
Bismilah.
Nafisa, Jihan dan Manda masih jalan-jalan di sekitar perusahaan Amran Mining. "Man, kamu sudah laman kerja di sini?" tanya Jihan pada Manda.
"Lumayan sih Ji, aku aja bisa ngirim uang untuk orang tua di kampung sejak kerja di Amran Mining."
Mereka bertiga sedang duduk di kursi yang ada di bawah pohon, lokasinya tidak jauh dari perusahaan, mereka masih berada di dekat perusahaan. Jihan dan Amanda asyik mengobrol, sambil terus memperhatikan Nafisa yang asyik dengan dunianya sendiri. Saking asyiknya mereka mengobrol ternyata ashar akan segera tiba.
Jihan menghampiri Nafisa, yang masih asyik bermain sendiri dengan daun-daun yang berguguran di bawah pohon. "Nafisa ayo kembali ke ruangan ayah, sudah hampir ashar." Ajak Jihan pada putrinya.
"Siap bunda." Jawab Nafisa tanpa membantah perkataan Jihan.
Jihan dan Nafisa menghampiri Amanda yang masih duduk di kursi. "Manda ayo masuk udah hampir ashar, dan terima kasih untuk hari ini Man."
''Sama-sama Ji, harusnya aku yang berterima kasih, hari ini aku bisa bebas dari ke pusingan." Ucap Amanda yang membuat mereka terkekeh bersama.
Waktu berlalu.
Jihan dan Nafisa sudah berada di ruang Radit, "Ayah ayo pulang." Ajak Nafisa.
Hari memang sudah semakin sore. "Baiklah mari kita pulang." Ajak Radit.
Mereka akan melaksanakan sholat asar di rumah saja. Setelah membereskan semua pekerjaannya Radit segera membawa pulang anak dan istrinya.
Tak terasa malam hari sudah tiba.
Di ruang keluarga semua orang sedang berkumpul, jarang sekali keluarga Amran bisa berkumpul semua seperti ini, karena biasanya semua sibuk pada kegiatan masing-masing. Melihat keluarganya sedang berkumpul seperti ini Radit berniat untuk membahas tentang Febry dan Elsa.
Radit belum memberitahu semua orang rumah, jika hari ini adalah persidangan untuk memutuskan hukuman yang akan di dapat oleh Febry dan Elsa.
"Ma, pa, Radit ingin memberitahu kalian, jika besok hari persidangan Febry dan Elsa, niatnya besok aku akan mengajak Jihan untuk menghadiri acara sidang ini."
"Datanglah Radit dan tunjukan pada kedua orang itu, jika kamu bukan orang yang mudah ditindas." Ucap opa Arman memberi dukungan.
"Benar Radit, mama setuju dengan papamu, buktikan juga pada Elsa itu, jika kamu mendapatkan perempuan lebih baik segala-galanya dari pada Elsa, tunjukan jika hanya Jihan yang pantas bersanding denganmu."
"Itu sudah pasti akan aku lakukan Ma." Jawab Radit mantap.
Perkataan mertua dan suaminya sontak membuat Jihan merasa malu, tapi dia merasa senang, mertua dan suaminya begitu menyayangi dirinya.
"Kalian pergilah beristirahat untuk besok." Ujar oma Rifa.
"Baik ma.' Jawab Radit patuh.
Kala para orang tua sibuk mengobrol Nafisa dan kak Ayu sibuk bermain, walaupun mereka masih berada di tempat yang sama, menurut kedua orang itu, mereka hanya mendengarkan saja tidak untuk ikut berkomentar.
Lagi pula tugas Nafisa sudah selesai, selanjutnya masalah Febry dan Elsa akan Nafisa berikan pada ayahnya, biarlah ayahnya yang berhubungan dengan para polisi.
"Nafisa, ayo tidur sayang." Ajak Jihan, kala suaminya mengajak dirinya untuk masuk ke kamar.
"Baik bunda." Sekarang Nafisa menjadi anak yang sangat patuh sekali.
******
Pagi hari datang, Jihan dan suaminya sudah bersiap untuk pergi ke kantor pengadilan nanti tepat jam 9 WiB, acara sidang untuk Febry dan istrinya akan di mulai.
"Bunda kita antar Nafisa sekolah dulu ya, baru setelah itu kita langsung ke kantor polisi."
"Iya yah, tapi apakah sidangnya nanti akan lama?" tanya Jihan pada suaminya.
"Bunda paham."
Setelah semua urusan pagi di rumah selesai dan keduanya sudah mengantara Nafisa ke sekolah, Radit dan Jihan segera menuju kantor polisi.
Sampai di kantor polisi sidang baru saja akan dimulai. Para hakim sudah siap dengan keputusan, kasusa yang dialami Febry dan Elsa ini sama saja keduanya seperti melakukan pencurian, bukan hanya itu saja Febry terjebak kasus korupsi dan juga sudah menyuruh istrinya untuk berselingkuh.
"Sidang hari ini akan segera dimuali, korban juga sudah datang, semua bukti-bukti sudah begitu lengkap." Ucap hakim.
Para pihak sudah ikut seta dalam kasus ini, Hakim, jaksa, jurusita, wakli ketua pengadilan sudah lengkap semuanya.
"Sesuai laporan yang dibiarkan jika saudara Febry dan saudari Elsa sudah telibat dalam kasus pencurian berencana, maka hukam ini akan dijatuhkan hukuma sesuai Pasal 362 Kitab Undang-undang Hukum Pidana."
"Yaitu bahwa siapapun yang melakukan tindak pidana pencurian, diancam dengan pidana penjara maksimal lima tahun atau denda sebanyak-banyaknya enam puluh juta rupiah."
"Tapi tidak sampai distu saja saudara Febry sudah melakukan tindakan korupsi, maka ada dijatuhkan hukuman Pada Pasal 603 misalnya, pelaku tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat dua tahun dan paling lama 20 tahun."
"Lalu untuk sudari Elsa juga sudah melakukan perselingkuhan berencana, yang sudah direncakan oleh saudari Elsa dan suaminya sendiri maka akan dijatuhkan hukuman sesuai pada pasal Laporan pasal 284 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana selama 9 bulan.26. Hukuman ini dijatuhkan untuk sudara Febry dan saudari Elsa."
"Dan terakhir kalian juga terbukti sudah melakukan penipuan, terhadap sudara Radit, maka akan dijatuhkan hukuman sesuai dengan Dalam pasal 378 KUHP, penipuan diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun."
"Dengan ini hakim memutuskan bahwa saudara Febry terancam pidana selama 25 tahun dan saudari Elsa terancam pidana 10 tahun 9 bulan, bagaimana jakas? Apakah keputusan ini sudah dapat disahkan?"
Setelah pertimbangan yang sangat matang akhirnya jaksa memutuskan, keputusan hakim sudah sesuai.
"Sudah diputuskan." jawab Jaksa.
Saat itu juga hakim mengetuk palu, tanda semua keputusan yang sudah dibuat tidak dapat diganggu gugat lagi.
Tok
Tok
Tok!
Ketukan palu hakim sudah berbunyi 3 kali.
Di tempat Radit dan Jihan, "Mas memang tidak keterlaluan hukuman untuk mbak Elsa dan suaminya?"
"Tidak sayang mereka berdua pantas mendapatkan itu semua."
Setelah beres Radit langsung mengajak istrinya pulang, tapi baru mereka bangkit Elsa tak sengaja melihat kehadiran Radit dan Jihan disana.
Elsa segera menghampiri Radit, tentu saja Elsa masih dalam pengawasan polisi, "Radit!" panggil Elsa.
"Radit tolong lepaskan aku, bukankah kita akan menikah?" ucap Elsa tak tau malu.
"Menikah? hahahha!" tawa Radit seperti seorang iblis.
"Urus saja suamimu itu, lagi pula aku tidak akan pernah menikah dengan orang yang sudah bersuami dan aku juga sudah menikah." Ucap Radit sambil memegang tangan istrinya mesra.
"Jangan menuduk sayang, tujukan pada perempuan aneh di depan kita ini, kalau kamu nyonya Radit Amran!" bisik Radit.
Jihan hanya mampu mengangguk patuh dan mengangkat kepalanya.