
Bismillahirohmanirohim.
"Hahahaha....hahahaha....hahaha..."
Tawa Nafisa pecah di dalam mobil, Nafisa tak bisa menahan tawanya lagi, kala mendengar perkataan mbak Jihannya. Nafisa sampai memengai perutnya sendiri. Padahal sedari tadi dia sudah berusaha untuk tak bersuara, tapi salah paham mbak Jihan membuatnya tertawa lepas.
Radit sampai memijat keningnya sendiri saat Jihan begitu lancar mengucapkan kata-kata jika dia akan dipecat. Lagipula siapa yang mau memecat Jihan? Justru Nafisa dan Radit mau menjadikan Jihan nyonya di kediaman Amran.
Sedangkan Jihan kira Nafisa tidur, dia jadi bingung dan malu sendiri, tak tau apa yang membuat Nafisa tertawa terbahak-bahak seperti itu. Jihan meliri Radit sekilias, diluar dugaan Jihan. Jihan kira Radit akan marah, nyatanya pria itu tersenyum ke arahnya.
Deg!
'Astagfirullah, cepat-cepat Jihan kembali menuduk, hampir saja dia terpesona oleh senyum tipis yang terbit dibibir Radit.
Tak butuh waktu lama mobil Radit pun sampai di depan sekolah Nafisa, bocah cilik itu masih saja tertawa. Jihan dan Nafisa keluar dari mobil diikuti oleh Radit, sebelum kembali ke dalam mobil, Radit lebih dulu mengelus pucuk kepala Nafisa sayang.
"Belajar yang raji oke."
"Siap ayah."
Jihan tersenyum setidaknya jika Radit dan Nafisa sudah dekat itu artinya Nafisa akan menerima Elsa sebagai bundanya. Pikir Jihan.
'Tunggu, tapi kok sakit.' Batin Jihan, tanpa sadar dia memegangi dadanya sendiri yang mulai sesak.
"Aku berangkat dulu Jihan." Ucap Radit terdengar lembut di kuping Jihan, Jihan mengangguk saja.
"Assalamualaikum." Jawab Jihan dan Nafisa kompak.
Setelah kepergian Radit, Nafisa dan Jihan segera masuk ke dalam sekolah Nafisa. Tanpa aba-aba Nafisa langsung saja menggandeng tangan Jihan, Jihan menoleh kala dia menoleh Nafisa tersenyum manis.
"Mbak Jihan setelah pulang sekolah kita jalan-jalan ya sama ayah."
Jihan mengerutkan dahinya, "Tumben." Komentar Jihan tanpa sadar.
"Cek, apasalahnya kalau Nafisa muai baikan sama ayah?"
"Tidak ada yang salah, hanya saja mbak Jihan merasa aneh."
"Apanya yang aneh."
"Tidak tau." Celetuk Jihan.
Nafisa hanya bisa geleng-geleng kepala.
Radit sudah sampai di kantornya, dan orang pertama yang dia lihat adalah sekretaris papanya.
'Tahan Radit.' Batinya.
Cepat-cepat Radit menuju ruangnya, "Cahyo kamu ikut saya!" ucap Radit dingin.
"Baik pak Radit." Jawabnya cepat.
Sampai di ruangan Radit, Cahyo tiba-tiba panas dingin, Radit menatap tajam Cahyo. Sangat tajam sampai membuat Cahyo merinding.
"Saya mau kamu awasi Febry! Awasi terus gerak-geriknya, ingat jangan pernah izinkan dia masuk ke ruang CEO, tanpa seizin saya, selama papa tidak di kantor!" tegas Radit.
"Baik bos."
"Good, kamu boleh pergi." Usir Radit.
Buru-buru sekali Cahyo pergi dari ruangan Radit, "Huh, selamat." Batinnya.
Takut sekali Cahyo diterkam Radit, wajah bapak satu itu sangat mengerikan sekali hihihi. Radit mulai fokus dengan semua pekerjaannya di kantor. Semua pekerjaan pak Amran kini jadi dia yang mengerjakan.
"Aku harus memberi tau mama, kalau sebenarnya aku tidak akan menikah dengan Elsa, tapi dengan Jihan."
"Bisa-bisa aku tak punya waktu untuk mendekati Jihan, jika pekerjaanku saja sangat banyak, papa memang keterlaluan." Kesal Radit.
Walaupun kesal, Radit tepat melanjutkan pekerjaannya.
"Aneh, kenapa papa tidak menyuruh sekretarisnya itu saja yang mengerjakan semua ini, apa jangan-jangan papa sudah tau niat jahat Febry?" pikir Radit.
"Aku menyesal telah mengenal dia baik, huhuh, musuh dalam selimut taunya dia."
"Asslamualikum ayah." Salam orang dari seberang telepon.
"Waalaikumsalam." jawab radit sambil tersenyum.
Tanpa Radit sadar Cahyo menyaksikan Radit yang tersenyum saat sendang bicara di telepon dengan seseorang yang Cahyo tidak tau siapa.
"Itu benar pak Radit? Pak Radit senyum." Ucap Cahyo pelan.
Dia sampai tak percaya melihat Radit tersenyum, menurut Cahyo melihat pak Radit tersenyum malah lebih menakutkan.
"Astagfirullah." Cepat-cepat Cahyo mengingat Allah.
Radit masih bicara didengan orang yang menelopone dirinya, "Maaf aku akan menjemput kalian sekarang, tunggu 5 menit aku sampai." Ujar Radit.
"Baik Ayah." Sahut Jihan patuh saja.
"Bagimana mbak Jihan? apakah ayah akan menjemput kita?" tanya Nafisa setelah sambungan telepon terputus.
Jihan tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Nafisa, "Ayah bilang ya, tapi kita harus menunggu 5 menit, Nafisa tak apa menunggu sebentar?"
"Tidak apa-apa mbak Jihan."
5 menit berlalu dan Radit sampai, dia benar-benar sampai dalam waktu 5 menit saja.
"Ayo naik." Suruh Radit.
Sebelum masuk ke dalam mobil Nafisa menatap ayahnya, seperti mengisyaratkan sesuatu, Radit yang paham mengangguk.
"Ayah kita jalan-jalan ya."
"Baiklah, ayah akan menuruti kemauan putri ayah."
"Ayah nanti kalau sudah sampai bangunkan Nafisa dan mbak Jihan duduk di depan saja, Nafisa mau tidur selonjoran di kursi belakang.
"Iya." Pasrah Jihan, dia tak bisa mengganggu Nafisa jika anak itu sudah mengantuk, sedari tadi Jihan memang melihat Nafisa beberapa kali menguap.
Radit segera melajukan mobilnya, hening tak ada suara apapun di dalam mobil Radit, Nafisa sudah tidur nyenyak. Radit ingin mulai pembicaraan, tapi dia sendiri gerogi menghadapi Jihan. Begitu juga dengan Jihan.
Jihan tidak mengerti semakin dia berdoa untuk dijauhkan pada Radit, malah Radit semakin dekat pada dirinya.
Hm....
Dehem Radit untuk memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka. Mau mulai bicara, takut Jihan salah arti lagi seperti tadi pagi.
"Jihan ada yang mau saya katakan sama kamu, tapi tolong jangan dipotong dulu ya."
"Baik ayah." Sahut Jihan patuh.
Melihat Jihan patuh begitu saja membuat Radit senyum senang, tapi buru-buru senyum itu hilang digantikan wajahnnya yang datar, Radit tak mau memperlihatkan senyumnya pada Jihan, dia terlalu malu.
"Jihan saya mau minta maaf sama kamu, masalah di rumah sakit waktu Nafisa jatoh saat itu, maaf karena sudah membentak kamu." Sesal Radit.
"Tak apa ayah, aku sudah memaafkannya." Ujar Jihan.
Radit menghela nafas lega mendengar jawaban Jihan, setidaknya Jihan masih mau memaafkan dirinya.
"Syukurlah." Sahut Radi senang.
"Maaf ayah kita mau kemana ya?" tanya Jihan saat melihat tempat yang mereka lewati berbeda dari jalan biasanya.
"Seperti kata Nafisa tadi kita akan jalan-jalan hari ini." Kata Radit antusias..
Radit mapun Nafisa sudah mulai sedikit demi sedikit berusaha mengambil hati Jihan. Mobil Radit berheti tepat ditempat wisata, tepat yang sangat bagus bagi Jihan. Jihan baru pertama kali melihat tempat sebagus itu.
"Ayo turun."
"Aku akan membangunkan Nafisa lebih dulu."
Radit mengangguk setuju.