
Bismillah.
Acara resepsi Jihan dan Radit sudah lewat 2 hari yang lalu, hari ini oma Rifa dan opa Amran bersiap untuk kembali ke kota J. Sedangkan Jihan dan yang lainnya akan menyusul 2 hari lagi. "Ibu Kasih kami duluan ya, maaf tidak bisa terlalu lama berada disini."
"Iya ibu Rifa, terima kasih banyak atas semaunya."
"Tidak perlu sungkan ibu Kasih, kita ini besan."
"Sekali lagi terima kasih."
Barulah oma Rifa pamit pada yang lainnya, Ayu belum ingin pulang, karena dia masih betah berada di desa. Lagipula Ayu masih takut pada opa Amran, karena 2 hari yang lalu opa menghukum Ayu dah Rafli, akibat sudah berhasil membuat kekacauan diacara resepsi kakak mereka.
"Oma hati-hati di jalan." Ucap Nafisa sambil memeluk omanya.
"Iya sayang, sampai ketemu di rumah nanti ya."
"Oke oma."
Lalu Nafisa beralih pada opanya. "Opa juga hati-hati."
"Pasti Nafisa, cucu opa yang baik."
"Satu lagi oma, opa, tolong janga Caca ya, Nafisa sangat merindukan Caca."
Opa Amran dan oma Rifa saling pandang sejenak. "Pasti sayang."
"Yasudah kita pergi dulu, Assalamualaikum." Salam oma Rifa dan opa Amran.
"Wa'alaikumsalam." Jawab semuanya kompak.
Mereka semua mengiringi oma Rifa dan opa Amran menuju ke mobil setelah itu baru mobil berwarna hitam dengan merk Koenigsegg. Mobil tersebut segera membelah jalan, meninggalkan desa Marga, tempat keluarga Jihan tinggal.
"Hahahahah," Tiba-tiba tawa Nafisa pecah begitu saja setelah ke pergian oma Rifa dan opa Amran.
Semua orang menatap aneh gadis kecil itu, bahkan dia sampai memegangi perutnya sendiri..
Duk!
Ayu memukul pelan pundak keponakannya, "Woi, bocah! Kamu kenapa tiba-tiba ketawa sendiri seperti orang aneh?"
Nafisa langsung menghentikan tawanya, lalu menatap kearah kak Ayu sengit. "kamu nanya? Aku kenapa."
"Apa sih, kagak jelas."
"Hahahah, gimana kak Ayu, kak Rafli rasanya dihukum sama opa? Enak kan, hahahaha."
"Nafisa!" teriak Ayu dan Rafli bersama.
Hal itu membuat ibu Kasih, pak Joni, Radit dan Jihan tertawa bersama.
"Ada-ada saja kalian ini." Ucap ibu Kasih.
Nafisa beralih ke belakang nenek dan kakeknya. "Nenek, kakek, Nafisa takut lihat kak Ayu dan kak Rafli mau jahat sama Nafisa, hiks....hiks...hiks..."
Rafli maupun Ayu sama-sama memutar bola mata mereka malas, pintar sekali Nafisa berakting, bahkan sekarang ajiabnya dia tiba-tiba bisa menangis setelah tertawa terbahak-bahak.
"Bocah aneh!"
"Siapa yang kak Rafli bilang aneh?"
"Kamu nanya?" ucap Rafli dan Ayu kompak.
"Ish! Kak Ayu sama kak Rafli ngeselin, kak Rafli sekarang kita tidak teman lagi, sana kak Rafli teman dengan kak Ayu saja."
"Hal tidak baik saja bisa akur, aneh memang." Sindiri Radit.
"Bodo!"
Ibu Kasih dan pak Joni sudah masuk ke dalam rumah diikuti Nafisa yang masih mengintil nenek dan kakeknya, sementar Rafli segera pergi begitu juga dengan Ayu.
"Heran deh mas, kok Ayu sama Rafli bisa nggak akur gitu."
Radit terkekeh mendengar ucapan istrinya. "Kamu kayak nggak tau Ayu aja dek."
"Tapi bener lo mas, Rafli selama ini kalau di rumah nggak ada temennya sih, dari pada main dia lebih suka bantu ibu sama bapak di kebun dan sawah."
"Sejak bertemu Ayu dan Nafisa, Rafli jadi sering ceria dan ngomong, mungkin karena efek dia tidak punya saudara, sama aku juga sungkan."
"Kan kamu kakaknya dek." Sahut Radit sambil memeluk pinggang istrinya.
"Kita jalan-jalan yuk.."
"Boleh."
Radit dan Jihan segera pergi jalan-jalan di desa itu, sebelum mereka kembali ke kota, Jihan sudah menikah tentu dia harus ikut dengan suaminya.
Pak Joni setidaknya merasa lega mendapatkan menantu seperti Radit, pak Joni yakin, jika menantunya bisa menjaga Jihan dengan baik. Allah memang tidak pernah salah menjodohkan hamba-Nya satu sama lain, hanya Allah lah yang tau jodoh seseorang, tapi kadang banyak orang yang mendahulukan takdir Allah.
Di rumah Hilam.
Puspa masih betah diam Hilam merasa pusing sendiri melihat istrinya yang sangat kerasa kepala.
"Kapan kamu sadar Puspa! seharusnya kamu meminta maaf pada Jihan dan suaminya!" kesal Hilam.
Hilam sudah tidak bisa begini terus, Puspa jika tidak diberitahu maka akan semakin keras kepala saja.
"Mas mohon Puspa, setidaknya agar tetangga tidak memandang kita tidak baik, kamu taukan kamu sedang hamil besar, sekarang saja sudah memasuki bulan lahir, tolong jangan begini kasihan anak kita."
Hilam sudah merendahkan suaranya, ketika bicara dengan istrinya sendiri, sadar jika 5 hari ini dia terus memarahi istrinya dan Puspa pun yang kerasa kepala terus saja menjawab perkataan suaminya.
Bahkan sampai menuduh Hilam yang tidak-tidak, "dek ayo kita minta maaf sama mereka, bagimanapun juga memang kita yang salah disini."
"Mas tidak mau, masalah ini jadi pengahalang untuk keluarga kita kedepanya nanti, mas tidak mau saat kamu lahirkan orang-orang tidak peduli, mas mohon turukan egomu."
Hilam kini benar-benar bicara dari hati kehati pada istrinya, sadar sedarnya dia jika dia sebagi suami sudah salah, belum bisa mendidik istrinya dengan baik.
"Mas minta maaf, jika selama kita menikah mas belum bisa membahagiakan kamu, mas salah seharusnya mas menjadi suami agar bisa menjadi contoh yang baik untukmu. Maaf jika selama ini mas belum bisa jadi suami yang baik buat kamu, belum bisa jadi suami yang kamu inginkan."
Air mata mengalir dari pelupuk mata Puspa, dia juga sadar selama ini sudah menjadi istri durhaka pada suaminya, bahkan setelah Jihan kembali ke desa, Puspa selalu mengabaikan suaminya membangkang suaminya pula.
"Hiks...hiks...hiks.... Aku juga minta maaf mas, aku salah, aku memang batu. Bahkan karena keegoisan ku, aku tidak memikirkan anak yang ada di dalam kandunganku sama sekali, mas benar kita harus minta maaf pada Jihan dan suaminya."
"Lebih tepanya aku yang harus meminta maaf pada Jihan, aku bukan sahabat yang baik, aku terlalu egois tidak ingin melihat Jihah lebih baik dariku. Padahal Jihan memang pantas mendapatkan semua itu."
Hilam menarik Puspa ke dalam pelukannya, jadilah suami istri itu mengais sambil berpelukan, sadar selama ini mereka sudah menyakiti hati seorang yang sama sekali tidak memiliki salah pada mereka.
Jihan dan Radit masih berjalan-jalan.
"Hacim...hacim....hacim...." Sedari tadi Jihan terus saja bersin-bersin.
"Dek, kamu kenapa sih, kamu sakit?" tanya Radit begitu khawatir.
Jihan tertawa melihat ekspresi suaminya yang sangat mengkhawatirkan dirinya, Jihan dapat merasakan Radit begitu tulus menyayangi dirinya.
"Tidak tau mas, tapi aku tidak sakit kok."