
Bismillah.
"Mas ayo kita ketemu Jihan sekarang saja, mumpung masih belum terlalu siang." Ajak Puspa akhirnya.
"Yasudah, kamu siap-siap dulu dek." Suruh Hilam pada sang istri.
"Baik mas, mas juga siap-siap."
Hilma mengangguk sambil tersenyum pada istrinya, Puspa sudah melangkah pergi, membiarkan suaminya menunggu, dia akan bersih-bersih lebih dulu. Puspa sudah bersiap akan menuju kamar mandi yang ada di rumahnya, dia segera masuk kamar mandi.
Sayangnya Puspa tidak memperhatikan apakah kamar mandinya licin atau tidak, dia masuk begitu saja. Saat kakinya sudah berada di kamar mandi. Puspa baru merasakan, jika kamar mandi mereka sangat licin.
"Astagfirullah." Ucap Puspa.
Brak!
Bersamaan dengan itu Puspa terpeleset dan terbanting di kamar mandi, suara bantingan yang begitu keras membuat, Hilam langsung mengecek apa yang terjadi.
"Puspa!" panggil Hilam, tapi tidak ada jawaban dari Puspa.
Hal itu tentu saja membuat Hilam semakin khawatir, Hilam membuka pintu kamar mandi. "Astagfirullah dek!" teriak Hilam panik.
Hilam langsung mengangkat tubuh istrinya, pikirnya kacau dia tidak tahu harus bagaimana, Hilam berlari keluar rumah sambil menggendong istrinya, hanya satu yang ada di dalam pikiran Hilam saat ini, dia harus segera membawa istrinya ke klink.
Bahkan Hilam sampai berlari, tidak peduli apa yang dia lakukan, yang terpenting Hilam segera sampai di rumah sakit. Agar bisa menyelamatkan istri dan calon anaknya.
"Mas coba lihat itu Puspa kenapa?" Jihan tak sengaja melihat Puspa yang dibawa dalam gendongan Hilam.
Jihan juga tidak sengaja melihat darah segar mengalir di kaki Puspa. "Mas itu darah!" teriak Jihan panik.
Saking paniknya Jihan, dia sampai menarik suaminya agar berhadapan dengan Hilam, "Ada apa?" tanya Jihan.
Hilam langsung memberhentikan langkahnya kala melihat Jihan dan suami berada di hadapannya.
"Puspa jatuh di kamar mandi, aku harus membawanya ke klink." Ucap Hilam, sambil menahan sesak melihat istrinya seperti ini.
"Mas lakukan sesuatu, itu air sama darah di kaki Puspa." Ucap Jihan pada Radit.
Radit langsung menelepon Ayu untuk membawa mobil ke rumah Puspa dan Hilam, walaupun ogah Ayu tetap menuruti perintah Radit. Jihan dan Radit memang belum pulang dari jalan-jalan. Tidak butuh waktu lama akhirnya Ayu sampai juga.
"Kenapa sih mas! Nyuruh Ayu kesini males tau." Kesal Ayu.
Ayu belum menyadari jika saat ini Puspa tengah pingsan. "Sudah ayo bawa ke dalam mobil." Ajak Radit.
"Astagfirullah." Kaget Ayu kala sadar.
"Dek kamu mau ikut apa mau minta jempuat Rafli pulang?"
"Ikut!" Ayu segera masuk ke dalam mobil. Hilam tak henti-heti memanjatkan doa untuk keselamatan istri dan anaknya.
Akhirnya mereka sampai di klinik yang ada di desa Marga, tempatnya memang sedikit jauh dari rumah Hilam. Sampai disana Puspa langsung ditangani oleh dokter. Hilam juga sudah menghubungi keluarnya dan keluarga Puspa.
Tak butuh waktu lama kedua orang tua Hilam dan Puspa sudah berada di klinik juga, "Bagimana keadaan Puspa, Hilam?" tanya ibu Puspa.
"Masih ditangani dokter ibu." Jawab Hilam lemas.
Lalu orang tua itu tak sengaja melihat Jihan dan Radit, juga Ayu berada diantara mereka. "Kalian yang sudah menolong Puspa, membawa dia ke klinik?" tanya ibu Ria, ibu dari Puspa.
"Iya bude." Jawab Jihan.
"Terima kasih Jihan." Tanpa aba-aba Ria memeluk Jihan, dia juga merasa bersalah pada Jihan, karena dulu sudah membiarkan Puspa dan Hilam mengkhianati Jihan.
Jelas ibu Ria tau tentang hal itu, karena Puspa dan Hilam dulu sering menjelek-jelekan Jihan di depan dirinya. Melihat hal itu beliau dulu malah diam saja tak menghiraukan. Siapa sangka Allah berkehendak lain, saat Jihan sudah disakiti oleh dua orang yang dulu berharga di dalam hidup Jihan. Bukanya menaru dendam, tapi Jihan malah yang menolong mereka saat tertimpa musibah. Ibu Ria begitu malu mengingat hal itu, Hilam bahkan tak berani berusara di hadapan Jihan dan suaminya, saking malunya dia.
Setelah itu seorang dokter muncul dari balik pintu, "Suami pasien?"
"Saya dok." Hilam segera mendekati dokter itu.
"Selamat bayi anda perempuan."
Deg!
"Alhamdulillah." Ucap Hilam, semua yang berada disitu mengucap syukur termasuk Jihan, Radit dan Ayu.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Hilam setelahnya.
Dokter itu terdiam seperti sangat ragu akan mengatakan hal ini pada Hilam dan yang lainnya. "Maaf."
Deg!
Kata maaf yang keluar dari mulut dokter itu membuat jantung semua orang berdebar takut, termasuk Ayu. Dia merasa berdosa pada Puspa.
"Maaf untuk apa dok?" tidak ada emosi dalam nada pertanyaan Hilam.
Dia sudah pasrah akan semua takdir yang menimpa dirinya, mungkin semua takdir ini untuk menebus kesalahnya dimasa lalu.
"Maaf tapi Allah lebih menyayangi istri anda!"
Deg!
Lulus sudah air mata semua orang termasuk Jihan, rasa bersalam menyusuk ke dalam hati gadis lembut itu, Jihan menyesal tidak bertegur sapa pada Puspa sebelum Puspa pergi untuk selama-lamanya. Bahu Jihan bergetar hebat, Radit yang tidak bisa melihat istrinya menangis langsung membawa Jihan ke dalam pelukannya.
"Aku berdosa mas, sudah marah pada suadaraku sendiri, bahkan melebih dari 3 hari, aku memang tidak membenci Puspa, tapi aku menghindarinya karena aku masih tidak bisa menerima kenyataan orang yang sedari kecil sudah bersamaku tidak aku kenal dengan baik, aku salah mas....hiks...hiks...hiks..."
Ayu menatap kakak iparnya iba tak menyangka dia bisa memiliki kakak ipa yang begitu lembut hatinya, hati yang dimiliki begitu tulus. Tapi mereka tidak menyapa Hilam dan Puspa sama sekali.
'Mas Radit memang beruntung dapetin mbak Jihan.' Batin Ayu.
Semua orang terenyuh mendengar perkataan Jihan, rasa bersalah di dalam diri Hilam semakin besar apalagi kini istrinya sudah tiada.
"Saya ingin melihat istri saya dok." Dokter hanya mampu mengangguk lemah.
Deg!
Sampai di dalam sana Hilam bisa melihat jelas tubuh seorang yang hampir 1 tahun bersamanya mengisi waktu mereka bersama, walau tak seindah rumah tangga orang lain.
Dia dan istrinya baru menata semua dari awal. namun semua itu hanya rencana, Allah lah pemilik takdir sesungguhnya. Tubuh itu terbujur kaku di atas brankar klinik yang ada di desa Marga.
Dengan langkah linglung Hilam mendekati istrinya. "Kenapa dek?"
Suara Hilam hanya sampai di tenggorokan saja, dia tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun lagi. Semuanya seakan tenggelam begitu saja.
"Mas janji akan menjaga anak kita sampai dia tumbuh menjadi gadis yang solelah, mas tidak akan memberikan dia sendirian." Ucap
Hilam sungguh-sungguh.
"Mas akan memberi nama putri kita seperti namamu."
Tes!
Air mata itu kembali menetes.
Sedangkan ibu Ria sudah pingsan sedari tadi mengetahui putrinya tiada, walaupun ibu Ria memiliki 6 anak, tapi beliau juga tetap menyayangi Puspa dengan tulus. Kasih sayang ibu Ria pada putra dan putrinya tidak pernah pilih-pilih semua sama, hanya saja semua anak-anak ibu Ria sudah berumah tangga semua.