Babysitting genius

Babysitting genius
#Tamu dari kota



Bismillahirohmanirohim.


Waktu perjalan sekitar 5 jam lebih akhirnya berlalu, nenek Rifa dan yang lainnya sudah sampai di desa Jihan dan Manda. Mobil miliki Ceo Amran mining itu baru saja memasuki kawasan pedesaan rumah Jihan ada di paling pojok.


Itu informasi yang didapat nenek Rifa dari Manda, sepanjang perjalan saat mereka mengobrol tadi. Nenek Rifa juga baru tau kalau kedua orang tua Jihan merupakan buruh tani, tapi nenek Rifa benar-benar salut pada calon menantunya itu, yang sekarang masih berada di kediaman keluarga Amran.


Apakah nenek Rifa akan malu memiliki besan dari kalangan bawah? Tentu tidak, justru dia senang nanti pasti akan banyak pelajaran hidup yang di dapat oleh nenek Rifa dari besanya itu. Maksudnya calon besanya ya itu pokoknya.


"Nenek itu rumah Jihan, cat tembok warna hijau." Ucap Manda memberitahu.


Mereka sudah sampai di dekat rumah Jihan akhirnya, banyak warga yang kepo melihat ada mobil bagus datang ke desa mereka.


"Ayo kita turun dulu." Ajak nenek Rifa pada semuanya.


Mobil kakek Amran benar-benar berhenti di depan rumah Jihan, untung saja halaman rumah itu luas sekali. Jadi muat untuk sebuah mobil.


"Cahyo bantu-bantu turukan barangnya ya."


"Baik Pa." Jawab Cahyo patuh.


Para warga desa bertanya-tanya mobil siapa yang parkir di depan rumah Jihan, para warga tau kalau Jihan tidak memiliki saudara yang kaya. Tidak tau saja mereka sebentar lagi Jihan akan menjadi istri dari pengusaha.


Pertanyaan yang sedari tadi bersarang di kepala orang-orang semakin tidak terjawab kala melihat Manda anak tetangga kampung sebelah keluar dari mobil tersebut, bersama seorang wanita paruh baya yang masih terlihat ayu. Kedua orang tua Jihan tidak tahu jika ada tamu besar di rumah mereka, kedua orang tua Jihan masih sibuk bertani di sawah mereka.


Rafli yang baru saja keluar rumah terpenjak kaget saat melihat orang yang tidak dia kenal menurunkan banyak barang di depan rumahnya.


"Astagfirullah, ada apa ini." Kaget Rafli.


Buru-buru Rafli menghampiri 4 orang yang masih berada di dekat mobil mewah itu.


Para warga sudah hebo satu sama lain, saling bertanya orang kota dari mana yang datang ke rumah Jihan.


"Bukan itu mbak Manda?" tanya Rafli pada diri sendiri.


Rafli semakin mendekat ke arah mereka semua, benar yang dia lihat itu adalah Manda, orang yang membawa Jihan pergi ke kota.


"Mbak Manda." Panggil Rafli.


Manda refleks menoleh saat mendengar namanya dipanggil, bukan hanya Manda ternyata yang menoleh tapi juga nenek Rifa.


"Itu siapa Manda?" tanya nenek Rifa memastikan.


"Dia adik Jihan nek." Sahut Manda.


Manda melambaikan tanganya menyuruh Rafli mendekat.


Tidak perlu disuruh 2 kali Rafli langsung menghampiri Manda.


"Mbak Manda siapa?" tanya Rafli.


Walaupun Rafli tidak tahu jika nenek Rifa itu siapa, tapi dia tetap menyalami nenek Rifa dan kakek Amran.


"Assalamualaikum kamu adik Jihan?" tanya nenek Rifa ramah.


"Benar Ibu."


"Apakah kalian akan bertemu ke rumah?" tanya Rafli sopan.


"Benar." Jawab nenek Rifa sangat antusias sekali, sampai-sampai membuat kakek Amran menggelengkan kepalanya.


"Ayo semua masuk dulu." Ajak Rafli, "Ayo mbak Manda masuk." Ajak Rafli juga.


Mereka semua masuk ke dalam rumah orang tua Jihan, sementara para warga masih kepo dengan kedatangan orang kota itu.


"Aku buatan minum dulu sebentar." Ucap Rafli sopan.


Sebenarnya Rafli ingin bertanya pada Amanda, kenapa mbak Jihan tidak ikut, tapi dia urungkan karena belum ada waktu yang tepat untuk bertanya pada mbak Amanda. Tak butuh waktu lama Rafli kembali dengan air teh hangat yang dia buat, juga beberapa cemilan yang ada di rumahnya.


"Maaf hanya ada ini di rumah." Ucap Rafli merasa tidak enak.


"Bapak sama ibu di mana Raf?" tanya Manda.


"Ada di sawah mbak, aku juga baru mau nyusul ibu sama bapak ke sawah, tapi liat ada tamu nggak jadi deh." Sahut Rafli menjelaskan.


"Apakah sawahnya jauh dari sini?" tanya kakek Arman ikut bersuara.


Sementara Cahyo masih membereskan semua barang-barang yang mereka bawa.


"Tidak juga, bapak dan ibu ini mau bertemu dengan bapak dan ibu saya?"


"Benar." Sahut nenek Rifa cepat.


"Baik biar Rafli panggilakan dulu di sawah ya." Ucap Rafli sopan.


"Tunggu." Cegah kakek Arman sebelum Rafli beranjak pergi.


"Ya ada apa bapak?"


"Apa tidak merepotkan?"


"Tidak Pak, kalau nunggu ibu sama bapak pulang kelamaan, soalnya mereka bakal pulang sore, jadi lebih baik di panggil saja." ternag Rafli.


"Baiklan nak maaf merepotkan, siapa namamu?"


"Rafli pak, kalau begitu Rafli ke sawah dulu sebentar." Pamitnya yang mendapat persetujuan dari semua orang.


"Panggil saya dan istri saya kakak, nenek saja." Suruh kakek Amran pada Rafli, karena merasa canggung dipanggil bapak, ibu.


"Baik." Sahut Rafli patuh setelah itu dia kembali berpamitan.


"Mbak Manda titip rumah dulu ya."


"Sip Raf tenang aja."


Setelah itu Rafli benar-benar pergi menyusul orang tuannya ke sawah, saat Rafli keluar banyak warga yang muali menyanykan pada Rafli siapa yang datang dan ada apa orang kota itu bisa datang ke rumah. Tapi jawaban yang keluar dari mulut Rafli tidak membuat para warga puas, karena Rafli selalu menjawab tidak tau.


Akhirnya setelah 10 menit berlalu Rafli sampai di sawah. Ibu dan bapaknya masih berada ditengah-tengah sawah.


"Ibu, bapak......!" panggil Rafli berteriak, jaraknya dengan kedua orang tuanya sedikit jauh.


Di tengah sawah.


"Bu itu si Rafli manggil coba samperin dulu gih." Suruh bapak Jihan.


"Iya pak." Patuh sang istri.


Ibu dari Jihan dan Rafli segera menghampiri anak laki-laki bungsunya itu. Tak butuh waktu lama ibu sudah ada di depan Rafli.


"Ada apa, Raf?"


"Itu bu di rumah ada tamu dari kota." Ujar Rafli.


Kasih mengerutkan dahinya, tamu dari kota? Siapa? Begitu pikirnya karena mereka tidak kenal orang dari kota.


"Siapa memangnya apa mbakmu pulang?" tanya ibu Kasih.


"Tidak bu, tapi tamunya datang bersama mbak Manda, itu loh bu teman mbak Jihan yang bawa mbak Jihan ke kota."


"Iya ibu tau, yasudah ibu panggil bapakmu dulu."


"Oke bu, jangan lama kasihan tamunya ya bu."


"Iya, iya Raf."


Ibu Kasih kembali ke tengah sawah untuk memanggil suaminya, setelah mengatakan jika di rumah ada tamu mereka semua segera kembali pulang. tamu lebih penting, sedangkan perkerjan di sawah masih bisa dilanjut nanti. Rafli pulang dari sawah bersama kedua orang tuanya.