
Bismillah.
Hahahahaha!
Nafisa begitu puas mentertawai Puspa, tak disangka Puspa juga bakal kegep oleh suaminya sendiri. Nafisa tidak sadar, jika sedari tadi ada yang memperhatikan tingkah jahilnya itu. Perlahan Jihan melangkah mendekati putrinya, Jihan melangkah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Seru ya, ngerjain orang tua." Ucap Jihan.
"Jelas, lagian orang tua kayak tante itu tidak punya sopan santun, lebih baik dikerjai saja, dari pada semakin ngelunjak." Sahut Nafisa.
Gamblang sekali Nafisa menjawab perkataan Jihan, sampai-sampai membuat Jihan melotot tak percaya.
"Mau diulangi lagi seperti itu?" tanya Jihan lagi.
Masih belum sadar Nafisa, jika yang bertanya itu bundanya, karena Nafisa memang memunggungi Jihan.
"Tergantung, kalau orangnya modelan tante itu, ya bakal Nafisa kerjian lagi biar kapok."
Tanpa Nafisa sadari, dia sudah mengukap kejahilanya sepenuhnya pada Jihan, padahal Nafisa sudah berjanji pada Jihan tidak akan jahil lagi. Bola mata Jihan langsung melebar sempuran mendengar jawaban putrinya. Jihan tau Nafisa hanya ingin memberikan pelajaran pada Puspa. Tapi tetap saja, seperti tadi itu menurut Jihan keterlaluan, ditambah orang yang lebih tua Nafisa kerjai.
Hmmm.
Dehem Jihan akhirnya.
Akhirnya Nafisa sadar, jika yang sedari tadi mengobrol dengan dirinya adalah sang bunda sendiri, perlahan tapi pasti Nafisa memutar tubuhnya untuk menghadap sang bunda.
Jihan tersenyum semanis mungkin pada Nafisa, sebaliknya Nafisa menyengir sambil memasang wajah tengilnya pada Jihan.
"Bunda, sejak kapan bunda disini." Lebih baik pura-pura tidak tau saja.
Dan lebih baik tadi Nafisa pura-pura lupa apa yang baru saja terjadi. "Menurut Nafisa sejak kapan bunda disini?"
Masih berusaha untuk menyungging senyum mansinya Jihan pada sang anak, walaupun aslinya Jihan sudah begitu gemas dengan tingkah putrinya. Ingin sekali Jihan menguyal-unyal muka Nafisa, dia mengerjai putrinya itu, pokonya Jihan ingin membuat Nafisa kesal saja.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Jihan, Nafisa menggelengkan kepalanya, 'Bocah licik.' Batin Jihan.
"Nafisa baru sadar ada bunda disini." Jawabnya jujur.
Memang begitu kenyataannya bukan, Nafisa baru menyadari keberadaan bundanya, sudah begini Jihan pasti akan kalah beradu argumen dengan Nafisa.
Jihan akhirnya duduk di sebelah putrinya. "Nakal ya anak bunda, bilangnya sudah janji tidak mau nakal lagi." Ucap Jihan lembut.
"Habisnya tante itu tadi jelek-jelekin bunda, ya sudah karena Nafisa kesal, tante itu sudah mengatakan bunda yang tidak-tidak Nafisa kerjai saja." Jelas Nafisa mengebu-ngebu.
Jika menyangkut masalah bundanya Nafisa tidak bisa terima sama sekali, melihat kesungguhan Nafisa, Jihan langsung membawa putrinya ke dalam pelukannya.
"Terima kasih sayang, sudah begitu menyanagi bunda."
Nafisa ikut memeluk bundanya. "Tidak ada yang boleh menyakit bunda, termasuk ayah, Nafisa akan selalu menjaga bunda." Balas Nafisa.
Tes!
Setetes air mata haru langsung turun begitu saja dari netra Jihan, tak Jihan sangka Nafisa akan begitu menyayangi dirinya. Kedunya sedang asyik berpelukan, tidak sadar jika ada mobil berhenti di hadapan mereka berdua.
'Kerjain lah.' Batin Ayu.
Mobil opa Amran memang baru saja sampai, jelas bukan siapa yang lebih dulu mengajak perang bukan Nafisa tapi kak Ayu. Perlahan-lahan Ayu mendekati Jihan dan Nafisa.
"Sudah jangan menangis bunda, Nafisa tidak mau lihat bunda sedih." Ucapnya.
Jihan menagkup pipi Nafisa menggunakan kedua tangannya. "Bunda terharu Nafisa, bunda beruntung bisa memiliki putri seperti Nafisa."
"Nafi-."
Dor!
Ayu membuat Kaget Jihan dan Nafisa, padahal Nafisa belum selesai bicara.
"Astagfirullah." Kaget kedunya.
"Kak Ayu!" teriak Nafisa sekencang mungkin.
Jihan sampai membekap mulut putrinya, teriakan Nafisa terdengar sampai dalam rumah, semua orang menghentikan aktivitas mereka secara bersama mendengar teriakan Nafisa.
"Assalamualaikum." Salah Ayu akhirnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Nafisa ketus.
Nafisa langsung bangkit menemui opa dan omanya, "Opa, oma." Teriak Nafisa kegirangan.
Ayu hanya mampu mendengus kesal, diabaikan begitu saja oleh keponakannya itu.
"Dasar bocah." Gumun Ayu.
Tapi Ayu tetap menyalami mbak Jihan, Jihan juga langsung bangkit menghampiri mertuanya dan membantu membawakan barang-barang mereka.
"Radit dimana Jihan?" tanya oma Rifa penasaran.
Jihan tersenyum pada mertuanya sebelum menjawab pertanyaan itu "Ada dibelakang Ma."
"Sedang apa anak nakal itu Jihan?" Kini opa Amran ikut bertanya pula.
Mereka semua sambil berjalan masuk ke rumah. "Sedang mengobrol bersama bapak-bapak di belakang pa." Jawab Jihan apa adanya.
Sontak mendengar perkataan Jihan, opa Amran dan oma Rifa saling pandang, bingung anak mereka bisa berintraksi baik dengan orang lain.
"Sepertinya Radit banyak berubah ma." Komentar opa Amran.
"Betul opa, papa bahkan nyemplung ke sawah." Timbal Nafisa begitu antusias..
Opa Amran dan oma Rifa kembali saling tatap satu sama lain. "Sepertinya bocah es batu itu sudah mencari pa."
Jihan merasa tidak enak pada mertuanya, apalagi mengetahui Radit sampai ke sawah pula.
'Astagfirullah.' Batin Jihan sudah takut sendiri.
Lamunan Jihan buyar, kala suami, bapak, ibu dan adiknya menghampiri mereka.
"Ya Allah, ibu Rifa maat tidak menyambut, aku tidak mendengar suara mobil tadi." Ucap ibu Kasih merasa tidak enak.
"Tidak papa ibu Kasih." Sahut oma Rifa.
Semuanya saling bersalaman satu sama lainnya, "Radit bawa masuk barang-barang yang ada di mobil." Suruh opa Amran pada putranya.
"Baik pa."
"Biar Jihan bantu pa." Sahut Jihan, Jihan tak pernah tega melihat suaminya kerja berat-berat.
"Tidak usah Jihan sayang, kamu disini saja, itu memang tugas Radit." Cegah oma Rifa.
"Tapi Ma."
"Sudah tidak apa." Sahut opa Amran juga.
"Bantu mas mu dulu Raf." suruh bapak Joni merasa tidak enak pada besanya.
"Baik bapak."
Rafli langsung menyusul Radit.
Kedua laki-laki itu menurunkan barang-barang yang dibawa mereka dari kota J.
"Astagfirullah, banyak sekali yang dibawa mama." Kaget Radit.
Rafli menepuk pelan pundak mas iparnya, "Ada apa mas?" bingung Rafli.
Radit yang tau suara barusan milik Rafli, sedikit menggeser tubuhnya agar Rafli bisa melihat isi di dalam mobil itu begitu banyak barang-barang. Rafli ikut melihat ke dalam mobil, nyatanya reaksi Rafli dan Radit berbeda, jika Radit kaget atas barang-barang yang mamanya bawa. Berbeda dengan Rafli, dia malah menatap berbinar semua barang-barang di dalam mobil itu.
"Masya Allah banyak sekali yang oma bawa."
"Ayo mas kita turukan semua." Ajak Rafli.
Radit hanya bisa pasrah, Radit tau jika kedua orang tuanya sedang mengerjai dirinya, yakin sekali Radit. Setelah diam sejenak barulah Radit membantu Rafli menurukan semua barang-barang itu.
Di dalam rumah kedua orang tua Jihan, semua orang sedang mengobrol, para tetangga juga sudah satu persatu pamit pulang. Mereka lewat jalan belakang, niatnya nanti barang-barang yang oma bawa, separonya akan dibagikan pada tetangga.