
Bismillahirohmanirohim.
Pagi-pagi sekali di kediaman Amran sudah banyak orang yang berlalu lalang, sibuk mempersiapkan acara untuk besok, acara pernikahan Radit dan Jihan. Ingat acara pernikahan Radit dan Jihan! Bukan acara pernikahan Radit dan Elsa! Sekali lagi Radit dan Jihan!
Sayangnya Jihan masih mengira jika acara yang disiapkan saat ini untuk pernikahan Radit dan Elsa, Jihan mengira apa yang dikatakan Nafisa kemarin sore hanyalah ucapan Nafisa semata. Semua orang di kediaman Amran masih melakukan aktivitas seperti biasanya, kecuali Jihan dan Nafisa.
Kedua orang itu dilarang keluar dari rumah oleh Radit sampai besok, Ayu masih tetap sekolah, sedangkan Radit tetap berangkat ke kantor. Radit juga harus memastikan apakah Febry dan Elsa masih dalam pengawasan polisi, besok Radit akan membuat kejutan yang tak terduga untuk Elsa dan Febry.
Radit sudah mengirim baju pengganti ke apartemen Elsa, biar perempuan itu mengira dia benar-benar akan menikah dengan Radit.
Hahahaha! Tunggu kehancuran kalian besok, Radit tertawa jahat. Sunggu kemenangan ada ditangannya saat ini pasti Elsa mengira dia yang akan menang, tapi nyatanya sejengkal lagi Radit lah yang akan menjadi pemenang.
Sementara itu Jihan merasa heran, kenapa pula ayah Radit tidak mengizinkan dirinya dan Nafisa keluar rumah. Jangankan keluar rumah, Radit juga tidak mengizinkan dia dan Nafisa berkeliaran di dalam rumah, selama para pendekor rumah itu masih bekerja, jadilah disini sekarang Jihan dan Nafisa.
Di taman, bersama Caca.
Kedua orang itu akhirnya bermanja bersama dengan Caca, Nafisa dan Jihan sama-sama mengelus bulu lembut Caca. Senyum Nafisa tidak pernah pudar sedikitpun, setelah sore kemarin dia selalu mentapa mbak Jihanya dengan berbinar, bahkan sesekali dengan nakalnya Nafisa memanggil mbak Jihan dengan sebutan Bunda.
Mengingat itu Nafisa kembali Jahil memanggil Jihan dengan sebutan Bunda.
"Bunda." Panggil Nafisa pada Jihan.
Sayang sekali Jihan tak bergeming, Nafisa berdecak sebal.
"Bunda Jihan!" panggil Nafisa, kali ini Nafisa manggil Jihan dengan suara yang terdengar menuntut.
Menuntut untuk Jihan harus merespon dirinya, Jihan tersenyum senyum yang dipaksakan..
"Iya Nafisa, ada apa?" tanya Jihan lembut.
"Coba panggil Nafisa dengan sebutan sayang! Nafisa mau mendengarnya." Pinta Nafisa penuh permohonan.
"Kalau mbak Jihan tidak mau bagaimana?"
"Mbak Jihan jahat! Mbak Jihan tidak sayang Nafisa." Kedua bola mata bocah cilik itu sudah mulai berkaca-kaca.
"Eh, kok malah mau nangis." Kaget Jihan kala melihat mata Nafisa sudah berkaca-kaca.
"Karena mbak Jihan jahat! Tidak mau panggil Nafisa sayang!" ucapnya mulai sedikit berteriak.
Jihan terpenjak kaget, dia tidak menyangka, kalau Nafisa akan semarah ini. Padahal Jihan tidak tau jika di dalam hati bocah 6 tahun itu Nafisa sedang tertawa penuh kemenangan, karena berhasil menipulatif mbak Jihan, pahala air mata yang keluar dari kedua bola mata Nafisa hanya air mata pura-pura agar Jihan percaya padanya.
"Baiklah." Pasrah Jihan, sudah begini dia tidak bisa menolak keinginan Nafisa.
"Sayangnya mbak Jihan jangan cengeng ya." Ledek Jihan, berhasil membuat Nafisa mendelik kesal.
Meninggalkan Jihan dan Nafisa yang sedang di kurung oleh ayah Radit di rumah. Beralih pada mereka yang ada di Surabaya. Pagi-pagi sekali nenek Rifa sudah sibuk kesana kemari mempersiapkan untuk acara lamaran Radit.
Manda yang tak tega melihat nenek Rifa sibuk sendiri, akhirnya memutuskan untuk membantu-bantu nenek Rifa sebelum mereka berangkat ke desanya lebih tepatnya ke rumah Jihan.
'Bilang apa nanti aku sama ibu dan bapaknya si Jihan.' Batin Manda bingung pasalnya Jihan tidak ada menghubunginya sedikitpun.
'Mana aku pula yang bawa Jihan ke kota, aduh-aduh, semoga saja Jihan sudah mengabari orang tuannya, lagipula dia mau nikah nggak kabar-kabar sama aku.' Gerut Manda dalam hatinya.
Manda hanya bisa mengerut di dalam hati tak mungkin dia utarakan begitu saja, apalagi ada calon merutau Jihan didekatnya. Tidak tau saja Amanda jika yang mau nikah saja belum atau kalau dia mau nikah, semua sudah direncakan Radit dan Nafisa, tadinya Ayu tidak tau apa-apa tapi dia memaksa untuk diberitahu apa yang sedang mereka rencakan.
Jadilah Ayu termasuk salah satu orang yang juga ikut dalam rencana ini, tapi masalah lamar melamar Radit sama sekali tidak tau.
1 Jam berlalu akhirnya semua persiapan yang akan dibawa ke rumah calon besan nenek Rifa sudah siap semuanya.
"Sudah selesai Ma?" tanya kakek Amran
"Sudah, ayo kita berangkat sekarang saja Pa, mama sudah ingin ketemu calon besan." Ucap nenek Rifa antusias.
"Iya kita berangkat sekarang Ma, Cahyo ayo otw!" suruh kakek Amran.
"Siap kek."
Melihat nenek Rifa dan kakek Amran sangat baik membuat Manda sebagai teman Jihan merasa bersyukur.
'Nggak nyangka temen aku balak dapat suami tajir melintir bakal nyesel tuh si Hilam udah khianatin Jihan, eh, taunya Jihan malah dapat yang lebih-lebih berkali-kali lipat dari Hilam.' Batin Manda ikut senang juga.
Manda yakin satu kampung akan heboh atas kedatangan nenek Rifa dan kakek Arman hari ini.
'Ah, jadi nggak sabar liar reaksi si Pusap sama Hilam pas tau Jihan bakal dapat orang kaya raya.' Tidak tau kenapa Manda sangat senagan sekali nanti akan melihat wajah dua orang itu yang sudah menyakiti Jihan.
'Sahabat dan mantan tidak tau diri sih mereka salahnya.' Batin Manda lagi, dia terus saja berbicara dalam hatinya sendiri.
4 orang itu kini sudah masuk ke dalam mobil, Cahyo mulai melajuakan mobilnya menuju rumah Jihan, selama Manda sudah memberitahu Cahyo dimana letak posisi rumah Jihan.
Cahyo mengedari mobil dengan kecepatan sedang, "Kira-kira dari Surabaya sampai ke kampung kamu berapa Jam Manda?" tanya nenek Rifa.
Keuda wanita itu duduk di kursi belakang, "Kalau dari Surabaya memakamkan waktu 5 jam lebih nek."
"Tapi kalau dari kota J, lebih dekat lagi." Jelas Manda.
"Tak apa lebih jauh, artinya kalau pulang dari sana nanti bisa lebih dekat lagi." Sahut nenek Rifa.
Manda mengangguk setuju, setidaknya dia bisa pulang sejenak, jarang-jarang bisa libur tanpa harus memberi surat izin telebih dahulu ke kantor. Tapi Manda bingung kenapa Cahyo bisa membuat dirinya mendapat izin dari perusahaan tambang itu, belum tau saja Manda kalau Cahyo itu sekretaris dari direktur utama tempatnya bekerja.
Yang lebih penting lagi direkrut utama itu sendiri yang akan menikah. Selama perjalanan nenek Rifa dan Manda menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama, sesekali Cahyo memberhatikan mobil untuk mereka menunaikan shalat lebih dulu.
Sementara Manda hanya menunggu di mobil, sambil melihat pekerjaannya yang ditinggal mendadak.