Babysitting genius

Babysitting genius
# Tinggal menghitung jam



Bismillah.


Saat menjelang pagi dengan pedenya Elsa dan suami mulai bersiap untuk rencana mereka hari ini. Elsa maupun Febry belum tau jika selama 2 hari ini mereka sudah diintai para polisi yang ditugaskan Radit. Elsa masih begitu yakin jika dirinya akan menjadi nyonya dari keluarga terkaya di kota mereka.


Nyonya muda Amran.


Tak tau saja Elsa jika semua itu hanya angan-angan belaka dia dan suaminya, niat dari awal sudah tidak baik, otomatis kedepanya akan semakin tidak baik saja.


Niat Elsa dan suaminya hanya untuk menguasai seluruh harta keluarga Amran, lalu setelan itu mereka juga akan menguasai perusahaan Amran Mining. Sayang sekali semau rencana mereka sudah diketahui oleh bocah berumur 6 tahun, jika dibandingkan dengan Elsa dan Gebry, jelas saja boca umuran Nafisa tentu saja belum mengerti masalah seperti sekarang ini.


Anehnya Elsa dan Febry bisa kalah dengan anak kecil seperti Nafisa. Tidak tau saja mereka jika Nafisa merupakan aset terjenius dari keluarga Amran. Tak ada yang bisa membandingkan kejeniusan Nafisa, diantara keluarga Amran. Ayu, Radit, nenek Rifa dan kakek Amran semua iqnya kalah dari Nafisa.


Ya itulah Nafisa gadis kecil yang semuanya sudah bisa dia lakukan di umurnya baru saja menginjak usia kanak-kanak.


Di apartemen Elsa dan suami.


"Bagaimana mas, sudah dipersiapkan semuanya?" tanya Elsa memastikan.


"Semua sudah beres, mas yakin sebentar lagi seluruh harta kekayaan keluarga Amran akan jatuh ke tangan kita." Ucap Ferby terlalu percaya diri.


Elsa tersenyum bangga sekali, hanya tinggal menghitung jam misinya dan suaminya selama 2 tahun lebih ini akan berhasil, pikir Elsa. Ralat, misi yang sudah mereka rencanakan dalam 2 tahun lebih ini akan sia-sia begitu saja di hadapan bocah cilik.


Terlalu meremehkan orang lain, itu juga salah satu hal yang membuat kegagalan berpihak pada Elsa dan Febry.


"Aku sudah tidak sabar menunggu hal itu datang." Sahut Elsa tersenyum senang.


Mereka berdua menghabiskan waktu untuk berangan-angan mendapatkan kekayaan keluarga Amran, sambil menunggu waktunya untuk Elsa pergi ke kediaman Amran Mingin tiba.


Elsa dan Radit benar-benar tidak sadar jika polisi sudah mengepung apartemen mereka, agar tidak mencurigakan pihak polisi sampai menggunakan kostum biasa, hanya beberap orang saja yang mengekang kostum polisi.


Berpindah dari Elsa dan Febry yang terlalu berangan-anggan tinggi untuk menguasai kekayaan keluarga Amran.


Nenek Rifa dan yang lainnya baru samapi tadi malam tepat di jam 12 malam, untung Radit belum tidur, dia memang sengaja menunggu kedatangan calon mertua dan calon adik iparnya. Radit senang sekali kala mendapatkan sambutan hangat dari calon mertuanya, tak menyangka jika orang tua Jihan akan menyetujui pernikahan mereka.


Padahal sampai saat ini Jihan masih mengira apa yang dikatakan Nafisa hanya sebuah candaan belaka saja. Jihan, Jihan, tidak tau dia terlalu polos atau memang tak peka, atau malah Jihan menganggap Nafisa yang bicara jadi Jihan anggap angin lalu saja.


Padahal kemarin sore Radit juga sudah mengatakan secara langsung pada Jihan, saat gadis itu berhasil membuat cake coklat bersama Nafisa. Radi mengatakan kesungguhannya mau menikah Jihan, tapi apa respon Jihan, dia hanya menangap perkataan Radit angin lalu saja, atau hanya sekadar canda belaka. Walaupun Jihan akui apa yang dikatakan Radit terus teringat-ingat di kepalanya, kata-kata tadi sore terus saja bersarang di kepala Jihan.


"Jihan aku besok akan menikahmu, apakah kamu bersedia?" ucap Radit sungguh-sungguh.


Diluar dugaan Radit kira Jihan akan menolak, tapi siapa sangka Jihan malah mengangguk membuat Nafisa dan Radit melayang, padahal mereka berdua tidak tahu kalau Jihan mengangguk bukan karena perkataan Radit melainkan karena mencium aroma cake yang begitu wangi.


"Kamu sudah setuju untuk menjadi istriku Jihan, jadi besok bersipa lah untuk menantikan hari bahagia kita." Ucap Radit lagi.


"Hah!" kaget Jihan saat dia sadar atas semua kalimat yang terucap dari mulut Radit.


"Tapi ayah Ra-" kala itu Jihan belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tapi Radit sudah lebih dulu memotong perkataan Jihan.


"Aku tidak mau lagi mendengar apapun Jihan, sekali kamu mengangguk setuju maka itulah jawabnya tidak ada yang boleh diubah lagi, aku tidak memaksamu hanya saja jawaban pertama adalah yang bisa diambil." Terang Radit tak mau lagi Jihan bicara.


Di dalam hatinya Jihan mengerut tidak jelas sendiri. 'Bukankan jika seperti itu sama saja ayah Radit memaksaku? dia memaksakan kehendaknya sendiri." Ronta Jihan dalam hatinya.


Setelah itu Radit pergi begitu saja, Radit tak tau jika dia sudah memporka-porandakan hati Jihan. Dinding pembatas yang Jihan dirikan selama ini sekaan hancur berkeping-keping begitu saja setelah mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Radit.


Sungguh Jihan jadi orang yang paling bingung sendiri jadinya. Dan malam itu setelah Jihan tidur di kamar Nafisa, dia bahkan tidur lebih awal, jadi Jihan tidak tahu kedatangan orang tua dan adiknya. Juga Manda orang yang paling berjasa diantara kisah Radit dan Jihan.


Jihan baru sadar Jihan adzan subuh sudah berkumandang dia segera bangun dari tidurnya. Dibawah sana nenek Rifa dan yang lainya sudah sibuk hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi ijab qabul Jihan dan Radit anak segera terlaksanakan.


Dua pihak keluarga rasanya sudah tidak sabar menunggu momen itu akan segera tiba nantinya.


"Nafisa ayo bangun sudah subuh." Jihan membangunkan Nafisa pelan.


Nafisa membuka kedua bola matanya pemandangan pertama yang Nafisa lihat Jihan sedang tersenyum ke arahnya.


Nafisa juga langsung menyunging senyum manis untuk bunda Jihan, Nafisa sangat ingat sekali hari ini adalah hari yang dia tunggu-tunggu selama dua minggu ini.


Nafisa segera bangun, tapi matanya masih setia menatap Jihan penuh kebahagain.


"Pagi Bunda." Ucap Nafisa senang sekali.


Saking senangnya Nafisa langsung memeluk Jihan.


"Akhir hari ini tiba juga, aku sudah tidak sabar melihat Bunda Jihan dan ayah Radit menikah." Ucap Nafisa begitu antusias..


Deg!


'Ya Allah, jadi semua yang dikatakan Nafisa dan ayah Radit itu nyata? Lalu apa yang dikatakan ayah Radit kemarin soren sungguh-sungguh? Astagfirullah, kenapa pula kamu tidak peka Jihan? Lalu bagaimana ini, jika aku yang akan menikah dengan ayah Radit mbak Elsa keman?'


'Apa terjadi sesuatu pada mbak Elsa, lalu jika aku benar menikah dengan ayah Radit, bagaimana ibu dan bapak juga Rafli mereka pasti akan kecewa aku menikah tanpa mereka.' Jihan mulai merasa sesak, tapi sesak yang tidak terlalu.


Terbesit sedikit kebahagiaan di hati Jihan.


"Ibu, bapak, Rafli." Ucap Jihan lirih.