
Bismillah.
Selama kehamilan istrinya Radit benar-benar menjadi suami siaga untuk Jihan, bahkan bukan hanya Radit saja yang begitu perhatian dengan Jihan. Semua orang yang berada dikeluarga Amran itu sangat menjaga dan memperhatikan Jihan begitu juga dengan Nafisa.
Sedangkan di kampung ibu Kasih begitu senang kala beliah waktu itu mendapatkan kabar, jika Jihan sedang hamil setelah kecelaan yang menimpanya kala itu.
Hari ini tempat sudah 7 bulan kehamilan Jihan, semakin hari ibu hamil itu semakin aktif saja, hal itu tentu membuat sang suami selalu was-was, Radit harus benar-benar menjaga istrinya ekstra.
"Mas, kenapa sih ngikutin Jihan terus dari tadi!" kesal Jihan.
Sudah 2 bulan belakangan ini, Jihan sepertinya begitu malas jika suaminya selalu mengekori dirinya.
"Tidak papa dek, mas hanya khawatir saja sama kamu."
Jihan berhenti berjalan Radit pun menghentikan langkahnya, melihat tingkah suaminya Jihan menghebuskan nafas kasar.
"Mas, nggak gitu juga kali Jihan cuman mau ke dapur ambil rucak yang kemarin mas beliin, jadi mas Radit tetap disini! Tidak perlu mengikuti Jihan."
Akhirnya Radit patuh saja pada istrinya dari pada istrinya ngambek lagi, pikir Radit seperti itu. Perut Jihan tak terlihat begitu besar, padahal dia sudah hamil 7 bulan. Jihan dan Radit tidak mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Biarlah menjadi kejutan untuk mereka semua. Perempuan atau laki-laki Jihan dan Radit akan menerima dengan rasa syukur, sebab semua adalah pemberian Allah.
Laki-laki maupun perempuan tidak masalah bagi keduanya, begitu juga dengan kedua orang tua Jihan dan Radit.
Tak lama Jihan sudah kembali ke ruang keluarga, Radit sudah menunggu istrinya disana.
"Mas kok masih disini sih, Nafisa udah mau pulang sekolah, nggak dijemput memangnya?" cerocos Jihan sambil memakan rujak yang berhasil dia ambil dari dapur.
Radit menepuk jidatnya sendiri. "Astagfirullah, mas lupa dek, ya sudah mas pergi dulu ya, ada yang mau dibeli tidak?"
Jihan berpikir sejenak. "Jihan mau cilok yang pedas banget ya mas."
"No!" tolak Radit mentah-mentah.
Tidak mungkin Radit mengizikan, istrinya memakan, makanan yang pedas-pedas, melihat Jihan makan rujak saja ingin sekali rasanya Radit merebut rujak itu dari tangan sang istri. Tapi Radit berpikir lagi, kalau benar-benar dia melakukan hal itu pada istrinya.sudah dpastikan Jihan akan marah pada dirinya.
"Kenapa mas tidak mau? Mas Radit pelit mas beli cilok doang nggak dikasih!" kesalnya.
"Boleh sayang, tapi jangan pedes-pedes ya, sedeng aja gimana?" tawar Radit.
Hmmmm.
Jihan tak bergeming, tapi dia menyetujui usulan suaminya setidaknya Jihan masih bisa makan cilok yang dia inginkan.
"Mas pergi dulu." Pamit Radit sambil menyodorkan tangan kanannya pada Jihan.
Tentu Jihan paham jika suaminya itu minta disalimi, memang itu juga kebiasaan Radit dan Jihan selama ini.
"Mas pergi, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Jihan mengiringi sang suaminya sampai depan rumah. Radit memang selalu menjemput Nafisa, jika dia berada di rumah biasanya Jihan juga ikut serta, mungkin kali ini Jihan sedang malas keluar saja.
Jadi dia tak meminta untuk ikut suaminya. Dua bulan ini tidak seperti 5 bulan yang lalu, jika diawal-awal masa kehamilan Jihan, dia ingin selalu dekat dengan sang suami. Berbeda jika masa sebentar lagi Jihan akan melahirkan. Jihan malah lebih senang dekat dengan Nafisa dan Caca ketimbang suaminya, 2 bulan ini juga tak jarang Jihan meminta Nafisa untuk tidur besama mereka.
Setelah kepergian Radit, Jihan kembali masuk ke dalam rumah saat masuk Jihan tak sengaja melihat oma Rifa yang terlihat begitu sibuk.
Jihan akhirnya menghampiri mama mertuanya. "Mama."
Jihan sudah berada disebelah oma Rifa, "Mama semua barang-barang ini untuk apa? Mama juga terlihat begitu sibuk, biar Jihan bantu ya."
"No, Jihan, kamu harus banyak istrihat sayang, oh iya, maaf mama sampai lupa mama mau ngadain acara 7 bulanan untuk kamu."
Oma Rifa lupa kalau beliau belum memberi tahu menantunya jika beliau akan mengadakan syukuran 7 bulanan untuk kehamilan Jihan.
"Masya Allah ma, kenapa jadi repot-repot. Biar Jihan bantu ya."
"Tidak perlu sayang, kamu harus banyak istirahat Nak."
"Tidak apa-apa ma, Jihan bosan jika harus berdiam diri terus, Jihan janji tidak akan melakukan kegiatan yang berat-berat."
Tak tega melihat menantunya yang begitu kekeh ingin membantu, akhirnya oma Rifa menyetujui permintaan Jihan. Tentu saja dengan syarat yang amat banyak diberikan oma Rifa pada Jihan.
Para pekerja di rumah itu juga sudah sibuk, dengan kegiatan mereka masing-masing. Oma Rifa hanya mengundang orang kompleksnya saja dan anak yatim piatu untuk acara ba'da magrib nanti.
Jihan dan yang lainnya sudah bergelut di dapur, berbeda dengan Radit yang baru sampai di sekolah putrinya.
Setelah menjemput Nafisa lebih dulu di sekolahnya, barulah Radit mencari cilok titipan istrinya. Sialnya Radit tidak tahu seperti apa bentu cilok itu, jadilah selama satu jam Radit dan Nafisa tak kunjung menemukan makana yang bernama cilok.
"Ayah, dari tadi cari apa sih? Kapan kita sampai rumahnya kalau begini." Gerut Nafisa.
"Maaf sayang, bunda pesan cilok, tapi ayah tidak tahu seperti apa bentuk cilok." Ucap Radit akhirnya.
"Astagfirullah, kenapa ayah tidak bilang dari tadi, di depan sekolah Nafisa itu ada tukang jual cilok tau!"
"Eh, kok marah."
"Habisnya ayah nyebelin baget sih, ayo balik lagi ke sekolah Nafisa."
Mau tidak mau Radit mengikuti petunjuk putrinya, setelah sampai di depan sekolah Nafisa, bocah itu langsung membeli 3 bungkus cilok. Setelah selesai baru mereka pulang, sampai di rumah, Jihan sudah menunggu ke pulangan suami dan anaknya.
"Asslamauikum bunda and all." Salam Nafisa.
"Wa'alaikumsalam sayang, kok baru sampek rumah?" bingung Jihan.
"Ayah tu bun, masa cari cilok sampai 1 jam, padahal di depan sekolah Nafisa ada tukang ciloknya." Adu Nafisa merasa kesal.
Begitulah keseharian keluarga kecil itu, Nafisa maupun Radit akan selalu menceritakan apapun pada Jihan, jika keduanya sudah pulang Nafisa pulang dari sekolah dan Radit pulang dari kantornya.
"Sekarang ciloknya mana mas?" pinta Jihan.
"Ini bunda sama Nafisa."
Malam hari tiba orang-orang sudah berdatang untuk mendoakan calon bayi Jihan dan Radit.
7 bulanan yang oma Rifa lakukan bertujuan agar mereka semua bisa lebih bersyukur lagi, apalagi sebentar lagi di rumah itu akan kedatangan orang baru yang ditunggu-tunggu kelahiran bayi dalam perut Jihan.