
Bismillah.
Takdir Allah memang tidak akan ada yang tahu, maut kapan saja dapat menghampiri semua makhluk di dunia ini yang bernyawa.
Tua, muda bukanlah tolak ukur untuk seorang bisa mengetahui kapan ajal kita tiba, ada yang sudah tua pasti mati, tapi ada juga sudah tua tapi tiadanya begitu lama, baru lahir sudah tak bernyawa dan masih muda saja banyak yang kehilangan nyawa.
Kita tidak akan pernah tau, kapan kita mati? Dan dimana kita akan mati? Jelas bukan tidak ada satupun orang yang mengetahui jawaban tersebut. Ada yang tidur tiba-tiba tidak pernah bangun lagi, ada juga yang berkendara pelan tapi kecelakaan, ada juga yang tersedak makan tiba-tiba nyawa melayang, kita benar-benar tidak tahu kapan ajal akan menghampiri.
Apakah kita yakin, jika besok kita akan bernafas kembali? Menghirup oksigen yang Allah berikan secara gratis, tanpa meminta imbalan apapun. Kita hidup di dunia ini untuk beribadah, apakah untuk Allah? Jelas untuk diri kita sendiri, Allah tak pernah butuh kita, tapi jangan pernah lupa kita butuh Allah setiap saatnya. Kadang manusia terlena akan dunia, sampai lupa tujuan yang sebenarnya.
Sore itu juga jasad Puspa dimakamkan di pemakaman umum, di desa Marga. Semua warga langsung tahu kabar tentang kepergian Puspa untuk selama-lamanya, herannya Puspa sudah tiada masih saja ada orang yang menggosipakan keburukan Puspa.
Kedua orang tua Jihan juga sudah hadir, tidak terlalu banyak orang yang datang melayat. walaupun begitu, setidaknya kepergian Puspa dalam keadaan mulia, dia merelakan nyawanya untuk keselamatan buah hati mereka. Tidak ada yang tahu, jika saat Puspa menghembuskan nafas terakhirnya, dia sempat mengucapkan kalimat LaIlahaIllallah.
Puspa sudah menyadari semua kesalah-kesalahnya yang selama ini dia perbuat, saat berjuang melahirkan putrinya, Puspa terus teringat akan dosa yang pernah dia lakukan, terutama pada sahabat kecilnya yang selalu ada untuk dirinya.
Sore itu proses pemakaman berjalan dengan lancar, tidak ada hambatan sedikitpun, saat proses pemakaman hanya ada hambatan gosip para ibu-ibu.
Jihan tidak ikut mengantar Puspa ke tempat peristirahatan terakhirnya, karena Jihan harus menjaga putrinya. Jihan tidak mau Nafisa berada di makam, Jihan hanya mampu mendoakan Puspa dari rumah saja, bukan hanya Jihan dan Nafisa yang berada di rumah, tapi juga Ayu.
Hanya ketiga orang itu yang tidak pergi, saat acara pemakaman selesai, Hilam dibuat terenyuh, orang-orang yang dulu pernah dia dan istrinya sakiti rela datang untuk mengantar istrinya di tempat peristirahatan terakhir Puspa.
Banyak warga yang tidak hadir diacara pemakaman itu padahal, tapi kedua orang tua Jihan dan adiknya juga suami Jihan hadir disana, mengiringi pemakaman Puspa.
Semua orang sudah berpulangan satu persatu meninggalkan makam, acara pemakaman sudah selesai. Hilam sudah bertekad akan meminta maaf, walaupun tidak dengan Jihan langsung, Hilam akan meminta maaf pada Radit dan kedua orang tua Jihan.
Niat Puspa dan Hilam memang ingin meminta maaf pada Jihan dan keluarga, tapi siapa sangka Allah berkehendak lain.
Hilam melangkah mendekati keluarga Jihan yang juga akan pergi dari pemakaman itu. "Ibu, bapak, Rafli, Radit." Panggil Hilam..
Suaranya terdengar sangat bergetar, semua yang dipanggil itupun menoleh ke belakang mereka semua serempak memberhentikan langkah mereka. Hilam dia sejenak, sambil menatap mereka semua dengan tatapan bersalah.
"Maaf, maafkan aku dan almarhum istriku." Ucap Hilam susah payah.
Kedua orang tua Hilam juga masih berada disana, begitu juga dengan orang tua Puspa, sementara bayi Hilam masih dirawat oleh kakak Hilam di rumah.
"Aku dan almarhum istriku minta maaf pada istrimu Radit." Ucap Hilam lagi.
"Rafli mas juga minta maaf, mas juga mewakili mbak Puspa minta maaf pada kalian semua." Setelah itu Hilam teraduk lemas.
Lalu dia memceritkan, bagaimana bisa Puspa jatuh di dalam kamar mandi, mendengar penjelasan Hilam semua orang merasa lega, karena Puspa pergi setelah menyadari semua kesalahan dirinya. Ibu Kasih yang tak tega melihat Hilam melangkah mendekati Hilam, lalu membantu Hilam bangun.
"Kami semua sudah memaafkanmu begitu juga dengan Jihan. Jauh sebelum kalian meminta maaf." Ucap ibu Kasih.
"Anggap semua ini pelajaran hidup untukmu Hilam, ambil hikmah dibalik musibah yang menimpa." Pesan ibu Kasih.
Hilam mengangguk, dia memang sadar semua ini salah dirinya.
"Terima kasih kalian semua sudah memaafkanku dan juga almarhum istriku."
Ada rasa lega di hati Hilam setelah dirinya meminta maaf pada semua keluarga Jihan, walaupun tidak dengan Jihan langsung, setidaknya ada suami Jihan yang mewakili.
Setelah itu ibu Kasih dan yang lainnya pamit pulang lebih dulu.
Sore berlalu.
Malam pun akhirnya tiba.
Jihan sedang bersama suaminya di kamar, sementara Nafisa bermain dengan Rafli dan Ayu. Bocah itu setiap malam selalu ingin bermain dengan Ayu dan Rafli, tidak juga lebih tepatnya, Nafisa suka mengerjai kedua orang itu.
Di kamar Jihan.
"Dek, tadi pas di pemakaman Hilam minta maaf, dia juga mewakili almarhum istrinya."
Radit menceritakan semua kejadian di makam tadi sore, tak ketinggalan Radit juga menceritakan, jika Puspa ingin meminta maaf secara langsung pada Jihan, sebelum nyawanya tak lagi bernafas.
Jihan langsung berhamburan ke dalam pelukan suaminya, dia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan laki-laki yang telah melengkapi hidunya. Mendengar cerita Radit, Jihan jadi teringat masa-masa dia dan Puspa bersama-sama dan yang paling membekas di otak Jihan.
Saat bapak Puspa mengalami kecelakaan, akibat jatuh dari pohon kelapa.
Waktu itu saat masih SMA.
"Yang sabar ya Puspa, Allah lebih sayang bapak, Allah ingin bertemu bapak." Ucap Jihan kala itu yang duduk di kelas 10 SMA sama seperti Puspa. Jihan berusaha menghibur sahabatnya, yang sudah lama bersama sadari kecil.
"Diam Jihan! jangan katakan apapun! Aku memang tidak pernah seberuntung dirimu." Kesal Puspa.
Sejak saat itu tanpa sepengetahun Jihan, sahabatnya itu menanamkan rasa benci yang amat mendalam pada Jihan.
'Kamu tidak pernah boleh mendapatkan apapun yang lebih dariku Jihan! Kamu masih memiki bapak sedangkan aku tidak, maka kamu tidak boleh mendapatkan kebahagiaan yang lain.' Batin Puspa kala itu.
"Sayang sudah dong jangan nangis." Pinta Radit.
Sebenarnya Radit sangat bingung, akhir-akhir ini tingkah istrinya sering berubah-ubah mood cepat sekali. Kadang mood Jihan baik, kadang juga tidak, jika moodnya sedang tidak baik Jihan akan banyak diamnya dan tidak peduli dengan sekitar.