Babysitting genius

Babysitting genius
# Sampai



Bismillah.


Waktu berlalu, perjalan selama 3 jam lebih tak terasa sudah Radit lewati bersama anak dan istrinya. Untuk pertama kalinya direktur utama Amran Mining itu menyetir mobil sendiri, dalam perjalanan jauh, biasanya Radit akan ditemani sekertasris kepercayaannya.


Tapi demi anak dan istri apa sih yang tidak mau Radit lakukan. Semua demi anak dan istri pasti Radit akan lakukan. Mandi di sungai saja Radit akan lalukan demi Nafisa, asal bersama Jihan juga tentunya.


Kala mobil Radit mulai memasuki desa Jihan, orang-orang banyak penasaran mobil siapa itu. Karena memang jarang sekali mobil mewah masuk ke desa Jihan.


Saat sampai di depan rumah Jihan, banyak warga yang kepo, mereka pada berkumpul dari jarak yang tidak jauh dari rumah Jihan.


Ibu Kasih yang memang sudah menunggu kedatangan anak dan mantunya sedari tadi segera keluar rumah kala mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.


Rafli juga ikut ibu Kasih untuk menyambut kakaknya dan kakak ipranya, dia sudah tidak sabar untuk bertemu Nafisa. Nafisa dan Rafli memang satu sefrekuensi. Sedangkan bapak Joni masih membersihkan diri, beliau baru saja pulang dari sawah. Di dalam mobil Radit, Nafisa sudah bangun sedari tadi, dia sudah tidak sabar ingin menikmati suasana desa.


Kebetulan sekali hari ini Rafli pulang sekolah cepat. Karena guru mereka ada rapat mendadak.


"Bunda kita sudah sampai?" tanya Nafisa memastikan.


"Benar sayang, ayo turun." Ajak Jihan.


Jihan dan Radit juga Nafisa segera turun dari mobil, ternyata ibu Kasih dan Rafli sudah menunggu mereka.


"Assalamualaikum." Salam ketiganya.


"Wa'akaimumsalam." Jawab ibu Kasih dan Rafli.


Mereka semua menyalami ibu Kasih, setelah itu ibu Kasih mengajak mereka untuk masuk.


Para warga yang melihat Radit sangat terpesona, Radit begitu tampan, walaupun kabarnya dia dudan anak satu, tapi ketampaaan Radit tidak pudar sama sekali.


Ditambah lagi para warga gemas dengan Nafisa yang begitu ceria dan memiliki wajah cantik.


"Kak Rafli!" panggil Nafisa..


Senang sekali Nafisa bisa ketemu lagi dengan Rafli, sebenarnya Nafisa ingin membawa Caca bersamanya ke desa, tapi tentu saja Radit melarang keras hal tersebut.


"Nafisa!" heboh Rafli pula.


Kedunya bahkan saling berpelukan.


"Kak tinggal di desa enak tidak?" tanya Nafisa langsung saja.


Nafisa bahkan sudah berada di dalam gendongan Rafli. "Enak, bisa main ke sawah, ke sungai ke kebun dan banyak lagi." Jawab Rafli.


Rafli tidak tahu jika dia sudah meracuni otak keponakanya itu.


"Apa itu suami Jihan? Tamapan sekali."


"Benar, itu suami Jihan, memang sangat tampan sekali."


Begitulah tanggapan para warga.


"Untung Jihan tidak jadi menikah dengan Hilam."


Begitulah para Warga yang sibuk mengurus urusan orang lain, mereka seakan lupa, padahal dulu saat Jihan ditinggal nikah, Jihan terus mendapatkan cibiran yang tidak sedap dari para warga, sampai akhinrya Jihan memutuskan untuk pergi ke kota.


"Hutf!" Rafli yang masih mendengar ocehan para ibu-ibu itu hanya menutup kupingnya acuh.


Rafli menganggap semuanya angin lalu, walaupun dia senang para warga sudah tidak mencibir mbaknya lagi.


"Kakek dimana Nek?" tanya Nafisa tidak melihat ke hadiran bapak Joni.


"Kakek di sini." Jawab bapak Joni, sambil tangannya membuka hordeng dapur.


Jihan dan Radit bangkit untuk bersalaman dengan orang tua mereka. "Bagaimana kabar kalian?" tanya pak Joni.


"Alhamdulillah baik bapak." Jawab Radit mewakili anak dan istirnya.


"Papa dan mama bagaimana kabar Dit?"


"Syukurlah."


Jihan pergi ke dapur untuk membuatkan semua orang minum. Sebenarnya keluarga Jihan tidak terlalu miskin, walaupun tinggal di desa kehidupan keluarga Jihan termasuk berada. Rumah yang sudah layak huni, cukup besar, ya tetapi tidak besar rumah orang-orang di kota. Kedua orang tua Jihan juga punya sawah dan ladang juga tanah, sertifikat rumah dan tanah sudah milik sendiri..


Jihan kembali dari dapur dengan senampan air teh juga cemilan. "Kak Rafli di sawah ada kodok tidak?" tanya Nafisa.


Nafisa mengabaikan saja semua orang.


"Ada banyak malah."


"Untuk apa kodok Nafisa?" tanya Radit bingung.


Sambil bertanya Radit menyeruput teh yang dibutakan oleh istrinya. Tapi Nafisa mengabaikan saja ayahnya, dia fokus bercerita pada Rafli.


"Nafisa sayang." Tegur Jihan.


Mendapatkan teguran dari bundanya membuat Nafisa menoleh, dia memasang wajah seperti meminta maaf pada Radit.


Radit hanya menghela nafas saja. Seperti itu Nafisa, jika sudah menemukan hal baru semuanya akan dia lupakan. Hanya hal baru yang Nafisa fokuskan.


"Huf!"


"Maaf ayah, bunda." Sesalnya.


Nenek Kasih dan kakek Joni tertawa.


"Sudah kalian istirahat dulu, saking senangnya ibu kalian datang jadi lupa kalau kalian habis menempuh perjalanan jauh." Ucap ibu Kasih.


Ibu Kasih merasa tidak enak pada menantunya. "Tidak papa nek, Nafisa tidak capek, lagipula Nafisa sepanjang jalan sudah tidur pulas." Jawab Nafisa..


Nafisa tidak tahu saja, jika saat ini ayah begitu lelah, karena Radit jarang menyetir mobil jauh-jauh.


"Iya Nafisa memang tidak akan capek, tapi bunda sama ayah pasti lelah." Sahut Rafli memberi pengertian pada ponakannnya.


Nafisa langsung menoleh pada kedua orang tuanya. "Oh, ayah dan bunda lelah ya, ya sudah sana istrihat, jangan pikirkan Nafisa. Bunda dan ayah tenang saja ada kak Rafli yang akan menjaga Nafisa." Ucap bocah itu pede sekali.


Jika seperti ini, Nafisa sudah seperti pemilik rumah saja.


"Benar Jihan, bawalah suamimu beristrihat." Suruh bapak Joni pada putrinya.


Jihan menurut saja. "Ayo mas." Ajak Jihan.


Setelah berpamitan pada kedua orang tuanyanya Jihan dan suami segera mauk ke kamar Jihan. Sekarang kamar itu bukan hanya milik Jihan saja, tapi sudah miliki Radit pula. Saat kamar sudah terbuka, Jihan mencium wangi harum dari kamarnya, Jihan yakin pasti ibunya yang membereskan semua ini.


'Pasti ibu lelah membersihkan kamar Jihan.' Batin Jihan merasa tidak enak pada ibunya.


Mereka segera masuk ke dalam kamar.


"Maaf mas kamarnya kecil." Ucap Jihan meras tidak enak.


"Tak papa, walaupun kecil asal bersama istir mas dan kamarnya juga sangat nyaman." Jujur Radit.


"Pasti ibu yang sudah merawat kamar Jihan, selama Jihan tidak berada di rumah, ibu memang orangnya pembersih sekali." Jelas Jihan.


"Dek, mas mau mandi di sini tidak ada kamar Mandi?" tanya Radit.


Maksud Radit kamar mandi di dalam kamar, Jihan tersenyum miris pada suaminya, bagaimana kalau Radit tahu mereka harus mandi di sumur dan harus menimba dulu, membayangkan saja Jihan sudah merasa iba pada suaminya.


"Sumur ada di belakang mas." Jawab Jihan.


"Hah! Apa tadi dek? Sumur?" Radit rasa mungkin dia salah dengar, tapi anggukan yang Jihan berikan membuat Radit jadi yakin kalau dia tidak salah dengar sama sekali.


"Maaf mas." Sesal Jihan.


"Kenapa harus minta maaf? kamu tidak salah." Cepat-cepat Radit tersenyum pada istrinya tanda dia tidak apa-apa.