Babysitting genius

Babysitting genius
#Memiliki hati lembut



Bismillah.


Sampai di ruang kerja Radit, saat akan masuk ruang itu diatasnya terlulis 'Ruang direktur utama.'


"Mas ini perusahaan papa?" tanya Jihan.


"Benar ayo masuk." Ajak Radit.


Radit masih menggandeng tangan istrinya mesra, sejak tadi Radit seakan tidak rela melepaskan tangan sang istri.


Pertama kali masuk ke dalam gedung pencakar langit yang tak lain perusahaan Amran Mingin membuat Jihan merasa takjub sendiri. Baru pertama kali Jihan masuk ke dalam perusahaan sebesar itu, sekarang Jihan juga sudah menajdi menantu pemilik perusahaan Amran Mingin.


Otomatis perusahaan itu akan diwariskan pada Radit dan Jihan sudah menjadi nyonya Amran Mingin.


Jihan dan Radit masuk ke dalam ruang direktur utama secara bersama.


Hari ini pekerjaan Radit begitu banyak, karena Cahyo tidak masuk, awalnya Radit menyuruh pak Mail saja yang mengantar mertuanya pulang ke tempat lahir istrinya. Tapi kakek Arman melarang, karena pak Mail juga sudah tua, kasihan katanya perjalan jauh, biar Cahyo saja yang mengantar, karena Cahyo masih muda dan pasti tidak akan cepat lelah, jika bepergian Jauh.


Sebelum memuali aktivitasnya Radit mendekati istrinya lebih dulu, lalu Radit menyerahkan handeponenya pada Jihan.


"Kok hp mas Radit? Hp Jihan mana." Pinta Jihan.


"Nanti ya, mas mau nunjukin sesuatu di hp ini, ada banyak video yang akan menjelaskan semuanya kenapa aku tidak jadi menikah dengan Elsa, tapi kamu harus perlu tau aku menikah denganmu bukan terpaksa tapi karena mas sudah benar-benar mencintai dirimu."


"Mas jelas kurang tahu kapan perasana ini tumbuh, tapi bersamaan kamu mas nyaman dan tidak pernah mas dapatkan dari perempuan manapun." Jelas Radit.


Radit memang sengaja mengatakan hal ini pada istrinya, karena Radit tidak mau setelah Jihan melihat semua video yang akan Jihan tonton, dia malah jadi salah artikan. Tidak tau saja Radit, jika semua kata-katanya barusan membuat Jihan begitu malu.


"Kamu lihatlah videonya, mas kerja dulu."


Cup!


Satu kecupan dari Radit mendarat di bibir istrinya.


Blus...


"Manis sayang." Ucap Radit, dia segera menuju meja kerjanya..


Radit memang sangat suka menggoda istrinya itu.


"Ish! Mas Radit apa sih." Kesal Jihan, tapi dia tersenyum memandang suaminya.


Radit melemparkan senyum pada Jihan, dia sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Ingat mas jangan serius-serisu kerjanya kita mau jempat Nafisa 2 jam lagi." Peringat Jihan.


Jihan teringat pesan oma Rifa, jika suaminya itu sudah kerja maka akan begitu fokus pada pekerjaannya sendiri, tidak menghiraukan yang lainnya lagi.


"Siap nyonya Radit Amran!"


Setelah itu Radit dan Jihan fokus pada kegiatan mereka masing-masing.


Jihan menghidupkan gejed suaminya, wallpaper yang dipajang di hp suaminya, foto dirinya sedang tersenyum. Entah kapan Radit mengambil foto itu, tapi sepertinya foto itu sudah lumayan lama.


"Sejak kapan mas Radit mengambil fotoku." Ucap Jihan pelan, sambil dia melirik suaminya.


Lalu Jihan kembali fokus pada gejed suaminya dan membuka beberapa video yang Radit katakan tadi.


Jihan mulai serius menonton video itu, jelas sekali vidoe itu memperlihatkan Elsa dan Febry yang sedang menyusun rencana mereka, lalu saat Elsa dan Febry bekerja sama mencuri proyek dia perusahaan Amran Mingin. Bukan hanya itu saja, ada juga Elsa dan Febry mengatakan, kalau mereka berdua suami, istri. Elsa juga mengatakan, dia menikah Radit agar bisa mengausi harta keluarga Amran.


"Astagfirullah." Istighfar Jihan.


"Ya Allah kenapa mbak Elsa tega sekali, lalu kepana suaminya bukan menasihati mbak Elsa, malah menyuruh istrinya melakukan maksiat." Gumun Jihan tiak percaya..


Tidak sadar kalau air mata sudah membahashi pipinya, Radit yang sudah selesai mengerjakan beberapa berkasnya kembali menghampiri sang istri.


Tinggal sedikit lagi berkas-berkas yang belum Radit kerjakan, masih ada waktu 1 jam untuk Radit menyelesaikan berkas-berkas itu sebelum dia dan istrinya menjemput Nafisa pulang sekolah.


"Kenapa?" Radit menghapus air mata istrinya.


Jihan tak mampu bersuara, dia hanya bisa menggeleng saja, jujur Jihan tak terima Elsa menyumpahi Nafisa tiada, sesak sekali hati Jihan. Radit yang tak tega melihat istrinya begitu lemah jika menyinggung masalah Nafisa, langsung membawa wanita yang begitu dia cintai masuk ke dalam dekapannya.


"Menangislah." Ucap Radit pelan.


Jadilah Jihan menangis sejadi-jadinya di dalam dekapan suaminya itu. Jihan sangat menyayangi Nafisa begitu tulus, dia tak mampu melihat Nafisa disakit oleh orang lain, walaupun tidak secara langsung.


Dalam posisi seperti ini, sesekali Radit mencium pucuk kepala istrinya yang tertutup hijab untuk menenangkan Jihan.


Tangis Jihan akhirnya reda, Radit melepaskan pelukan mereka pelan. "Tenanglah Nafisa akan selalu bahagia bersama kita, sampai kita tua, sampai dia menemukan jodohnya, aku tidak akan memberikan siapapun menyakiti putri kita."


Jihan mengangguk patuh, dia percaya pada suaminya.


"Sayang kamu mau tau siapa yang membuatkan sadar atas perasaan ini? Dan kamu mau tau juga siapa sudah merekam semua video yang baru saja kamu tonton."


Jihan menatap suaminya sambil mengangguk, "Kamu pasti tak akan percaya."


"Putri kitalah yang menyadarkan ayahnya yang tidak peka ini tentang perasaanku padamu dan juga semua video itu Nafisa pemiliknya."


"Nafisa sudah merentes semua cctv di perusahaan dan juga diaparteman Febry dan istrinya, Nafisa sudah tau dari lama semua ini."


"Aku percaya pada ceritamu mas, walaupun tidak masuk akal pastinya, bocah 6 tahun sudah banyak melakukan segala hal. Apa mas Radit juga tau siapa yang memilihkan baju pengantinku, aneh begitu pas saat aku kenakan tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil."


"Itu pilihan putri kita sayang." Radit dan Jihan akhirnya tertawa bersama.


Sampai Jihan teringat akan satu hal jika Manda kerja di perusahaan suaminya juga, seingat Jihan manda menjadi staf di produksi.


"Mas, apa mas Radit mengenal Manda? Temanku yang sudah membawa aku kerja di rumah waktu itu."


"Tentu saja sayang Manda sudah banyak menolong aku dan Nafisa untuk menjadikan kamu bagian dari kami seutuhnya."


"Jadi mas sudah kenal Manda?"


"Tidak lebih tepatnya Nafisa yang merencakan semuanya Nafisa juga yang menghubungi Manda, aku juga sudah menaikkan posisi Manda di perusahaan menjadi menejer produksi."


"Alhamdulillah."


"Jadi mau ketemu Manda?"


"Besok saja mas, mas Radit sudah selesai kerjanya? Kalau sudah ayo kita jemputan Nafisa."


"Sedikit lagi, mas selesaikan sebentar." Jihan mengangguk.


Setengah jam berlalu Radit sudah menyelesaikan pekerjaannya, dia dan Jihan segera bersiap untuk menjemput Nafisa..


25 menit lagi Nafisa akan pulang sekolah untuk hari ini.