikunci dari dalam, sekarang di dalam sana semua orang saling menyalahkan satu sama lain. Febry frustrasi sendiri dibuatnya, dia tidak menyangka jika kekacauan yang dia dan Elsa buat akan terjadi seperti ini akhirnya.