
Bismillabirohmanirohim.
Rafli sudah kembali ke rumah bersama kedua orang tuannya Ibu Kasih dan bapak Joni.
"Raf bilang sama tamunya ibu sama bapak bersih-bersih dulu, kotor semua abis dari sawah." Suruh ibu Kasih pada putra bungsunya.
"Baik bu." Jawab Rafli patuh.
Ibu Kasih dan bapak Joni masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang, sebenarnya mereka merasa tidak enak pada tamu sudah menunggu lama. Tapi tidak memungkinkan menemui tamu dalam keadaan kotor penuh dengan lumpur dari sawah.
Rafli kembali menghampiri tamu di rumahnya lagi.
"Assalamualaikum." Salam Rafli sambil dia masuk ke dalam rumah.
"Wa'aliakumsalam." Jawab semua orang kecuali Manda tentunya.
Manda hanya tersenyum untuk menanggapi salam yang baru saja Rafli ucapkan.
"Loh, mana ibu sama bapak Raf?" tanya Manda.
Dia tidak melihat kehadiran ibu Kasih dan bapak Joni.
"Di belakang mbak lagi bersih-bersih badan kotor semua habis dari sawah."
Manda mengangguk paham.
Tak butuh waktu lama ibu Kasih dan pak Joni langsung menemui tamu mereka.
"Maaf bu sudah membuat menunggu terlalu lama, saya tidak tahu kalau ada tamu." Sesal ibu Kasih tidak enak hati.
Nenek Rifa tersenyum melihat besannya, salah maksudnya calon besan dirinya.
"Tak apa bu saya mengerti." Jawab nenek Rifa ramah pula.
Tak lupa Manda pula menyapa kedua orang tua Jihan.
"Loh Ma, Jihan nya mana? Kok kamu pulang sendiri?" heran ibu Kasih.
Manda tersenyum kikuk. "Nanti nenek Rifa yang bakal menjelaskan ibu."
Barulah ibu Kasih mengangguk paham, beliau merasa heran juga kenapa nenek Rifa membawa barang begitu banyak ke rumahnya. Mana barang-barang itu seperti barang untuk orang lamaran saja, ya benar lamaran. Tapi siapa yang mau lamaran? Pikir ibu Kasih merasa heran.
Mereka semua mengobrol sejenak, Rafli turut ikut mengobrol, dia belum tau apa tujuan tamu dari kota datang ke rumah mereka.
Nenek Rifa memang belum mengutarakan niat mereka datang ke rumah Jihan, yang pertama sudah tentu untuk bersilaturahmi tentunya. Tak lama mereka mengobrol Manda akhirnya pamit untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya lebih dulu.
"Nenek Rifa, ibu Kasih dan semua Manda mau izin untuk pulang dulu ya." Ucap Manda.
Pikirnya mumpung sudah berada di desan lebih baik pulang dulu sebentar.
"Cahyo antar lah Manda ke rumahnya." Suruh kakek Arman.
"Baik kek." Jawab Cahyo patuh.
"Tidak perlu kek, rumah Manda dekat dari sini tidak terlalu jauh." Cegah Manda, dia bicara bersama saat Cahyo mengatakan baik.
"Tidak papa Manda biar diantar saja." Sahut nenek Rifa.
"Tidak perlu nek, lagi pula rumah Manda dekat." Tolak Manda lagi.
"Sudah begini saja Manda, biar Rafli yang anter, kalau tidak nak Cahyo yang antar tapi pake motor Rafli." Usul pak Joni.
Akhirnya Manda tak dapat memilih selain diantar Cahyo menggunakan motor milik Rafli.
Sementara Rafli tetap berada di rumah, mendengarkan apa yang akan disampaikan nenek Rifa dan kakek Amran.
Mulailah kakek Amran mengutarakan maksud kedatangan mereka jauh-jauh dari kota sampai datang ke rumah Jihan. Ibu Kasih baru tau kalau yang saat ini duduk di depannya adalah majikan dari anaknya yang bekerja di kota.
Yang lebih mengagetkan lagi, ternyata kedatangan nenek Rifa dan kakek Amran untuk melamar putri mereka Jihan, agar mejadi istri dari anak pertama mereka yang bernama Radit. Seperti tertimpa durian runtuh keluarga Jihan.
Jihan yang tidak berjodoh dengan Hilam, nyatanya Allah memberikan jodoh yang lebih baik. Bahkan kedua orang tua Jihan tidak masalah sama sekali jika Radit sudah memiliki seorang putri, lagipula mantan istri Radit sudah lama tiada.
Ditambah lagi saat melihat foto calon menantunya begitu tampan dan gadia kecil yang sangat cantik, jelas terlihat begitu cerdik. Membuat ibu Kasih sangat bersyukur mendapatkan menantu seperti Radit, ralat maksudnya calon menantu idaman.
Tapi besok Radit dan Jihan sudah anak menikah. Tau orang yang bertamu saat ini adalah orang tua dari calon suami mbaknya Rafil langsung mengirim pesan pada Jihah.
'Mbak ada tamu ke rumah, katanya mereka nenek Rifa dan kakek Arman calon mertua mbak Jihan, mereka kesini katanya mau melamar mbak Jihan untuk anak pertama dari nenek Rifa dan kakek Amran, apa benar begitu mbak?' tulis Rafli dalam pesanan.
Pesan yang Rafli tulis gamblang sekali sayangnya, hp Jihan sedang berada di tangan Radit.
Malam tadi Radit pura-pura meminjam hp Jihan, tapi sampai sekarang belum juga di kembalikan oleh Radit.
Deg!
Radit langsung membuka pesan yang di kirimkan oleh calon adik iparnya.
"Jadi mama dan papa berniat melakukan lamaran juga? kenapa tidak bilang sama aku." Ucap Radit kala membaca pesan dari Rafli.
Dia bahagia sekali setidaknya kedua orang tuanya menyambut baik Jihan untuk menjadi menantu mereka, sedangkan disaat dia akan menikah dengan Elsa orang tuanya lepas tangan begitu saja.
"Jadi tidak sabar menunggu besok." Ucap Radit senyum-senyum sendiri.
Tangannya bahkan bergerak untuk membalas pesan dari adik iparnya itu.
'Benar, doakan saja pernikahan mbak Jihan lancar, calon suami mbak akan menjemput kalian semua, atau ikut bersama calon mertua mbak saja.' Balas Radit dengan pedenya.
Rafli di rumahnya melotot tak percaya saat mendapatkan balasan pesan dari mbaknya itu, Rafli kira Jihan yang membalas semua pesannya.
Masi di ruang tamu keluarga Jihan.
"Ibu Kasih pak Joni, kami kesini bukan hanya untuk melamar Jihan saja, tapi juga sekalian mau membawa ibu dan bapak juga Rafli ke kota, besok acara pernikahan Jihan dan Radit dilaksanakan." Terang nenek Rifa.
"Hah! Apa tidak terburu-buru?" ragu pak Joni.
"Maaf pak anak saya sudah menyiapkan semuanya." Sahut kakek Amran.
"Tapi tidak terjadi apa-apa kan dengan Jihan?"
Bapak Joni takut saja kalau anaknya sampai hamil di laur nikah (Naudzubillah!), apalagi pernikahan ini sangat terburu-buru bagi mereka.
"Jihan aman pak, kalau saja anak saya berani macam-macam pada Jihan saya sendiri yang akan turun tangan menghukum anak itu." Tegas kakek Arman sungguh-sungguh.
Melihat kesungguhan dari kakek Arman membuat ibu Kasih dan bapak Joni yakin jika calon besannya orang baik.
"Kalau itu yang terbaik untuk keduanya saya ikut saja." Ujar pak Joni akhirnya anak dan istrinya menyetujui keputusan kepala keluarga mereka.
"Syukurlah, Allhamadulilah." Lega nenek Rifa.
Di teras ternyata ada beberapa orang yang kepo tentang pembicaraan orang kota dan kedua orang tua Jihan. Jadilah dari mulut ke mulut orang-orang di desa itu tau kalau besok Jihan akan menikah dengan orang kaya.
"Beruntung si Jihan, nggak dapat Hilam, dapat orang kaya mapan." Komentar para warga.