Babysitting genius

Babysitting genius
#Memberitahu nenek Rifa



Bismillahirohmanirohim.


Urusan di kantor sudah selesai Radit segera kembali ke rumah, satu persatu karyawan di Amran Mining juga sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Sementara kasus pencurian proyek itu Radit sengaja melakukan rekayasa, Radit mengatakan jika pelakunya belum ditemukan masih dalam penyelidikan.


Berkas yang masih ada di ruang kerja Feby sudah diganti dengan berkas palsu. Saat Radit mengatakan pelakunya masih dalam penyelidikan Febry merasa begitu lega.


Tapi Febry tidak tau jika Radit sudah membuat rencana lain. Radit sudah menghubungi polisi untuk menangkap Febry dan istrinya besok, ada bukti kuat jika Elsa juga terseret dalam kasus ini.


Mungkin saat hari pernikahan itu tiba, Elsa bukan lagi diculik oleh orang suruhan Nafisa, tapi malah ditangkap oleh pihak kepolisian.


Radit juga sudah menjaga ketat apartemen Febry dan Elsa, agar kedua orang itu  tidak kabur, tentu saja semua itu Radit lakukan tanpa sepengetahuan pemilik apartemen.


Di dalam mobilnya Radit mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sebuah senyum terukir di sudut bibirnya tak perlu susah-susah untuk menyingkirkan Elsa, agar Jihan bisa menjadi istrinya.  Nyatanya Elsa sendiri yang melancarkan rencana dirinya dan Nafisa, ada hikmahnya juga menurut Radit sepasang suami istri itu melakukan kekacauan di perusahaan papanya.


Tanpa bantuan Nafisa mungkin saja Radit tak akan secepat ini menyelesaikan masalah yang terjadi, jika Nafisa tidak memberitahunya siapa orang munafik di kantornya, mungkin saja sampai hari ini Radit masih terjebak dalam permainan Elsa dan Febry.


Saking senangnya Radit, dia sudah tidak sabar untuk menemui Nafisa, "Nafisa harus tau kabar baik ini, rasanya aku tidak sabar memberitahu mama juga." Ucap Radit.


Sampai di kediaman Amran, Radit langsung naik ke lantai dua, dia berlari menggunakan tangga padahal di kediaman itu sudah ada lift. 


Ayu yang baru saja keluar dari kamarnya menatap heran sang kakak yang berlari menuju lantai dua, dia sampai mengerutkan dahinya, apakah kakaknya itu habis menang lotre? Sampai segitu senangnya.


"Aneh, tumben sekali mas Radit bisa senang itu." Ucap Ayu pada diri sendiri.


Ayu menutup pintu kamarnya pelan lalu dia segera menuju dapur, memang niatnya tadi kesana, bukan hanya dirinya ternyata yang menatap heran Radit para pekerja di rumah itu sampai cengo sendiri.


"Bi pada liatin apa?" Tanya kak Ayu.


"Eh, kak Ayu." Ujar kepala pelayan namanya bi Marni.


"Lihatin si bapak neng, tumben seneng baget kayak gitu." Jawab bi Marni jujur.


Ayu terkekeh. "Lagi dapet hadia besar kali bi, sudah nanti kena semprot lagi sama mas Radit." Kata Ayu masih terkekeh.


Para pekerja di rumah itu juga akhirnya itu terkekeh melihat Ayu yang terkekeh seperti itu, tak pernah ada ketegangan jika bersama keluarga Amran, kecuali dengan Radit.


Sedangkan Radit baru saja sampai di depan pintu kamar putrinya, Radit ingin masuk tapi sayup-sayup dia mendengar suara tangis orang dari dalam kamar Nafisan.


Deg!


'Kenapa mereka menangis?' kaget Radit, dia bertanya-tanya pada diri sendiri.


Hati Radit terenyuh melihat Nafisa dan Jihan menangis sambil berpelukan, sebelumnya memang Radit pernah melihat adegan seperti sekarang ini.


Tapi waktu itu Radit melihatnya dari jarak jauh, kini Radit bisa melihat dengan jelas Nafisa dan Jihan menagis saling berpelukan. Apalagi kedua netra Radit melihat dengan sangat jelas bahu Jihan yang bergetar hebat. Melihat adegan ini Radit semakin yakin untuk memperistri Jihan yang memiliki sifat tulus.


Nafisa yang menangis menghadap pintu kamarnya, tak sengaja melihat Radit segera menghentikan tangisnya, dia tak berkata apa-apa pada Jihan.


"Ayah." Panggil Nafisa.


Radit tersenyum, mendengar nama Radit disebut cepat-cepat Jihan menghapus air matanya. Dia dan Nafisa juga saling melepas pelukan keduanya. Nafisa dan Jihan menangis dalam waktu yang cukup lama, mereka berdua terus saja berpelukan.


Radit namanya sudah dipanggil oleh sang anak segera masuk lebih dalam ke kamar Nafisa. Radit berjalan menghampiri tempat dimana Jihan dan Nafisa duduk. Radit menatap Nafisa dan Jihan secara bergantian, seakan dia meminta penjelasan apa yang menyebabkan 2 perempuan yang dia sayangi ini menangis.


"Ada apa?" tanya Radit lembut.


Jihan dan Nafisa teridam membuat Radit akhirnya membuka suara. "Tidak ada apa-apa ayah." Jawab Nafisa akhirnya.


Radit menghela Nafas sejenak, nanti dia akan bertanya pada Nafisa saja, kalau dengan Jihan jelas dia tak akan mengatakan apapun.


"Jihan kamu kembalilah dulu ke kamar, biar aku yang menemani Nafisa."


Nafisa dan Radit sama-sama terkekeh, Jihan sangat jujur, "Biar aku saja yang memandikannya."


"Tapi-"


"Sudah tidak apa Jihan, kamu bersihkanlah diri kamu dulu."


"Baik." Sahut Jihan patuh.


Jihan sama sekali tak berani menatap Radit, dia terus saja menuduk, tentu perilaku Jihan yang seperti itu membuat Radit gemas.


"Saya permisi dulu." Ujar Jihan. Radit dan Nafisa sama-sama mengangguk.


Setelah kepergian Jihan kini Radit menatap anaknya meminta penjelasan. "Tadi kenapa menangis?"


Nafisa tersenyum, lalu dia mengatakan semuanya pada ayahnya apa yang membuat dia dia mbak Jihan menangis.


Radit mengangguk-anggukan kepalanya mendengar semua cerita Nafisa. "Lalu mbak Jihan jawab apa?"


"Tidak menjawab apa-apa dia malah ikut menangis." Jawab Nafisa terkekeh, lucu sekali rasanya melihat mbak Jihan ikut menangis seperti tadi.


"Baiklah ayah, juga punya kabar baik."


"Apa?"


Radit juga menceritakan semua yang terjadi di kantor, Radit juga mengatakan sekarang Elsa dan suaminya sekarang berada dalam genggaman polisi.


Waktu bergulir.


Tak terasa malam sudah tiba, sebelum makan malam Radit lebih dulu menghubungi mamanya.


"Assalamualaikum Ma." Salam Radit, kala sambungan telepon sudah terhubung.


"Wa'aliakumsalam." Jawab nenek Rifa ketus.


'Astagfirullah, Mama masih marah?' batin Radit.


"Ada apa menelepon? Sudah tak sanggup mengurus Amran Mingin sendirian? Atau sudah tak sanggup untuk mengurus Nafisa, Jihan dan Ayu? Atau kamu mau memebritau pernikahanmu itu?" tanya nenek Rifa bertubi-tubi.


Jelas sekali dalam nada suaranya terdengar kesal pada sang anak.


"Ma denger dulu Radit ngomong, ini memang tentang pernikahan Radit, tapi bukan pernikahan Radit dan Elsa, Radit akan menikah tapi bukan dengan Elsa."


"Lalu dengan siapa?"


"Jihan!" jawab Radit mantap.


"Apa! Jangan main-main kamu ya Radit! Bernai kamu nyakitin Jihan maka mama yang akan maju untuk menghakimimu." Maki nenek Rifa lebih marah lagi.


Di kamarnya Radit sampai mengaruk kepalanya sendiri.


"Ma makanya dengarin penjelasan Radit dulu ya, plis jangan dipotong."


"Iya, tapi awas kalau kamu berani macem-macem sama Jihan."


"Nggak ma, Radit nggak akan berani sama sekali!" tegasnya.


Lalu Radit mulailah menjelaskan semuanya pada nenek Rifa, Radit juga mengakui perasaannya pada Jihan. Radit juga mengatakan semua ini lantaran Nafisa.


Lalu tak ketinggalan Radit meminta tolong untuk menjemput keluarga Jihan.