Babysitting genius

Babysitting genius
#4 tahun



Bismillan.


Hari ini, hari libur semua orang yang berada di kediaman keluarga Amran tengah santai bersama. Oma Rifa dan opa Amran, sangat bahagia bisa melihat anak dan cucu mereka bisa bercanda bersama di hari libur seperti ini.


Kini jabatan Radit bukan lagi seorang direktur, tapi sudah menjadi CEO di perusahaan Amran Mingin, karena opa Amran sudah pensiun.


2 tahun lalu, opa Amran memutuskan untuk beristirahat di rumah apalagi putri bungsunya sudah ikut mengelola Amran Mining, Ayu baru saja selesai wisuda 5 bulan yang lalu.


Yah, walaupun Ayu sudah besar, ternyata dia dan Nafisa masih sering berdebat, karena Nafisa masih sering menjahili kak Ayu.


Si kembar juga sudah berumur 4 tahun, di umur kedunya yang menginjak ketiga tahun, dua bocah itu sudah dekat dengan peliharaan kakaknya. Apaagi kalau bukan Caca, si harimau putih kesayangan Nafisa, harimau itu sudah begitu besar.


Tapi Athar lebih cenderung dekat dengan Caca ketimbang sang adik Azlam. Di usia Athar dan Azlam karakter keduanya sudah sangat terlihat, Athar tak beda jauh dengan kakaknya Nafisa. Jahil, pecicilan suka dengan bintang buas, Jihan selalu was-was dengan putranya yang satu ini, tapi Jihan tau bagaimana cara menghadapi Athar, sebab dia belajar saat dulu masih mengurus Nafisa..


Berbeda dengan Azlam lebih cenderung banyak diam, dia mirip sekali seperti opa Amran irit sekali bicara. Di usia keduanya sudah masuk umur 5 tahun Azlam dan Athar sudah bisa banyak hal, kedunya sudah bisa bicara, pertumbuhan keduanya tak jauh berbeda dengan Nafisa saat dulu.


"Athar!" terika Nafisa.


Semua orang geleng-geleng kepala saat mendengar teriakan Nafisa. Nafisa dari dalam rumah berjalan mencari keberadaan adiknya itu.


Azlam sudah menebak jika sebentar lagi kedua saudaranya akan membuat heboh seisi rumah.


"Apa sih mbak Nafisa teriak-teriak!" protes Athar.


Dia dan Azlam sedang bermain di hadapan orang tuanya dan juga opa, oma.


"Kamu apain laptop kesayangan mbak?" Nafisa gereget sekali pada adiknya yang satu ini.


Sebenarnya setipa kali menjahili Nafisa, Athar selalu saja menyeret saudara kembarnya untuk ikut.


"Perang dunia akan segera dimulai." Celetuk kak Ayu yang baru saja ikut bergabung dengan yang lalinnya.


Athar dan Nafisa sama-sama menatap tajam kak Ayu, "Cek, giliran mau nyerang kak Ayu aja kalian berdua akur." Protes kak Ayu.


"Lihat tu si Azlam kalem, contoh dong."


"Dia bukan kalem kak Ayu, lebih tepatnya sudah memiliki sifat dingin sejak dini." Sahut Nafisa.


Oma Rifa dan opa Amran tersenyum mendengar celetukan cucu mereka. Jihan mengelus perutnya yang sedang buncit, ibu 3 anak itu, tersenyum tulus pada anak-anaknya, sang suami yang berada di sebelahnya mengelus tangan sang istri.


"Bintang adik-adikmu sudah besar. Mbak Nafisa juga tumbuh semakin cerdas. Bunda dan ayah bahagia, bunda harap kamu juga bahagia di alam sana sayang. Jika dizinikan semoga nanti kita semua dikumpulkan di tempat terindah disisi-Nya." Batin Jihan tersenyum.


Kandungan Jihan saat ini sudah masuk umur 8 bulan. Satu bulan lagi keluarga Amran akan menambah orang baru lagi.


"Terima kasih sudah mau menjadi ibu dari anak-anakku sayang." Bisik Radit..


"Sama-sama mas, Jihan juga terima kasih sudah menjadi suami dan ayah yang baik untuk Jihan dan anak-anak."


Mereka semua memerhatikan Athar dan Azlam yang masih sibuk bermain, Nafisa akhirnya tidak jadi marah, pada adiknya.


Yah, Nafisa hanya kesal saja pada Athar yang selalu saja menjahli dirinya dan setiap kak Ayu tahu, Jika Athar mengerjai dirinya, pasti kak Ayu akan selalu mentertawai dirinya.


"Itulah karena dulu sering sekali mengajari kak Ayu, sekarang tau rasa sendirikan dikerjain sama adeknya." Pasti kak Ayu akan mengatai Nafisa seperti itu.


Mereka semua menghabisi hari minggu dengan mengobrol bersama, cerita banyak hal yang membuat mereka semua bahagia.


Saat dengan asyik mengobrol, tiba-tiba ada yang mengucapkan salam, membuat semua orang jadi menoleh kesumber suara, sambil menjawab salam.


"Assalamualaikum." Salam tamu yang datang.


"Wa'akaikusalam." Jawab mereka semua kompak.


"Kak Rafli!" teriak Azlam heboh diikuti Nafisa dan Athar.


"Nafisa, Athar, Azlam jangan lari-lari sayang." Tegur Jihan.


"Siap bunda!" jawab mereka kompak.


Ayu memutar bola matanya malas, kalau sudah ada Rafli, pasti dirinya dilupakan oleh keponaknya sendiri. Sampai Rafli dan Ayu sudah lulus sekolah bahkan kuliah, dua orang itu tak pernah akur sama sekali.


"Bagus ya, kak Rafli dateng kak Ayu dilupain." Celetuk Ayu kesal.


Bukannya kasih pada Ayu mereka semua malah tertawa. "Heh, kutu kumpret, wajarlah mereka kangen sama gue, secara gue jarang ketemu mereka, lah lo tiap hari, gue jadi kasihan sama ketiga keponakan gue, jangan-jangan lo marahin terus ya!" tuding Rafli.


"Sekata-keta lo ya kalu ngomong, yang ada gue jadi sasaran keponakan lo!"


"Lah, keponakan lo juga kok marah, tadi aja iri!" sahut Rafli tak mau kalah.


Rafli tak abis pikir dengan iparnya, hebatnya Rafli dan Ayu sama-sama menyayangi sebagi ipar tak pernah lebih, yah, walaupun keduanya sering berdebat.


"Sudah, sudah, kalau ketemu kerjaannya ribut mulu." Lerai Jihan.


Ibu Kasih dan pak Joni juga sudah ikut bergabung dengan yang lainnya sedari tadi, keduanya hanya bisa menggelengkan kepala melihat Ayu dan Rafli berbedat.


Mereka kembali bercerita.


"Az sama Ath apa cita-citanya?" tanya Rafli.


"Salah kak Rafli, seharusnya tanyanya Ath dulu baru Azlam." Protes Athar.


"Hahahahahaha." Ayu dan Nafisa tertawa kompak.


Rafli menujukan wajah frustainya, "Menghadapi Athar bukan seperti menghadapi anak kecil pada umumnya bahkan lebih dari itu."


"Tau tuh, kak Rafli padahalkan Athar duluan yang lahir." Kompor Ayu.


"Lo, emang tukang kompor."


"Lo mau benerin kompor? Jangan disini." Balas Ayu tak kamu kalah.


Jihan dan Radit bahagia sekali, "Semoga keluarga kita akan selalu harmonis seperti ini ya mas."


"Insya Allah, sayang." Radit mengelus pucuk kepala Jihan yang tertutup hijab lembut.


Oma Rifa, opa Amran, ibu Kasih dan bapak Joni sudah masuk ke dalam rumah, oma hedak menyiapkan makan siang untuk mereka semua.


"Kalian bertiga mau adek cewek apa cowok?" tanya Rafli pada ketiga keponakannya.


"Dih, kepo ya lo."


"Astagfirullah! Napa sih lo cari masalah mulu sama gue, sadar udah gede malu sama yang kecil." Ucap Rafli.


Ayu hanya mampu mendengus kesal, saat mendapatkan ceramahan dari Rafli.


"Jadi mau adik cowok atau cewek?" kini Ayu yang bertanya dia juga kepo.


Ketiga orang itu bukannya menjawab, mereka melangkah kompak mendekati Jihan dan Radit yang sedang memperhatikan mereka. Ayu dan Rafli hanya memperhatikan saja.


Lalu ketiganya memeluk Jihan dan Radit sayang, "Bunda kata kak Rafli kita mau adik cowok apa cewek?" ucap Nafisa.


Ayu dan Rafli masih bisa mendengar perkataan Nafisa, "Sedikasihnya sama Allah." Jawab Jihan.


"Nah, kak Ayu sama kak Rafli yang sudah tahukan apa jawabannya." Kedua orang itu mengangguk kompak.


Alhamdulillah novel babysitting genius sudah TAMAT