
Bismillah.
Tiga Bulan sudah berlalu Jihan juga sudah dinyatakan sembuh total oleh pihak rumah sakit. 1 Minggu yang lalu Jihan terakhir periksa untuk kejadian yang menimpanya tiga bulan sebelumnya. Nafisa juga sudah sekolah di tempat yang direkomendasikan oleh kepala sekolah tempat Nafisa sekolah dulu.
Nafisa adalah siswi yang paling kecil umurnya diantara yang lain, hanya saja Nafisa memiliki pawakan yang sedikit tinggi seperti ayahnya, jadi Nafisa tidak terlihat jika dia yang paling kecil dari teman-temannya yang lain.
Di kamar Radit dan Jihan.
Malam sudah tiba menyapa setiap penghuni bumi menyuruh agar penghuni bumi beristirahat besok kembali melakukan aktivtias mereka kembali. Walaupun ada saja yang tengah malam atau malah hari memanfaatkan waktu mereka untuk lebih mendekatkan diri pada sang Ilahi Robbi.
Masih di kamar Radit dan Jihan, sudah hampir satu minggu ini Jihan terus saja bersikap manja pada suaminya, kadang juga mood Jihan yang naik turun tak jelas. Radit membelai pipi istrinya yang saat ini tengah bermanja-manja pada dirinya, sekelian Radit mencubit gemas hidup sang istri..
"Manja banget sih istri siapa ini." Ucap Radit menggoda Jihan.
"Istri mas Radit, siapa lagi memangnya?" balas Jihan sambil tersenyum.
Sesekali Jihan juga yang begitu jahil menciumi seluruh wajah suaminya, " mas Radit kok bisa ganteng banget sih." Ucap Jihan.
Blus!
Tidak tahu kenapa tiba-tiba saja pipi Radit memerah digoda oleh istrinya, padahal Radit sudah biasa jika istrinya sedang menggoda dirinya. Satu Minggu ini pula Jihan tak pernah mau jauh-jauh dari Radit.
"Gantenglah, namanya juga suami Jihan, istrinya yang selalu melayani suaminya dengan baik, padahal sudah mengurus satu anak juga, tapi suaminya tidak pernah dilupakan."
"Mas sangat salut sama kamu sayang." Balas Radit.
Radit mengertakan pelukannya pada sang istri, posisi ternyaman bagi Radit, saat dia memeluk istrinya begitu erat.
"Hiks....hiks...hisk..." Tiba-tiba saja Radit samar-samar mendengar suara tangis istrinya.
"Loh, kok nangis!" panik Radit.
Pasalnya baru saja Jihan terlihat sangat bahagia sekali tidak ada hitungan detik kebahagiaan itu sudah berubah menjadi tangis sang istri.
"Mas Radit jahat! Mas mau buhun Jihan, peluknya kenceng banget! Mas nggak sayang Jihan, hiks....hiks....hisk..."
"Astagfirullh." Radit tentu saja kaget mendengar perkataan istrinya.
"Sayang kamu kenapa sih? tiba-tiba senang abis itu nangis udah seminggu loh kayak gini terus."
Bukannya berhenti tangis Jihan malah semakin menjadi saja tangisnya untung kamar Radit kedap suara.
"Hiks....hiks...hiks...., tukan mas Radit jahat malah bentak Jihan! Mas Radit nggak sayang sama Jihan, iyakan." Tudingnya.
Jihan memejamkan matanya, tidak peduli dengan suaminya yang sudah seperti orang begitu frustrasi. Carian bening masih mengalir disudut mata Jihan.
Radit mengguyur rambutnya kasar, lalu dia juga mengusap wajahnya kasar pula. "Astagfirullah." Ucap Radit.
Berulang kali Radit mengucapkan istighfar, setelah merasa jauh lebih tenang barulah dia membujuk istrinya. Radit jadi teringat tiga bulan yang lalu saat Istrinya mengalami keguguran.
'Ya Allah, apa Jihah hamil, Alhmdulillah.' Batin Radit merasa begitu bahagia.
Jika dulu dia tidak peka akan kehadiran buah hati permata mereka dari rahmi Jihan, maka Radit tidak mau kejadian itu terulang dua kali.
"Bismillah." Ucap Radit sambil mengelus perut istrinya lembut.
Jihan yang merasakan sentuhan suaminya sontak membuka mata. "Sayang, maafin mas ya nggak peka sama keadaan kamu."
Radit berkata sambil menatap istrinya intens, cahaya kebahagain dapat Jihan lihat jelas dari wajah suaminya.
Jihan kini yang jadi bingung sendiri melihat wajah suaminya. "Ada apa, mas?"
Radit tersenyum sambil tangannya terus mengusap perut datar sang istri. "Besok kita ke rumah sakit ya sayang."
"Untuk apa, mas? Bukan Jihan sudah sembuh."
Jihan padahal tadi sedang menangis dan marah pada suaminya sekarang sekaan tidak terjadi hal apa-apa. Melihat perubahan istrinya yang begitu cepat Radit semakin yakin jika Jihan saat ini tengah hamil.
"Iya kamu memang sudah sembuh sayang, besok kita ke rumah sakit, kedokter kandungan ya."
"Hah! Siapa yang hamil mas?"
"Kamu sayang yang hamil, Insya Allah." Ucap Radit yakin.
Kini tangan Jihan terangkan untuk mengelus perutnya yang masih rata, "Aamiin mas."
Sudah lama sekali Jihan berharap perutnya kembali ada janin disana yang sudah lama dinanti banyak orang termasuk dirinya.
"Bunda harap kamu sudah ada disini nak." Doa Jihan sambil mengelus perutnya.
"Aamiin." Sahut Radit pula.
"Sekarang kita tidur ya, besok kita kedokter kandungan."
"Siap mas suami." Jihan semangat sekali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari setelah mengantar Nafisa sekolah Radit pergi ke kantor lebih dulu, diikuti oleh istrinya. Niatnya Radit dan Jihan akan kedokter kandungan nanti setelah Nafisa pulang sekolah sekalian agar Nafisa juga ikut.
Rasanya Jihan sudah tak sabar menunggu siang datang. Sedari tadi dia terus saja mengelus perutnya yang masih rata, Jihan terus berdoa pada Allah agar amanah itu segera dititipkan pada dirinya.
Waktu bergulir, siang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Radit dan Jihan bergegas menjemput putri mereka di sekolah.
Sampai di sekolah, Nafisa juga sudah berada bersama mereka tidak butuh waktu lama lagi, Radit langsung membawa istri dan anaknya menuju rumah sakit.
"Ayah mau kemana? Ini kan bukan jalan pulang." Heran Nafisa.
"Mau ke rumah sakit dulu sebentar sayang." Jawab Jihan mewakili suaminya.
"Siapa yang sakit, bunda? Bunda sakit lagi?" Nafisa begitu khawatir pada Jihan.
"Tidak sayang, nanti Nafisa tahu kalau sudah di rumah sakit."
Tak lama akhirnya mobil Radit sampai juga di tempat tujuan mereka. Untungnya sampai disana pasien sudah pulang satu persatu, jadi Jihan tak perlu mengantir lagi. Mekera langsung menemui dokter kandungan, Nafisa juga ikut orang tuanya.
"Apa yang ibu Jihan rasakan selama 2 minggu ini?" tanya dokter ramah.
Samabil berusaha memeriksa perut Jihan. "Tidak ada dok, saya meras baik-baik saja." Jawab Jihan apa adanya.
"Benar dok, tapi akhir-akhir ini mood istri saya sering berubah." Tambah Radit.
Dokter itu yang sudah menemukan jawabannya tersenyum pada Jihan.
"Selamat ibu Jihan, anda sudah hamil selama 2 minggu."
"Alhmdulillah." Ucap ketiganya kompak.
"Yee! Nafisa puanya adik, terima kasih ayah budan." Nafisa langsung memeluk bunda dan ayahnya.
Jihan dan Radit memeluk putri mereka sayang. Akhirnya setelah 3 bulan dan 7 tahun Nafisa memiliki adik. Setelah itu dokter menjelaskan pada Jihan dan suami, apa yang yang harus dan tidak boleh dilakukan lebih oleh ibu hamil. Dokter juga menyarankan setelah 6 minggu usia kandungan Jihan untuk kembali lagi agar dapat dilakukan USG.
"Alhamdulillah Ya Rabb, terima kasih amanah ini sudah dititipkan padaku. Bintang bunda harap kamu selalu bahagai di alam sana nak." Batin Jihan mengingat anak pertamanya yang tidak sempat melihat dunia.