
Bismillah.
Sejak ke pulangan Puspa dan Hilam dari rumah orang tua Jihan dengan cara tidak berpamitan, sepasang suami, istri itu masih bertah saling mendiamkan satu sama lain. Puspa mengira jika Hilam mengabaikan dirinya sejak mereka menemui Jihan. Padahal tanpa Puspa sadari, dia sendiri yang setiap hari memasang bendera perang pada suaminya.
Hilam baru saja akan berangkat kerja, dia berjalan menuju meja makan untuk mengisi perutnya. Dia harus sarapan pagi sebelum berangkat kerja, tapi baru Hilam membuka tudung nasi disana tidak ada apa-apa. Huh! Hilam menghela nafas berat, dia segera mencari keberadaan istrinya di rumah mereka.
"Hahahahaha!" ternyata Puspa sedang asyik menonton tv.
Dia tertawa sendiri melihat tv entah apa yang Puspa tonton, sepertinya begitu seru. "Hahahaha!" tawa Puspa lagi.
Puspa belum menyadari kedatangan suaminya, "Kamu tidak masak?" tanya Hilam sedikit kesal.
Tawa Puspa langsung terheti mendengar pertanyaan suaminya. "Nggak!" jawab Puspa ketus.
"Pusap! jaga sopan santun kamu ya! Saya suami kamu!" bentak Hilam.
Pasalnya Puspa sama sekali tidak melihat kearahnya, sudah tau mau berangkat kerja lapar harus sarapan pagi, tapi malah istri tidak masak, giliran ditanya seperti mau mengibarkan bendera pernang saja. Suami mana yang tidak kesel coba. Mendengar makian Hilam, Puspa menoleh ke belakang dirinya, dimana suaminya berada.
Jadilah kedua orang itu bersitatap dengan sangat tajam. "Apa!" tantang Puspa.
"Masak sendirikan bisa, nggak usah manja deh." Kesal Puspa.
Perut ibu-ibu itu sudah besar, Puspa sebentar lagi akan melahirkan, karena ini sudah masuk bulan lahir anaknya. Malah sekarang mengajak bertengkar dengan suaminya.
"Kamu! Kamu tau sendiri Pusap! Saya pagi kerja, apa susahnya masak buat suamimu!" sentak Hilam.
Tidak peduli sama sekali Hilam walaupun istrinya itu Hamil besar, pasalnya sudah 2 hari ini Puspa sangat keterlaluan. Walaupun memang rumah tangga mereka sering cek-cok, tapi tidak separah 2 hari ini. Puspa yang sudah tidak peduli, melengos pergi begitu saja tanpa mempedulikan suaminya.
Bahkan Puspa menabrak lengan suaminya dengan kasar, Hilam terduduk lemas sambil menjambak rambutnya kasar.
"Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah." Hilam terus saja beristighfar.
Dia sadar sudah keterlaluan pada istrinya, akhirnya Hilam memutuskan untuk berangkat kerja tanpa sarapan lebih dulu.
Lebih tepatnya dia sudah sarapan emosi dengan istrinya tadi, walaupun masih begitu marah Hilam harus tetap berangkat kerja.
Hilam sudah linglung sendiri, dia sudah tidak peduli lagi. Rasa marah pada istrinya di dalam hati masih begitu besar.
"Ya Allah." Ucap Hilam.
Di kamar Puspa, menyalakan Jihan sejadi-jadinya, akibat pertengkaran dirinya dan sang suami. Puspa memegang erat foto Jihan, sambil menatap foto itu tajam. "Semua ini gara-gara kamu Jihaaan! Aku benci kamu. Gara-gara kamu rumah tanggaku jadi begini!" maki Puspa.
Padahal Jihan tidak sedikitpun mengusik rumah tangga Puspa dan Hilam, sebelum Jihan menikah dan sesudah Jihan menikah dia tidak pernah mengganggu siapapun, bukan lebih baik Jihan mengurusi anak dan suaminya..
"Awas kau Jihan! Lihat saja akan ku balas semua ini!"
Di rumah orang tua Jihan, semua orang sedang sibuk untuk mengadakan acara resepsi besok di rumah itu. Ibu Kasih dan pak Joni sangat sibuk, sementara Jihan, Nafisa dan Radit tak lupa Rafli juga berada di sawah.
Pagi-pagi sekali Nafisa sudah mengajak kedua orang tuanya main ke sawah.
"Ayah, ayo tangkap kodoknya." Suruh Nafisa heboh sekali..
Radit hanya bisa menelan ludahnya kasar mendengar ucapan anaknya, apa dia tidak salah dengar, Nafisa menyuruhnya menangkap kodok yang benar saja. Jihan hanya mampu menatap iba suaminya, tanpa bisa berbuat apa-apa. Jihan masih menatap suami dan anaknya secara bergantian, sedangkan Rafli sudah nyemplung ke dalam sawah untuk menangkap ikan.
"Ish! Ayah lama." Kesal Nafisa.
Kakinya sudah mulai masuk ke dalam sawah. Jihan yang melihat hal itu merasa curiga, takut terjadi sesutau pada Nafisa, takut Nafisa jebur ke sawah, Jihan segera menghampiri anak dan suaminya.
Bruk!
"Hahaahahah." Tawa Nafisa pecah.
Dia sangat senang sekali, "Hahahhahaha." tawa Nafisa lagi.
Mereka berdua sudah dipenuhi lumpur sawah, Radit hanya mampu menatap anaknya datar. Muka keduanya sudah tidak terbentuk lagi, semuanya penuh dengan lumpur sawah.
"Hahahahaa." Rafli ikut teratwa kala melihat keponakan dan mas iparnya penuh dengan lumpur.
"Kenapa bisa itu muka jadi pake bedak lumpur mas."
Radit tak bergeming, dia hanya bisa menatap datar anaknya saja yang masih berada di atas perut Radit sambil tertawa terbahak-bahak
"Nafisa ayo naik sayang, mas naik" Pinta Jihan.
Jihan khawatir anak dan suaminya gatal-gatal, karena baru pertama kali ke sawah, apalagi sampai kena lumpur sawah seperti ini.
"Sudah ayo pulang mandi." Ajak Jihan.
Jihan hanya mampu menghela nafas panjang, sambil geleng-geleng kepala melihat ulah anak dan suaminya.
Mereka berempat memutuskan untuk pulang dengan keadaan sangat kotor, kecuali Jihan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kota J.
Lebih tepatnya di kediaman Amran.
Oma Rifa sedang sibuk wara-wiri sana sini, hari ini mereka akan langsung berangkat ke rumah besannya. Mumpung Ayu juga sudah libur sekolah, sebenarnya mereka semua sudah siap dari tadi. Seharusnya mereka sudah berangkat dari tadi, hanya saja oma Rifa terus mengatakan ada yang belum dibawa. Ada yang ketinggalan.
Sampai 1 jam berlalu dan hari semakin siang mereka belum juga berangkat, Ayu sampai kembali mengantuk menunggu mamanya yang tidak selesai-selesai. Oma Rifa masih terus kesana kemari, sampai opa Amran merasa sedikit kesal.
Dia terusik oleh istrinya. "Ma sudah belum sih?" gerut Ayu.
"Ayu sudah ngantuk lagi ini, atau kita tidak jadi pergi." Ucap Ayu disela-sela kesadaran dirinya.
Sebelum mata Ayu yang sudah sangat lengket itu kembali terpejam lagi.
"Ma, ayo, jadi tidak sih! Papa udah ngantuk aja lagi ini." Sambung opa Amran..
"Sudah, ayo kita berangkat." Ajak oma Rifa.
Oma Rifa menatap suami dan putrinya secara bergantian, beliau jadi merasa bersalah pada kedua orang itu.
Akhirnya tempat jam 10 pagi barulah mereka berangkat menuju desa Jihan, padahal mereka sudah siap dari jam 7 pagi. Herannya jam 10 mereka baru bisa otw.
"Mama bawa apa saja memang untuk keluarga Jihan?"
"Banyak pa, untuk kebutuhan resepsi, di sana nanti."
Mobil yang dikendarai opa Amran sudah melaju membelah jalan raya yang begitu ramai. Kak Ayu sudah kembali tidur di dalam mobil, dia tidak peduli apapun lagi.
"Ayu tidur lagi mas?" tanya oma Rifa sambil menoleh ke kursi belakang.
"Bagaimana tidak tidur lagi mama, mama lama sekali." Protes opa Amran.
"Hehehe, maaf." Sesal oma Rifa.